
"Daddy senang mendengarnya, kalau Delisa dapat merubah sifatnya kamu boleh memikirkan untuk kembali dengan Delisa," ucap Opa Nathan.
"Iya Dad," jawab Delon.
"Bagaimana Edward, apakah masih ada yang sakit?" tanya Delon dengan wajah kuatir.
"Sudah mendingan Dad." jawab Edward.
"Syukurlah." jawab Delon.
"Oh iya Dad, besok Daddy bisa kan ke perusahaan karena Edward masih terluka." pinta Edward.
"Tentu saja bisa. Apakah ada masalah di perusahaan?" tanya Delon.
"Ada Dad, laporan keuangan perusahaan mengalami masalah nanti Daddy di bantu sama sekretaris Edward." ucap Edward.
"Ok," jawab Delon dengan singkat.
Mereka pun mengobrol hingga akhirnya satu persatu pergi meninggalkan ruang perawatan dan hanya menyisakan Edward dan Delon.
xxxxxxxxxxxx
Satu Bulan Kemudian
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya, Edward kini sudah sehat dan bisa beraktifitas kembali seperti biasanya sedangkan Delon sibuk dengan perusahaan miliknya yang berada di luar negri.
Edward sangat bahagia karena ternyata istrinya masih hidup, istrinya kembali atas permintaan Delon karena Edward tidak ada semangat untuk hidup.
xxxxxxxxxx Flash Back On xxxxxxxxxx
"Edward, kenapa wajahmu seperti orang tidak semangat hidup?" Tanya Delon ketika mereka berada di mansion milik Delon.
"Edward sangat merindukan Alona, Dad." Jawab Edward dengan mata berkaca-kaca.
"Jika seandainya Alona masih hidup, apakah Kamu akan menyakiti hati dan fisiknya?" Tanya Delon.
"Tidak Dad, Edward tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Jawab Edward dengan nada penuh keyakinan.
Tanpa menjawab ucapan Edward, Delon menjentikkan jarinya dan tidak berapa lama datang orang tua Delon dan Alona istri dari Edward.
"Alona." Panggil Edward sambil berjalan ke arah Alona.
"Iya Kak." Jawab Alona.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Edward sambil memeluk Alona.
"Aku juga." Jawab Alona sambil membalas pelukan suaminya.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian Edward menatap Delon, Opa Nathan dan Oma Maya secara bergantian.
"Oma, Opa dan Daddy, kenapa menyembunyikan Alona?" Tanya Edward penasaran.
"Oma sengaja menyembunyikan Alona karena Kamu dan Mommymu dan keluarga Alona sering menyiksa baik fisik maupun hatinya." Jawab Oma Maya menjelaskan.
"Jika Kamu mengulangi kesalahan yang sama maka Alona akan Opa jodohkan dengan anak rekan bisnis Opa." Ucap Opa Nathan dengan nada mengancam.
"Jangan Opa, Edward janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Janji Edward.
"Opa percaya sama Kamu dan Opa harap untuk sementara jangan Kamu kenalkan Alona dengan Mommymu." Pinta Opa Nathan.
"Tenang saja Opa." Jawab Edward dengan nada penuh keyakinan.
Sejak saat itu Edward benar-benar berubah, tidak lagi menyiksa ataupun menghina istrinya. Alona sangat bahagia melihat suaminya sudah mulai berubah.
xxxxxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxxxx
Hingga suatu ketika Delisa jatuh dari tangga dan di bawa ke rumah sakit oleh sopir dan kepala pelayan karena kedua anak kembarnya dan cucu kesayangannya pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Hal itulah yang membuat Delisa jatuh dari tangga.
xxxxxxxxxx Flash Back On xxxxxxxxxx
Terjadi keributan di mansion milik Delisa di mana Delisa kedatangan tamu tak di undang yaitu Arsene menantunya Delisa. Arsene datang bersama Edward putra sulungnya Delisa dengan Delon.
Arsene ingin menemui istrinya yang bernama Eden dan putrinya yang bernama Dela untuk mengucapkan selamat berpisah karena Arsene sudah mantap untuk menceraikan istrinya.
Ceklek
__ADS_1
Edward membuka pintu dan masuk ke dalam dengan diikuti oleh Arsene. Arsene melihat Delisa, Eden dan Dela yang sedang asyik mengobrol tanpa menyadari kalau Arsene berada di belakang Edward.
"Edward / Kak Edward," panggil Delisa dan Eden bersamaan.
"Ada orang yang ingin bertemu dengan Mommy dan Eden." ucap Edward sambil menggeser kan tubuhnya ke arah samping tanpa menjawab panggilan Delisa dan Eden.
"Kak Arsene." Panggil Eden dengan wajah terkejut sekaligus bahagia karena bisa bertemu dengan pria yang dicintainya.
"Apa kabar Eden?" tanya Arsene basa basi.
"Seperti yang Kak Arsene lihat, ke dua kakiku lumpuh dan putri kita buta," Jawab Eden dengan wajah sedih.
"Kenapa lama tidak datang ke sini?" Tanya Eden.
"Kakak banyak pekerjaan karena itulah tidak bisa datang." Jawab Arsene.
Ketika Edward sedang sakit Arsene dihubungi oleh Eden untuk menemaninya ke rumah sakit. Awalnya Arsene tidak bersedia namun calon istrinya yang bernama Angel memintanya untuk menemani Eden karena Eden mengalami buta dan butuh support dari Arsene.
"Ini semua gara-gara kamu Arsene, putriku jadi seperti ini,'' ucap Delisa dengan wajah kesal.
Arsene menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap Delisa dengan tatapan kesal.
"Salahku? seharusnya sebelum bicara mikir dulu jangan menyalahkan orang lain." ucap Arsene dengan wajah kesal.
"Cih ... Mentang-mentang ada perempuan yang tidak tahu diri itu kamu jadi berani!" teriak Delisa.
"Cukup! Jangan pernah menjelekkan Angel karena Angel lebih baik dari Adikmu!" teriak Arsene sambil menatap tajam ke arah Delisa.
"Dasar kurang aj*r!" bentak Delisa sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Jangan pernah mencoba menyentuhku," ucap Arsene yang tidak kalah keras suaranya sambil menahan tangan Delisa.
"Ini sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Angel?" tanya Eden dengan wajah bingung.
"Angel calon istriku dan aku ingin kamu menandatangani surat perceraian kita," jawab Arsene dengan nada tegas dan dingin sambil melepaskan tangan Delisa.
"Tidak, aku tidak mau kita bercerai. Apa kamu tidak kasihan melihatku lumpuh dan putri kita buta?" tanya Eden sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Maaf, kakak akan tetap menceraikan mu karena perbuatan mu membuat Kakak jadi gi*a dan masuk rumah sakit jiwa dan untunglah Angel menyelamatkan Aku dari keterpurukan," jawab Arsene yang sudah sangat kecewa dengan Delisa terlebih dengan istrinya yang bernama Eden.
"Aku tidak percaya, ini pasti hanya ide gi*a dari wanita murahan itu," ucap Delisa dengan nada sarkas.
'Apakah Nyonya Delisa ingin Aku bongkar rahasia masa lalu Nyonya di depan ke dua anak kembar Nyonya Delisa? Di mana Nyonya Delisa menjebak seorang pria agar bisa dinikahi.' bisik Arsene sambil menarik tangan Delisa agar dekat dengan dirinya.
Arsene yang awalnya memanggil Delisa dengan sebutan Mommy kini berubah menjadi Nyonya karena dirinya sudah tidak menganggap Delisa sebagai Ibu mertuanya.
"Kamu ..." ucapan Delisa terpotong oleh Arsene.
'Atau Nyonya ingin aku umumkan ke dunia kalau Dela bukan putri kandungku? Aku ingin tahu bagaimana perasaan Dela ketika mengetahui kalau Aku bukan Ayah kandungnya.' bisik Arsene sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu ..." ucapan Delisa terpotong lagi oleh Arsene.
'Nyonya dan Eden sudah bekerjasama menghancurkan mansion ku dan mengambil asuransi mansion milikku di tambah asuransi jiwa milik Eden dan Dela karena mereka berdua dinyatakan meninggal dunia. Aku tidak akan segan-segan melapor ke polisi kalau kalian sudah melakukan tindakan penipuan. Apakah kalian siap masuk penjara?' tanya Arsene sambil masih berbisik.
"Suruh putri kesayanganmu tanda tangani surat perceraian kalau tidak maka Aku tidak segan-segan melakukan apa yang barusan Aku katakan." ucap Arsene sambil menatap Delisa yang wajahnya mulai pucat pasi.
"Eden, tanda tangani surat perceraian, cepat!" Perintah Delisa.
"Tapi Mom ..." ucapan Eden terpotong oleh Delisa.
"Tidak ada tapi-tapian, lakukan atau Mommy akan bunuh diri," ancam Delisa yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Arsene berjalan ke arah Eden kemudian menyerahkan selembar kertas surat perceraian.
"Daddy, Aku buta kenapa Daddy dan Mommy bercerai?" tanya Dela dengan wajah penuh kecewa.
"Maafkan Daddy, ini semua gara-gara ulah Oma Delisa dan Mommy mu yang membuat Daddy terpaksa melakukan ini." ucap Arsene yang tidak tega dengan Dela karena bagaimanapun dirinya ikut andil merawat Dela sejak bayi sampai Dela belum menikah.
"Apa karena wanita yang tidak punya malu itu maka Daddy ingin bercerai dengan Mommy?" tanya Dela sambil menahan amarahnya.
"Jangan pernah menyalahkan Angel tapi salahkan Oma Delisa dan Mommymu yang membohongi Daddy dengan berpura-pura kalau kalian meninggal dunia." ucap Arsene sambil menahan kesal terhadap putri tirinya karena menjelekkan calon istrinya.
Arsene sangat tidak suka ketika ada yang menjelekkan Angel karena bagi Arsene kalau Angel adalah seorang malaikat yang tidak bersayap di mana saat itu Angel menyelamatkan hidup Arsene dari kegelapan.
"Kami memang salah, tapi apakah tidak ada kesempatan ke dua untukku?" tanya Eden yang tidak ingin dirinya bercerai.
__ADS_1
"Kakak sudah menerima dirimu apa adanya dan itu sudah kesempatan ke dua tapi apa yang Aku dapatkan? Kalian membohongi diriku dengan pura-pura kalian berdua meninggal dunia dan hal itu membuatku menjadi gi*a," jawab Arsene dengan nada dingin dan berwajah datar.
"Kalau begitu kesempatan ketiga," pinta Eden berusaha agar tidak bercerai.
"Kesempatan ke tiga waktu Aku sangat sedih kehilangan kalian berdua tapi kalian malah jalan-jalan ke luar negri dan bersenang-senang. Jadi kesempatan itu sudah tidak ada lagi," jawab Arsene dengan tegas.
"Tanda tangani surat perceraian." Sambung Arsene yang tidak ingin berlama - lama.
"Tidak," jawab Eden dengan nada tegas.
"Kalau begitu kakak akan laporkan kamu dan Mommymu kalau kalian berdua telah menipu pihak asuransi dan bisa terancam di penjara," ucap Arsene dengan nada tegas dan tidak punya rasa empati sedikitpun.
"Kakak tega melakukan itu padaku?" tanya Eden dengan wajah terkejut.
''Kenapa tidak tega? Sekarang tanda tangani atau kita bertemu di pengadilan," ancam Arsene yang tidak memperdulikan perasaan Eden.
"Eden, lebih baik tanda tangani surat perceraian kalian." ucap Edward yang sejak tadi diam menyaksikan Eden dan Arsene berdebat.
Sebenarnya Edward tidak tega melihat kondisi Eden yang sedang lumpuh namun kesalahan Eden terlalu fatal karena itulah Edward tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Edward, Aku sangat mencintai Kak Arsene dan tidak ingin bercerai," ucap Eden dan tidak berapa lama air matanya keluar.
"Edward tahu, tapi perbuatanmu di masa lalu membuat Arsene tidak bisa memaafkan kesalahanmu jadi lepaskan Arsene dan memulai hidup baru," jawab Edward dengan kata bijaknya.
"Arsene, apakah kamu tega melihat Eden menangis?" tanya Delisa dengan nada memohon untuk ke dua kalinya.
Delisa memohon sambil berlutut untuk pertama kalinya di depan Arsene agar mau menikah dengan putri kandungnya karena saat itu Eden ingin bunuh diri terlebih saat itu putrinya sedang hamil anak dari mantan suaminya yang pertama.
Delisa memohon sambil berlutut untuk ke dua kalinya ketika Arsene datang untuk menceraikan Eden. Sebenarnya Delisa tidak mau melakukan hal itu tapi karena melihat Eden sedih membuat Delisa terpaksa melakukannya.
"Aku sudah berapa kali mengalah tapi kalian berdua sangat egois. Kalian tidak pernah tahu bagaimana waktu itu Aku sangat sedih kehilangan istri dan putriku. Hal itu membuatku menjadi gi*a terlebih Nyonya yang sudah tahu .. eh bukan tepatnya kalian bersekongkol kalau ternyata istri dan anak kami masih hidup tapi masih saja datang ke rumah orang tuaku dan menyalahkan Aku membuatku semakin bertambah bersalah. Aku tidak bisa memaafkan kalian lagi karena kesalahan kalian sangat fatal." ucap Arsene sambil meletakkan dokumen perceraian di meja dekat ranjang.
"Terserah kamu tanda tangani atau tidak karena yang pasti jika dalam dua hari surat perceraian itu tidak Aku terima maka kita bertemu di pengadilan," ucap Arsene sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Kak Arsene!" teriak Eden.
Arsene tetap melangkahkan ke dua kakinya tanpa memperdulikan teriakan Eden hingga Arsene menghilang dari pandangan mereka.
"Akhhhhhhhh.... Aku benci Mommy. Gara-gara Mommy rumah tanggaku hancur!!" teriak Eden dengan nada frustrasi.
Plak
"Jangan berteriak dan jangan salahkan Mommy!!" teriak Delisa kemudian menampar Eden untuk pertama kalinya.
"Apa kamu lupa kalau kamu punya ide untuk menghancurkan rumah kalian dan membuat kalian pura-pura meninggal supaya mendapatkan uang yang sangat banyak dari pihak asuransi?" tanya Delisa yang tidak ingin disalahkan.
"Tapi seharusnya Mommy sebagai orang tua jika anaknya melakukan kesalahan di kasih tahu bukannya di dukung," ucap Eden dengan nada naik satu oktaf sambil memegangi pipinya yang perih.
"Cape ngomong sama kamu,'' ucap Delisa yang merasa dirinya sangat yakin tidak bersalah sedikitpun.
Delisa pergi meninggalkan putranya yang bernama Edward dan juga putrinya yang bernama Eden dan cucunya yang bernama Dela menuju ke arah kamar Delisa sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Kak Edward, tolong bantu Aku dan Dela agar bisa pergi dari sini," Mohon Eden.
"Kalau begitu kalian berdua ikut Edward ke mansion milik Edward," ucap Edward yang tidak tega melihat adik kembarnya sedih begitu pula dengan ponakannya.
"Terima kasih Kak Edward. Jujur dengan kejadian ini Aku sangat menyesal karena dulu Aku suka menghina dan memarahi Kak Alona dan kini Aku sadar kalau Aku sudah mendapatkan karma." Ucap Eden menyesali perbuatannya.
"Seandainya Kak Alona masih hidup Aku ingin memeluk Kak Alona untuk meminta maaf atas kesalahan ku selama ini." Sambung Eden bersungguh-sungguh.
"Alona sebenarnya masih hidup dan sekarang ada di mansion milik Kak Edward kalau kamu mau bertemu dengannya silahkan," ucap Edward.
"Apa? Kak Alona masih hidup?" tanya Eden dengan wajah terkejut.
"Ya masih hidup," jawab Edward.
"Kalau begitu antar kan Aku untuk bertemu dengan Kak Alona," pinta Eden.
"Baik, Edward akan panggilkan pelayan untuk mendorong kursi roda," ucap Edward.
Edward menghubungi kepala pelayan untuk datang ke kamar Eden dan tidak berapa lama pintu kamar Eden di ketuk dan Edward memintanya untuk masuk ke dalam. Edward mengangkat tubuh Eden ke arah kursi roda kemudian berlanjut menggendong Dela untuk diletakkan ke kursi roda.
"Dorong kursi roda ponakan ku!" perintah Edward.
"Baik Tuan," jawab kepala pelayan dengan patuh.
__ADS_1
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dua bab menceritakan flash back setelah ini akan diceritakan tentang awal pertemuan Delon dengan Joanna.