
"Pengawal!!" teriak Edward
Ceklek
Salah satu bodyguard membuka pintu dengan lebar kemudian Edward berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju ke mansion.
Bodyguard yang awalnya di hukum hanya bisa menahan amarahnya terhadap Edward karena telah melukai orang sebaik Alona.
Edward berjalan dengan langkah cepat hingga dirinya melihat kepala pelayan.
"Hubungi dokter, cepat!!" teriak Edward.
"Baik tuan," jawab kepala pelayan dengan patuh.
Edward berjalan menaiki anak tangga satu demi satu hingga di depan pintu salah satu bodyguard nya membuka pintu dengan lebar agar Edward bisa masuk ke dalam kamarnya.
Edward meletakkan perlahan tubuh Alona hingga sprei warna putih terkena noda darah.
"Kenapa aku tidak bisa menahan amarahku? Seandainya aku bisa hal ini tidak akan terjadi," ucap Edward.
"Maafkan aku, aku berjanji untuk tidak melukaimu lagi dan menahan amarahku," ucap Edward.
"I Love You Too," ucap Edward sambil membelai lembut pipi Alona.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," perintah Edward.
Ceklek
Kepala pelayan membuka pintu dengan lebar dan seorang pria berpakaian dokter masuk ke dalam sambil membawa tas dokter.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter tersebut dengan wajah terkejut karena melihat kain seprai ada bercak darah.
"Jangan banyak bicara, sembuhkan istriku," ucap Edward dengan nada dingin sambil turun dari ranjang agar dokter pribadinya bisa duduk.
"Sebelumnya aku ingin tahu agar aku bisa mengobatinya," ucap dokter tersebut sambil duduk di sisi ranjang.
"Aku cambuk di bagian punggungnya karena itulah istriku tidak sadar," jawab Edward.
"Apa?? Apakah Edward tahu kalau ..." ucap dokter tersebut menggantungkan kalimatnya.
("Aduh keceplosan karena jika aku mengatakannya yang ada tidak suprise lagi di ulang tahunnya. Aduh Nyonya Edward kenapa kamu mau menikah dengan pria ini," ucap dokter tersebut dalam hati).
"Kalau apa?" tanya Edward.
"Kalau ...(sambil berfikir) ... Kalau Nyonya Edward seorang wanita pasti tidak bisa menahan rasa sakit ketika di cambuk?" tanya dokter tersebut.
"Sudahlah jangan bawel, cepat periksa," ucap Edward.
"Baik, tapi bisakah kami di tinggal?" tanya dokter tersebut sambil menahan kesal terhadap sahabatnya.
"Aku suaminya kenapa aku di suruh pergi?" tanya Edward dengan nada kesal.
"Mau aku obati tidak?" tanya dokter tersebut dengan nada masih kesal.
"Kamu berani? Mau aku hukum?" tanya Edward.
"Edward, kamu itu sahabatku kenapa sih kamu itu tidak bisa menahan amarahmu? Dikit - dikit di hukum, kalau kamu seperti ini terus bisa-bisa istrimu akan kehilangan nyawanya," ucap dokter tersebut berusaha menasehati sahabatnya sambil mengeluarkan perlengkapan dokternya yang di simpan di dalam tasnya.
"Anton!! Istriku tidak mungkin kehilangan nyawanya," ucap Edward dengan nada tegas.
"Kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal, jadi jika suatu saat itu terjadi jangan pernah menyesalinya ketika kamu menghukumnya dengan berat dan mengakibatkan kamu kehilangan istri mu," ucap dokter Anton.
"Di antara kita berempat bersahabat hanya kamu yang tidak bisa menahan emosimu jadi aku minta sebagai sahabat baikmu tahanlah emosimu sebelum kamu menyesalinya," sambung dokter Anton.
Deg
Deg
Jantung Edward berdetak kencang ketika mendengar ucapan sahabatnya dokter Anton yang benar adanya.
"Balikkan tubuh Nyonya Edward," pinta dokter Anton.
Tanpa menjawab Edward membalikkan tubuh Alona yang sudah mulai dingin sedangkan dokter Anton menarik perlahan resleting Alona.
"Kamu mau ma ti!!" teriak Edward.
"Tidak usah teriak, aku melakukan ini mau memeriksa punggungnya," ucap dokter Anton yang tahu jalan pikiran Edward.
__ADS_1
"Lebih baik kamu keluar dan tenang saja aku tidak macam-macam," ucap dokter Anton.
"Tapi...." ucapan Edward terpotong oleh dokter Anton.
"Semakin kamu mau berdebat jangan salahkan aku jika aku terlambat menyelamatkan istrimu," ucap dokter Anton dengan nada tegas.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku , dengan judul :
Dennis menatap tajam ke arah ke enam penjahat sedangkan Debby berusaha bangun tapi tiba - tiba perutnya terasa kram dan kepalanya terasa pusing.
bruk
Tidak berapa lama Debby pun tidak sadarkan diri.
" Debby!!" teriak Dennis panik
duag
bruk
akhhhh
Dennis yang tidak konsentrasi membuat ke enam penjahat langsung menyerang Dennis. Ada yang menendang dan ada yang memukul membuat Dennis berteriak kesakitan.
Di saat genting pintu ruang perawatan VVIP terbuka tampak empat pria tampan masuk ke dalam ruang perawatan dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Tanpa menunggu waktu lama mereka bertiga langsung menyerang ke enam pria penjahat tersebut sedangkan yang satunya menggendong mommy Laras ala bridal style dan diletakkan ke ranjang kemudian dilanjutkan menggendong Dennis.
Mereka adalah kak Alvonso, Alvian, Arlan dan Harlan. Harlan yang menggendong mommy Laras dan Dennis secara bergantian kemudian menekan tombol agar dokter segera datang.
" Breng**k beraninya mengeroyok." ucap Alvonso dengan nada kesal.
Mereka bertiga menyerang dan menghindar kemudian Harlan yang sudah selesai menggendong mommy Laras dan Dennis langsung membantu Alvonso, Alvian dan Arlan dan tidak berapa lama datanglah daddy Alvonso dan Leo kemudian di susul oleh Max.
Mata Leo berubah menjadi merah karena melihat pakaian istri yang dicintainya ada noda darah, wajahnya pucat dan memejamkan matanya.

" Beraninya kalian menyakiti istriku!!" bentak Leo
Leo mengambil pisau lipatnya dan langsung menyerang mereka, Max yang mendengar suara keras Leo langsung memalingkan wajahnya ke arah mommy Laras membuat Max menatap tajam ke arah mereka.

Max tidak terima melihat mommy Laras terluka dan tidak sadarkan diri membuat Max mengeluarkan pisau lipatnya yang sudah lama tidak dipakainya.
sretttt
akhhhhh
sretttt
akhhhhh
sretttt
akhhhhh
sretttt
akhhhhh
Leo dan Max masing-masing memotong leher penjahat hingga lehernya hampir terputus membuat daddy Alvonso, kak Alvonso, Alvian, Arlan dan Harlan diam membeku karena betapa mengerikannya Leo dan Max ketika membantai para penjahat dan kini penjahat tersebut tersisa dua orang.
Kak Alvonso dan Alvian menahan pria pertama sedangkan Arlan dan Harlan menahan pria yang ke dua.
" Max dan Leo jangan bunuh mereka kita tangkap mereka dan interogasi siapa dalang dari semua ini." perintah daddy Alvonso
" Benar kata daddy, sebentar lagi dokter datang cepat bereskan ke empat mayat ini karena jika tidak kalian berdua bisa di tangkap." Perintah kak Alvonso
" Biarkan saja mereka pantas mendapatkannya." ucap Leo dan Max bersamaan sambil mendekati ke dua pria itu yang sudah gemetaran karena dirinya sangat takut jika dirinya menyusul ke empat temannya.
" Jika mommy, Debby dan Dennisa tahu pasti mereka sedih. Apakah kalian tega menyakiti hati mereka?" tanya daddy Alvonso
Mata Leo mulai berubah menjadi biru begitu pula dengan mata Max yang semula tajam seperti tatapan membunuh kini berubah menjadi tatapan teduh.
" Arlan dan Harlan hubungi anak buah kalian untuk membereskan mayat - mayat dan bawa dua orang itu ke markas." perintah daddy Alvonso
" Baik dad." Jawab Arlan dan Harlan serempak kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.
Dua pria itupun langsung mati karena menggigit lidahnya hingga hampir putus.
__ADS_1
" Si*l mereka mati." umpat daddy Alvonso ketika mengecek kondisi ke dua pria itu.
" Alvonso dan Alvian kamu jaga di depan jangan sampai dokter dan perawat masuk ke dalam." Perintah daddy Alvonso
" Baik dad." Jawab kak Alvonso dan Alvian serempak.
Tidak berapa lama datanglah 10 anak buah mafia Arlan dan Harlan mereka langsung mengurus mayat - mayat tersebut dan di simpan di dalam kotak ukuran jumbo yang muat 3 orang kemudian mereka membersihkan lantai yang penuh dengan noda darah hingga bersih seperti tidak terjadi apa - apa.
" Buang dua kotak itu yang berisi mayat ke jurang paling dalam karena mereka pantas mendapatkannya." ucap Leo dengan nada dingin.
" Baik tuan." Jawab mereka patuh
Setelah kepergian mereka barulah datang tiga orang dokter dan enam perawat untuk mengecek kondisi mommy Laras, Debby dan Dennis sedangkan daddy Alvonso, kak Alvonso, Alvian, Arlan, Harlan, Leo dan Max menunggu di luar.
" Sepertinya tidak aman jika kita meninggalkan mommy, Debby dan Dennis, siapa yang gantian berjaga minimal empat orang?" tanya daddy Alvonso
" Kami mau dad." Jawab mereka serempak.
" Kalau begitu malam ini biar daddy, Alvonso, Leo dan Harlan untuk besok siang Alvian, Max, Arlan dan Baron. Nanti daddy akan beritahukan Baron." ucap daddy Alvonso.
" Baik dad." Jawab mereka serempak
" Sekarang Alvian, Max dan Arlan pulanglah istirahat di rumah karena besok siang kalian yang berjaga. Untuk perusahaan kalian percayakan dengan orang kepercayaan kalian dan kalau ada masalah tolong bilang ke Daddy nanti daddy akan meminta bantuan anak daddy yang lainnya." ucap daddy Alvonso
" Anak lainnya maksudnya daddy punya anak lain dari mommy?" tanya kak Alvonso
ctak
" Aduh daddy sakit." ucap kak Alvonso sambil mengelus keningnya yang di sentil oleh daddy Alvonso.
" Habis kamu kalau ngomong asal, kamu kan tahu kalau daddy cinta mati sama mommymu." ucap daddy dengan nada kesal sambil matanya mendelik ke anak pertamanya membuat yang lainnya tersenyum.
" Lalu maksud daddy anak lainnya?" tanya daddy Alvonso
" Daddy dan mommy kan anaknya banyak selain anak kandung daddy dan mommy, ada juga anak angkat daddy dan mommy yang sudah kami anggap sebagai anak kandung. Seperti Max, Arlan, Harlan, Baron, Charli, Alex dan Leo." Jawab daddy Alvonso
" Daddy, kalau Max, Arlan dan Leo bukan anak angkat." protes Alvian
" Lalu anak apa donk? anak pungut?" tanya daddy Alvonso
" Aish daddy tega banget sama kami." gerutu Max dan Arlan.
Leo hanya diam saja karena dirinya ingin mengatakan sesuatu tapi bingung menyampaikan apa, maklum dirinya sejak kecil hingga sekarang kurang kasih sayang seorang daddy.
" Daddy, kalau Max, Arlan dan Leo itu menantu daddy dan mommy karena mereka menikah dengan anak daddy dan mommy." ucap Alvian
" Benar juga ya, kenapa daddy jadi lupa ya." ucap daddy Alvonso sambil senyum pepsodent
Semuanya langsung menepuk keningnya masing-masing karena ulah daddy Alvonso.
" Leo, kok kamu diam saja? kamukan sudah menjadi bagian dari keluarga jadi bicaralah." ucap daddy Alvonso.
" Aku bingung dad, mau bicara apa." ucap Leo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Nanti juga lama - lama juga bisa mengobrol santai. Dulu Arlan, Harlan dan Max juga seperti mu pendiam tapi sejak kenal mommy dan daddy lama - lama seperti hubungan mommy dan daddy." ucap kak Alvonso.
" Aku jadi ingat dulu, waktu sekolah melihat kak Alvonso dan kak Alvian sangat dekat dengan orang tuanya dan saling sayang menyayangi membuatku iri hati karena ke dua orang tuaku tidak pernah memperdulikan ku. Ketika aku menikah dengan Alviana aku mulai merasakan untuk pertama kalinya diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang oleh mommy dan daddy." ucap Arlan.
" Aku juga sama seperti kak Arlan, dulu aku asisten kak Arlan dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuaku tapi sejak aku menikah aku baru merasakan kasih sayang dari mommy dan daddy." Ucap Harlan
" Kalau aku sejak kecil orang tuaku di tembak di depan mataku hingga meninggal sehingga aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang dari ke dua orang tuaku. Hidupku terlunta-lunta dan selalu dihina oleh orang lain tapi keluarga besar Alvonso mau menerimaku apa adanya. Mommy, daddy dan keluarga besarnya memberikan kasih sayang yang sudah lama tidak pernah aku dapatkan." ucap Max
" Terima kasih daddy dan semua saudara - saudara ku yang mau menerima Max seorang psycophath yang suka membunuh tapi keluarga besar Alvonso tidak pernah takut padaku malah merangkul ku agar aku bisa berubah. Terima kasih yang telah mengijinkan aku menikah dengan Dennisa wanita yang mau menerima aku apa adanya." ucap Max sambil memeluk daddy Alvonso.
" Daddy harap kamu bisa menahan emosimu Max, karena jika mommy dan Dennisa mengetahui kalau dirimu membunuh lagi membuat mereka akan bersedih lagi begitu pula denganmu Leo, mommy dan Debby pasti akan sedih." ucap Daddy Alvonso dengan kata bijaknya.
" Baik dad." Jawab Max dan Leo kompak
" Sekarang Alvian, Max dan Arlan pulanglah istirahat di rumah karena besok siang kalian yang berjaga." ucap daddy Alvonso mengulangi perkataannya.
" Baik dad." Jawab Alvian, Max dan Arlan
Alvian, Max dan Arlan meninggalkan mereka untuk pulang ke mansion milik keluarga besar Alvonso. Tidak berapa lama para dokter yang memeriksa keluar dengan diikuti para suster.
" Bagaimana keadaan istriku, Debby dan Dennis?" tanya daddy Alvonso
" Semua baik tapi khusus Debby jangan sampai pendarahan lagi karena bisa mengakibatkan keguguran." ucap dokter tersebut.
" Terima kasih dok." Jawab mereka serempak
" Silahkan masuk ke dalam dan kami akan mengecek pasien lainnya." ucap dokter tersebut dengan nada sopan.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan ke tiga dokter dan ke enam perawat meninggalkan para pria tampan.
__ADS_1