
Edward duduk berlutut kemudian menekan - nekan dada Alona dan sekali - sekali memberikan nafas buatan.
"Maafkan aku Alona, aku sangat menyayangi nenekku ketika mengetahui kabar itu aku tidak bisa menahan kemarahan ku," ucap Edward yang sangat menyesal atas apa yang barusan dilakukan.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk .."
Edward berusaha menekan dada Alona hingga beberapa saat Alona terbatuk-batuk membuat Edward bernafas lega kemudian Edward menggendong istrinya ala bridal style menuju ke arah ranjang dan meletakkan secara perlahan.
Alona perlahan membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu.
"Kenapa aku diselamatkan? Bukankah jika aku tiada suamiku sangat bahagia?" tanya Alona dengan nada lirih dan tidak berapa lama air matanya keluar.
"Aku..." ucapan Edward terpotong karena tiba - tiba ponselnya berdering membuat Edward mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Mommy," ucap Edward.
Edward menggeser tombol warna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.
("Hallo mom," panggil Edward).
("Edward, bawa Alona ke rumah sakit sekarang," perintah Mommy Delisa).
("Memangnya ada apa Mom?" tanya Edward dengan wajah bingung).
("Nenek sejak tadi memanggil Alona," jawab Mommy Delisa).
("Nenek sudah sadar Mom?" tanya Edward tidak percaya dengan apa yang di dengarnya).
("Sudah, cepatlah ke sini," ucap mommy Delisa).
("Baik Mom tapi kami ingin mandi dulu," jawab Edward patuh).
("Ok," jawab Mommy Delisa singkat).
__ADS_1
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Mommy Delisa.
"Ganti pakaian, nenek ingin bertemu denganmu di rumah sakit," ucap Edward sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Baik," jawab Alona singkat.
Alona turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil satu stell pakaian.
"Aku ingin mandi dulu karena badanku sangat lengket," ucap Alona sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian karena dirinya ingin mandi di kamar satunya.
Ceklek
Alona membuka kamar mandi dan melihat kamarnya kosong membuat Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Alona melihat ponsel milik Edward tergeletak di atas meja entah kenapa Alona memberanikan dirinya untuk mengambilnya kemudian berjalan ke arah pintu untuk mengunci kamarnya.
Alona mencari aplikasi rekam kemudian Alona mulai merekam semua perasaan yang menyesakkan di dadanya hingga dirinya mendengar suara langkah kaki menuju ke arah kamarnya membuat Alona menghentikan kegiatannya.
Alona berjalan ke arah meja dekat ranjang kemudian men lap ponsel milik Edward yang basah akibat dirinya menangis setelah itu barulah meletakkan ponsel tersebut di tempat semula.
Ceklek
Ceklek
Tok tok tok tok
"Alona!!" teriak Edward dari luar.
Alona membuang tisu tersebut di tong sampah kemudian berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah pintu kamar.
__ADS_1
Tok tok tok tok
"Alona!! Jika tidak di buka pintunya, aku dobrak!!" teriak Edward lagi dari luar.
Brak
Grep
Alona memutar kunci kamar bersamaan Edward mendorong pintu kamar tersebut dengan kasar membuat Alona nyaris terjatuh jika saja Edward tidak memeluknya.
"Kenapa kamarnya di kunci?" tanya Edward dengan nada kesal.
"Maaf," ucap Alona singkat sambil menundukkan wajahnya sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher Edward..
"Lain kali jangan ulangi lagi," ucap Edward sambil melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah meja untuk mengambil ponselnya.
"Iya," jawab Alona patuh.
("Tidak ada kata ulangi lagi karena setelah ini kita tidak bertemu lagi," sambung Alona dalam hati).
"Kita pergi sekarang dan ingat jangan pernah katakan kalau aku baru saja men ce kik lehermu," ucap Edward.
"Tuan Edward tenang saja, aku tidak akan mengatakannya," jawab Alona mengubah panggilannya sambil berjalan ke luar dari kamarnya mendahului Edward.
Edward hanya diam saja namun entah kenapa hatinya sangat tidak suka jika Alona memanggil dirinya dengan sebutan tuan. Edward mengikuti langkah istrinya hingga mereka sudah sampai di lantai satu.
Alona masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang pengemudi sedangan Edward duduk di samping dirinya.
"Pulang dari rumah sakit pergi ke gudang sebelah," perintah Edward dengan nada dingin.
"Baik tuan," jawab sopir tersebut dengan patuh.
("Si*l jika aku mau kabur tapi paman sopir kasihan karena akan mendapatkan hukuman, apa yang harus aku lakukan?" tanya Alona dalam hati)
__ADS_1