Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Aku harus kabur dari sini


__ADS_3

Kini Edward dan Alona sudah selesai mandi dan Alona membantu Edward memakai pakaian kerja. Alona mengancing pakaian kemeja Edward sambil tersenyum.


("Kenapa aku merasa kalau ini adalah terakhir aku mengancingkan kemeja suami? Mungkin pelarian yang terakhir ini berhasil. Kalau berhasil aku tidak perlu sedih karena ini demi anak - anak kami agar aku tidak terluka terlebih kak Edward sudah menemukan pengganti diriku," ucap Alona dalam hati sambil masih mengancingkan kemeja suaminya).


("Kenapa perasaanku tidak enak ya? Apakah Alona mempunyai rencana untuk kabur lagi? Aku akan menambah pengamanan agar Alona tidak berhasil kabur," ucap Edward dalam hati).


"Oh ya, semalam kenapa kenapa kamarnya di kunci?" tanya Edward.


"Maaf," ucap Alona tanpa memberikan penjelasan.


"Untung aku punya kunci cadangan kalau tidak bagaimana aku bisa masuk," ucap Edward.


"Maaf, lain kali hal itu tidak akan terjadi lagi," ucap Alona.


Edward hanya diam hingga Alona sudah selesai memasang kancing kemeja kemudian berlanjut memasang dasi.


"Kak Edward, bisa tunduk sebentar," pinta Alona.


Grep


Edward memeluk tubuh istrinya sambil menundukkan kepalanya agar istrinya bisa memasangkan dasinya untuk terakhir kalinya setelah beberapa saat Alona sudah selesai memasang dasi dan terakhir memakaikan jas suaminya.


"Tubuhmu sepertinya mulai berisi," ucap Edward.


"Di kasih makan enak makanya tubuhku berisi," jawab Alona asal karena tidak mungkin dirinya mengatakan kalau hamil.


"Nah sekarang suamiku sudah sangat tampan," ucap Alona mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja suamimu tampan," jawab Edward.


"Aku tahu karena itu banyak wanita yang mengejar kak Edward dan bisa saja besok bukan aku lagi yang melakukan ini tapi wanita yang dicintai oleh kak Edward," ucap Alona sambil tersenyum.


"Apa maksudmu Alona?" tanya Edward tidak suka.


"Bukankah semalam ada wanita yang kak Edward peluk? Pasti wanita itu akan menjadi pengganti diriku," jawab Alona sambil mengambil tasnya.


"Apakah kamu cemburu?" tanya Edward.


"Tidak sama sekali," jawab Alona namun entah kenapa hatinya sangat sakit ketika mengatakan itu.


"Syukurlah," jawab Edward sambil meninggalkan Alona dan menahan kesal karena Alona tidak cemburu.


Alona hanya diam dan berjalan mengikuti langkah suaminya menuju ke ruang makan.

__ADS_1


"Kata Mommy, kamu di minta menemani Mommy di mall?" tanya Edward.


"Iya, katanya ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari buat seminggu," jawab Alona.


Edward hanya terdiam namun entah kenapa Alona menarik tangan Edward untuk membelai perutnya.


"Kenapa perutmu minta di belai? Apa kamu hamil?" tanya Edward dengan nada curiga.


"Jika aku hamil, apakah kak Edward suka?" tanya Alona.


"Tidak," jawab Edward dengan tegas sambil menarik tangannya.


"Kenapa?" tanya Alona dengan tatapan penuh kecewa.


"Karena aku tidak yakin kalau itu putraku," ucap Edward.


"Syukurlah aku tidak hamil jadi kak Edward tidak perlu kuatir," jawab Alona.


"Baguslah karena jika kamu benar - benar hamil aku ingin kamu menggugurkannya," ucap Edward dengan tegas.


Alona hanya terdiam hingga mereka sudah sampai di meja makan. Seperti biasa Alona mengambil makanan untuk suaminya barulah untuk dirinya namun bedanya Alona mengambil makanan hanya sedikit.


"Kenapa makannya sedikit?" tanya Edward.


Sebenarnya Alona sangat sedih dan terpukul dengan perkataan Edward membuat Alona makan sedikit itupun di paksa demi janin yang dikandungnya.


Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.


"Aku hari ini ada meeting kamu pergilah dengan sopir dan aku ingin jika aku pulang kerja kamu sudah ada di mansion," ucap Edward.


"Baik, boleh aku meminta peluk?" tanya Alona.


Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian Alona memeluk tubuh kekar suaminya sambil menatap ke arah langit-langit ruangan tersebut agar dirinya tidak menangis.


("Maafkan Mommy, karena memisahkan kalian dengan Daddy," ucap Alona dalam hati).


Setelah beberapa saat Alona melepaskan pelukannya kemudian mereka berjalan ke arah garasi. Alona masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Edward hanya saja beda mobil.


Bodyguard yang merangkap sebagai sopir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah mansion milik Delon. Alona membuka tasnya kemudian mengambil amplop untuk diberikan ke sopirnya.


"Paman, aku ingin di hari ulang tahun suamiku paman memberikan amplop ini ke semua pelayan dan bodyguard," ucap Alona.


"Maaf Nyonya, hadiah yang kemarin sudah cukup jangan ditambah lagi," ucap sopir tersebut merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Paman, anggap saja ini kenangan terakhir dariku," ucap Alona sambil meletakkan amplop ke kursi samping pengemudi.


"Kenapa Nyonya bicara seperti itu?" tanya sopir tersebut dengan wajah terkejut.


"Entahlah paman, aku merasa hari ini aku terakhir naik mobil Paman," jawab Alona.


"Nyonya jangan bicara seperti itu," ucap Sopir tersebut.


Alona hanya tersenyum sambil menatap ke arah jalan.


"Aku hanya minta satu hal saja paman yaitu paman dan yang lainnya untuk selalu setia dengan suamiku," pinta Alona.


"Kami akan melakukan itu tapi Nyonya jangan bicara seperti itu," ucap sopir tersebut.


"Paman, jangan lupa amplopnya di simpan dan diberikan di hari ulang tahun suamiku," ucap Alona mengalihkan pembicaraan.


"Baik Nyonya," jawab sopir tersebut sambil menghentikan mobilnya karena sudah sampai di mansion.


Alona turun dari mobil dan seperti biasa Alona mencium punggung tangan ke dua mertuanya Delon dan Delisa tapi sebelumnya neneknya Edward.


"Kita berangkat sekarang saja," ucap Delisa.


"Baik Mom," jawab Alona.


"Kita naik mobil putraku," ucap Delisa.


"Baik Mom," jawab Alona.


Alona dan Delisa berpamitan dengan Delon dan neneknya Edward kemudian mereka pergi ke mall dengan menggunakan mobil milik Edward.


Mereka masuk ke supermarket dan belanja keperluan sehari-hari hingga dua jam mereka sudah selesai belanja dan Alona membayar semua belanjaan Delisa dan juga dirinya dengan menggunakan uang penjualan apartemen.


"Kenapa tidak memakai kartu kredit tanpa batas? Apakah Edward tidak memberikannya?" tanya Delisa.


"Kak Edward memberikannya Mom hanya saja kebetulan aku lupa membawanya," ucap Alona.


Sebenarnya kartu hitam dan kartu debit yang diberikan oleh Edward di simpan bersamaan catatan kecil untuk suaminya.


Delisa hanya diam saja kemudian Delisa menjentikkan jarinya dan tidak berapa lama empat bodyguard membawa barang belanjaan milik Delisa dan Alona.


"Maaf Mom, Alona ingin ke toilet sebentar," pamit Alona.


Delisa menganggukkan kepalanya tanpa ada rasa curiga sedikitpun kemudian Alona berjalan ke arah toilet sedangkan Delisa menunggu.

__ADS_1


("Aku harus kabur dari sini," ucap Alona dalam hati).


__ADS_2