
"Tapi Mom ..." ucapan Alena terpotong oleh Delisa.
"Seperti yang aku bilang, Ibu mu ikut maka kamu naik kendaraan lain," ucap Delisa yang masih berjalan.
'Sudahlah ikuti perintah wanita itu,' bisik Ibunya Alena sambil masih berjalan.
'Tapi Mom...' ucapan Alena terpotong oleh Ibunya.
'Tidak apa-apa, nanti kalau kamu ketemu dengan Edward kamu minta padanya agar Mommy dan Daddy bisa ikut,' ucap Ibunya sambil masih berbisik.
'Baik Mom,' jawab Alena akhirnya.
"Baiklah Mom, aku ikuti permintaan Mommy" ucap Alona.
"Baguslah," jawab Delisa singkat sambil masuk ke dalam mobil.
"Mommy, maafkan Alona," ucap Alena pada Mommynya.
Ibunya hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan kode sedangkan Alena hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti arti kode tersebut. Alena membuka pintu belakang pengemudi sambil matanya menatap Ibunya yang masih menunggu Alena.
"Duduk depan," perintah Delisa.
"Tapi Mom, masa Alona duduk bersebelahan sama sopir sih?" tanya Alena dengan nada kesal.
Deg
__ADS_1
Jantung sopir itu berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tapi perubahan mendadak Alena yang dikiranya Alona.
("Nyonya Edward yang aku kenal suaranya selalu sopan dan menghormati mertuanya walau mertuanya angkuh dan sombong. Jangankan sama mertua sama aku saja sebagai orang kecil sangat sopan," ucap bodyguard yang merangkap sebagai sopir dalam hati).
"Tidak mau, ikut Ibu kandungmu," ucap Delisa dengan nada ketus.
"Jalan," perintah Delisa.
"Tunggu, aku ikut," jawab Alena sambil menahan amarahnya.
Alena membuka pintu samping pengemudi kemudian menutupnya sedangkan sopir yang merangkap sebagai bodyguard di larang oleh Delisa untuk membuka pintu mobil karena itulah dirinya hanya duduk menunggu perintah Delisa.
"Kenapa tidak jalan? Jalan!!" perintah Alena dengan nada ketus.
"Maaf Nyonya, saya hanya bisa jalan kalau Nyonya besar memintaku untuk jalan," jawab sopir itu.
Delisa dan sopir itu tahu kalau suara Alena sengaja di buat - buat.
"Suruh Mommy mu pergi jangan menyender mobil putraku nanti mobilku jadi ikutan dekil," ucap Delisa.
"Mommy, kenapa sih membenci Mommy ku?" tanya Delisa sambil menggenggam ke dua tangannya dengan erat.
"Aku tidak tahu tapi setiap melihat wajahnya mengingatku dengan seseorang yang aku benci," ucap Delisa.
"Jalan, biar saja wanita itu jatuh," ucap Delisa tanpa punya rasa empati sedikitpun terhadap besannya.
__ADS_1
"Baik Nyonya besar," jawab sopir tersebut sambil menyalakan mobil.
"Akhhhhhhhh..."
Bruk
Seperti perkataan Delisa kalau Ibunya Alena akan jatuh jika mobilnya dijalankan karena Ibunya Alena memang sengaja menyenderkan tubuhnya ke mobil sambil berharap dirinya diperbolehkan naik.
"Berhenti!! Mommy ku jatuh," ucap Alena dengan nada setengah oktaf.
"Jalan saja, salah siapa dia menyenderkan tubuhnya ke mobilku," ucap Dennisa.
Sopir tersebut hanya menganggukkan kepalanya membuat Alena menggenggam ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya terhadap Delisa.
("Awas kamu nenek tua, akan aku buat kamu menderita karena telah membuat Mommy kesayanganku jatuh dan bisa dipastikan terluka," ucap Alena dalam hati).
("Kenapa aku merasa wanita yang di depanku bukan Alona ya? Soalnya selama ini Alona selalu menuruti semua permintaan ku tanpa banyak protes terlebih setahuku Ibunya sangat membenci Alona tapi aku lihat mereka saling sayang menyayangi. Apa jangan-jangan Alona mempunyai saudara kembar?" tanya Delisa dalam hati)
Orang yang tahu kalau Alona punya saudara kembar adalah Daddy Nathan, Mommy Maya, Ibunya Delisa sekaligus neneknya Edward dan Delon suaminya Delisa serta keluarga besar Daddy Alvonso selain itu tidak ada yang tahu.
Selama dalam perjalanan tidak ada yang bicara sedikitpun hingga dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di mansion milik Delon.
Alena menatap penuh kagum melihat bangunan mewah milik Delon membuat Alena tersenyum bahagia karena dirinya kini tinggal di istana.
"Alona, kamu bantu sopir untuk mengangkat barang belanjaan ku," perintah Delisa.
__ADS_1
"Aku di suruh angkat barang belanjaan?" tanya Alena dengan wajah penuh kesal karena seumur hidupnya dirinya tidak pernah melakukannya.
Hal itu dikarenakan karena semua dikerjakan oleh pelayan bersama Alona ketika Alona belum menikah dengan Edward.