Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Kemarahan Edward


__ADS_3

"Untuk membeli rumah mungil, kakak sudah lama ingin memiliki sebuah rumah mungil di mana halamannya nanti kakak tanam sayur dan buah," ucap Alona.


"Kenapa tidak transfer saja kak?" tanya Eden.


"Pemilik rumah itu tidak punya bank makanya pemilik rumah minta uang Cash," ucap Alona yang memang berencana mau membeli rumah mungil untuk bersembunyi dan menyimpan barang berharga.


"Baiklah kak, aku gesekan kartu kakak," ucap Eden sambil menggesek kartu debit milik Alona tanpa curiga sedikitpun.


Eden memberikan mesin edc dan Alona menekan pin sebanyak enam kemudian memberikan kembali mesin edc tersebut.


"Oh ya kalau pakaiannya sudah jadi tolong di bungkus dengan menggunakan kotak ukuran besar dan masukkan amplop ini ke dalam kotak." ucap Alona sambil membuka tas dan mengambil amplop berwarna pink.


"Baik kak, aku tidak menyangka kalau kak Alona ternyata sangat mencintai kakak kembarku," ucap Eden sambil tersenyum bahagia dan menyerahkan kartu debit milik Alona.


Eden membuka brangkas kemudian mengambil uang seratus lima puluh juta dan diberikan ke Alona.


"Tentu saja, kakak berharap suatu saat nanti kamu menemukan laki - laki yang sangat tulus mencintaimu," jawab Alona sambil membalas senyuman Eden dan menerima kartu debitnya berikut uangnya.


Alona menyimpan uangnya ke dalam tas nya dan di tutup dengan rapat.


"Amin,'' jawab Eden.


"Kakak mau pulang dulu, kapan - kapan kita ketemu lagi," pamit Alona sambil turun dari sofa.


"Hati-hati kak," ucap Eden sambil cipika cipiki.


"Terima kasih, kamu juga hati - hati kalau pulang kerja dan ingat pesan kakak supaya kamu dan kak Edward saling sayang menyayangi dan jangan saling menyakiti," pesan Alona sambil tersenyum namun hatinya sangat terluka.


"Itu sudah pasti kak," jawab Eden.


Alona melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkan Eden sendirian.


"Kenapa aku merasa perkataan kak Alona mengandung sesuatu? Karena ketika mengatakan itu mata Alona langsung berkaca-kaca. Selain itu walau tersenyum tapi matanya terlihat dengan jelas kesedihan dan kesepian serta penderitaan," ucap Eden.


"Mungkin hanya perasaanku saja, yang penting aku mengerjakan pakaian untuk kak Edward. Pakaian kerja kak Edward sangat bagus dan belum ada yang memilikinya," ucap Eden sambil memandangi sketsa buatan Alona.


xxxxx


Alona berjalan menuruni anak tangga satu demi satu hingga dirinya melihat sopirnya masih setia menunggu dirinya.


"Maafkan Alona paman, kalau lama karena ternyata pemilik butik ini Eden adiknya kak Edward," ucap Alona tidak enak hati.


"Maaf Nyonya saya sudah tahu dan saya pikir Nyonya tahu juga." ucap sopir tersebut sambil turun dari sofa.


"Aku tidak tahu paman," jawab Alona sambil berjalan.


"Sekarang kita pulang Nyonya?" tanya sopir tersebut.


"Iya kita pulang, kalau di tanya suamiku jangan bilang habis beli cincin, gelang untuk kalian dan pakaian untuk suamiku," pinta Alona sambil berjalan.


"Lalu bilangnya apa Nyonya?" tanya sopir tersebut dengan bingung sambil mengikuti langkah Alona.


"Bilang saja aku habis keliling mall tapi tidak beli apa-apa karena memang kita tidak membawa apa-apa," ucap Alona.


"Cincin dan gelang boleh paman katakan di saat ulang tahun suamiku," ucap Alona.


"Baik Nyonya," jawab sopir tersebut.


Ketika mereka sudah sampai di parkiran mobil dan berada di dalam mobil tiba tiba ponsel milik sopir tersebut berdering membuat sopir tersebut mengambil ponselnya dari saku jasnya.


"Tuan muda, Nyonya," ucap sopir tersebut.


"Kalau suamiku tanya bilang saja seperti yang tadi aku katakan," pinta Alona.


"Baik Nyonya," jawab sopir tersebut dengan patuh.


Sopir tersebut menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya di telinganya.


("Hallo tuan," panggil sopir tersebut)


("DARI TADI BELUM PULANG, KEMANA SAJA HAHH!!" teriak Edward)


Suara yang keras membuat sopir tersebut menjauhkan ponselnya dari telinganya sambil mengusap telinganya yang berdering.


("Pasti ada masalah, Alona bersiaplah untuk berpikir kabur dari mansion," ucap Alona dalam hati yang bisa menebak kemarahan Edward pasti ada hubungannya dengan dirinya).


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku dengan judul :



Dokter Kennath dan dokter Maria berjalan dan masuk ke dalam kamar hotel milik Alvonso.


Dokter Maria masuk kedalam kamar mandi membuka gaun pengantin dan aksesoris yang menempel di tubuhnya sedangkan dokter Kennath melepaskan seluruh pakaian hanya tinggal boxer nya.


Setelah semua terlepas gaun dan semua aksesoris, Maria langsung mandi air hangat menggunakan shower. Selesai mandi dokter Maria mengambil jubah handuk dan handuk kecil melilit di leher dokter Maria.


Dokter Kennath yang melihatnya langsung bengong menatap keseksian sang istri.

__ADS_1


( " Sial kenapa aku jadi tera****ng begini? apa jangan - jangan minuman itu mengandung obat peran***g." batin dokter Kennath )


Karena sudah tidak tahan dokter Kennath membawa istrinya dokter Maria dan membaringkannya di ranjang. Dokter Kennath menindihnya kemudian **********.


Maria yang juga terkena obat perans***gpun bermain dengan buas sampai berapa kali penyatuan. Akhirnya mereka berdua tumbang karena kelelahan sampai pagi.


XXXX


Di kamar Ronald dan Clarisa masuk ke kamar mandi bergantian untuk mencuci muka dan sikat gigi karena sudah malam.


Clarisa yang menunggu suaminya di kamar mandi merasakan tubuhnya panas. Clarisa membuka seluruh pakaiannya hingga tidak menggunakan sehelai benangpun.


Ronald yang di kamar mandi juga merasakan tubuhnya mulai panas membuatnya membuka seluruh pakaiannya hingga polos.


ceklek


Pintu terbuka keluarlah Ronald, Ronald terkejut melihat istrinya tubuhnya polos karena pengaruh obatnya sangat kuat membuat Ronald menerkam istrinya.


Terjadilah penyatuan berulang - ulang sampai


akhirnya mereka berdua tumbang karena kelelahan sampai pagi.


XXXXX


Di ruangan kamar Alvonso, Laras sedang beristirahat di ranjang menunggu suaminya di kamar mandi.


Laras merasakan seluruh tubuhnya panas, Laras berfikir mungkin efek hamil. Laras pun melepaskan seluruh pakaiannya.


Karena efeknya tidak hilang Laras mengambil remote AC untuk menurunkan suhunya agar kamarnya menjadi dingin.


ceklek


Pintu terbuka keluarlah Alvonso, Alvonso terkejut melihat istrinya tubuhnya polos karena pengaruh obatnya sangat kuat membuat Alvonso menerkam istrinya.


Alvonso melakukan berulang - ulang karena efek obat perangsang sangat kuat, Laras yang terkena obatnya juga bermain agak liar.


Sampai akhirnya mereka berdua tumbang karena kelelahan sampai pagi.


XXXXX


Hari sudah berganti pagi tapi tiga pasangan tersebut belum juga terbangun dari tidurnya.


Tiga kembar dan mamanya Alvonso menunggu kedatangan mereka tapi karena tidak ada tanda - tanda mereka tidak datang membuat omanya meminta ke tiga cucunya untuk makan terlebih dahulu.


Selesai makan mereka menunggu kedatangan mereka tapi belum juga turun ke lantai satu.


" Oma, kenapa Daddy dan Mommy tidak turun untuk sarapan?" tanya Alviana polos


" Kita naik ke atas ya Oma, takutnya Mommy, mama, Bunda, Daddy, Paman Kennath dan Paman Ronald pingsan lagi." ucap Alvonso junior.


" Oh tidak usah di bangunin mungkin mereka kecapaian." jawab omanya.


"Memangnya kecapaian apa Oma?" tanya Alviana polos


( Waduh, kecapaian apa ya?masa aku bilang habis kecapaian main gituan!" batin mama Ronald)


" Kecapaian habis acara pernikahan paman Kennath dan Mama Maria." ucap oma


"Lho oma saja tidak kecapaian masa Mommy, mama, Bunda, Daddy, Paman Kennath dan Paman Ronald yang masih muda sudah cape?" protes Alvonso junior


" Oma kan tadi langsung tidur bareng kalian jadi bisa bangun pagi sedangkan orang tua kalian dan dua paman serta mama dan bunda belum tidur." ucap omanya


( "untung aku pinter jawabnya kalau tidak kepalaku lebih pusing mendengarnya." batin mama Alvonso)


" Itu mereka datang." kata Oma sambil menunjuk ke arah tangga.


Tampak Alvonso bergandengan tangan dengan Laras, Ronald bergandengan tangan dengan Clarisa sedangkan dokter Kennath bergandengan tangan dengan dokter Maria.


Hanya bedanya ke tiga pria tampan tersebut tersenyum bahagia, sedangkan Laras dan Clarisa terasa lemas dan mengantuk sedangkan dokter Maria berjalan perlahan karena bagian intimnya terasa perih.


" Mommy, Mama dan Bunda, kenapa leher Mommy, Mama dan bunda banyak merahnya? nyamuknya nakal ya gigitannya sangat besar?" tanya Alvian polos


Semua saling menatap kecuali ke tiga pria tampan siapa lagi kalau bukan Alvonso, Ronald dan dokter Kennath karena mereka bertiga lah pelaku utamanya.


" Oh ini... " jawab mereka bersamaan


Laras, Clarisa dan Maria berfikir apa jawaban untuk ke tiga anaknya.


" Ini di gigit nyamuk." jawab Laras, Maria dan Clarisa serempak.


" Kok bisa samaan memangnya seperti nyamuknya segede apa sih Mom?" tanya Alvonso junior


" Bilang sama kita Mommy, Mama dan Bunda, biar kita bertiga yang akan memukulnya." ucap Alviana semangat


" Iya Mom, Mam dan Bun biar kita pukul supaya tidak menggigit Mommy, Mama dan Bunda lagi" ucap Alvian sambil mengepalkan tinjunya.


" Daddy, paman Kennath dan Paman Ronald kenapa tidak bantuin mukul nyamuknya?" protes Alvonso junior


" Iya nih, Daddy, paman Kennath dan Paman Ronald tidak sayang sama Mommy, Mama dan Bunda ya?" tanya Alviana sambil matanya mulai berkaca

__ADS_1


" Tidak sayang Daddy, paman Kennath dan Paman Ronald ikut membantu mukulin tapi nyamuknya kabur." ucap Alvonso asal


" Kenapa bisa kabur?" tanya Alvian selidik


" Mommy, Mama dan Bunda tidak tega kalau Daddy dan Paman mukulin nyamuknya." ucap Alvonso asal


" Mommy, Mama dan Bunda kenapa tidak tega? ini sudah dua kali Mommy, Mama dan Bunda di gigit nyamuk." tanya Alviana heran


" Kasihan sayang kalau di pukul nanti anaknya kasihan nyariin." jawab Laras kikuk


" Ohh..." ucap mereka bertiga serempak walau masih bingung.


" Anak - anak sudah makan?" tanya Laras lembut sengaja mengalihkan perhatiannya.


" Kami sudah makan Mom." jawab mereka serempak.


" Kami mau makan dulu ya sayang." pinta Mommy ke tiga anaknya.


" Ok Mom." jawab mereka serempak.


Merekapun makan dengan lahap tanpa bersuara. Selesai makan semua piring di bawa oleh para pelayan kini mereka berkumpul di ruang keluarga khusus di hotel karena hotel tersebut milik Alvonso.


Tiba - Tiba tangan Alvonso di tarik oleh Ronald.


" Bro, ikut kita yuk? Ronald kamu juga ikut ada yang ingin ku bicara kan." pinta doker Kennath.


" Di sini saja." pinta Alvonso karena sudah tahu apa yang ditanyakan sahabatnya.


" Tidak enak, ayolah?" pinta dokter Kennath.


Akhirnya Ronald, Alvonso dan dokter Kennath masuk ke kamar yang di lantai dua sedangkan Laras, Maria dan Clarisa mengobrol dengan ke tiga anaknya dan mamanya Alvonso.


XXXXX


Alvonso, Ronald dan dokter Kennath duduk saling berhadapan.


" Al, tolong jawab yang jujur? apakah ini ide mu memberiku dan istriku obat perangsang?" tanya dokter Kennath menatap dengan tajam.


" Apa maksudmu Ken? kamu menuduhku?" tanya Alvonso


" Bukannya menuduh, tapi aku tahu sifat mu yang usil itu Al?" tanya dokter Kennath


" Hahahaha.... emang aku yang usil." jawab Alvonso sambil tertawa


" Termasuk malam pertama Ronald?" tanya dokter Kennath


" Iya." jawab Alvonso tanpa dosa


" ALVONSO" teriak mereka bersamaan


" Jangan teriak, kalian merasa enak kan seharusnya kalian senang donk langsung main tanpa bingung mau ngapain, seharusnya kalian berterima kasih padaku." protes Alvonso


" Iya... iya... terima kasih, tapi jangan di ulangi lagi." jawab dokter Kennath


" Berarti semalam aku di kasih obat juga soalnya tubuhku terasa panas." jawab Ronald.


" Tunggu sebentar." ucap Alvonso sambil mengirim pesan ke seseorang.


tok


tok


tok


" Masuk." ucap Alvonso


Ceklek


Pintu terbuka dan masuklah dua orang pelayan mereka menunduk takut.


" Semalam aku memintamu apa?" tanya Alvonso


" Maaf tuan waktu semalam tuan meminta minuman dokter Kennath dan tuan Ronald diberi obat perangsang." jawab pelayan itu


" Lalu kenapa aku bisa kena juga? " bentak Alvonso


" Maaf tuan semalam saya sakit perut terus saya minta tolong teman saya tapi teman saya orangnya pelupa jadi minumannya di kasih semuanya." jawab pelayan itu


" Ya sudah pergilah." usir Alvonso


Ke dua pelayan itupun pergi. Ronald dan dokter Kennath saling memandang betapa jahilnya Alvonso.


" Al, aku ingin kamu jawab jujur pas main dengan istrimu, istrimu keluar darah tidak?" tanya dokter Kennath kuatir


" Tidak? kenapa." tanya Alvonso balik


" Berarti kandungan istrimu kuat, jangan ulangi Al bahaya buat janin istrimu, walau sekarang aku sudah tahu betapa enaknya bercinta tapi jika istri hamil jangan sering - sering main bahaya buat istri dan juga calon bayinya." nasehat dokter Kennath


" Iya, terima kasih Ken atas nasehatnya dan maaf ya buat kalian berdua." pinta Alvonso

__ADS_1


" Kamu benar - benar ya Al, iseng banget." jawab dokter Kennath.


Alvonso hanya tersenyum sedangkan Ronald hanya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2