
Edward tiba-tiba teringat akan mimpinya membuat Edward mengeluarkan pistolnya sedangkan Delon yang merasakan ada bahaya ikut mengeluarkan pistol dan berdiri secara terpisah.
Agung sangat terkejut ketika melihat Delon dan Edward menodongkan pistolnya ke arah dirinya sedangkan Agung menodongkan pistol ke arah Delon.
"Aku sudah bisa menebak kalau kamu akan melakukan seperti ini," ucap Edward sambil menatap Agung dengan sinis.
"Apakah Eden terbaring akibat ulah dirimu?" tanya Delon.
"Jawab!" bentak Edward dengan suara menggelegar.
"Benar," jawab Agung singkat sambil menarik pelatuk.
"Dasar brengs*k," ucap Delon dan Edward bersamaan sambil ikut menarik pelatuknya.
Dor
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh..." teriak Agung.
__ADS_1
Eden yang mendengar suara bentakan kakak kembarnya memaksakan membuka matanya kemudian melihat suaminya mengarahkan pistolnya ke arah Delon membuat Eden perlahan bangun kemudian menarik tangan suaminya ke bawah agar tidak menembak Delon.
Delon menembak dada Agung sedangkan Edward menembak lengan Agung bersamaan pistol milik Agung meletus dan mengenai lantai membuat Agung berteriak kesakitan.
Bruk
Agung pun ambruk ke lantai membuat Delon berjalan ke arah Eden sedangkan Edward menendang pistol milik Agung agar Agung tidak mengambil pistolnya kemudian Edward menarik pelatuknya ke arah Agung untuk menembak keningnya.
"Kak Edward biarkan Kak Agung hidup," mohon Eden.
"Dia sudah membuat dirimu menderita jadi sudah sepantasnya dia ma ti," ucap Edward.
"Kak Edward, sekarang aku lagi hamil jadi aku mohon biarkan Kak Agung hidup. Apa Kakak tega jika melihat ponakan Kak Edward lahir tidak bisa melihat Ayah kandungnya?" tanya Eden sambil mengeluarkan air matanya.
"Kak Edward, aku tahu kalau Kakak dan Daddy sangat marah dan membenci Kak Agung tapi sebenarnya itu salah Eden," jawab Eden.
"Apa maksudmu Eden?" tanya Edward.
"Aku telah mengatakan kata-kata kasar hingga membuat sepupu Kak Agung bunuh di ri jadi sudah sepantasnya aku menerima semua ini. Jadi aku mohon lepaskan Kak Agung demi aku dan anak kami," mohon Eden.
Delon dan Edward sama - sama menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian Edward menekan tombol darurat.
__ADS_1
"Lebih baik kamu di rawat di rumah sakit milik keluarga sedangkan pria ini di rawat di rumah sakit ini," ucap Edward dengan tegas.
"Tapi Kak ..." ucapan Eden terpotong oleh Delon.
"Kami sudah menuruti permintaan mu tapi yang ini kamu harus menuruti permintaan kami," jawab Delon dengan nada tegas.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat orang menatap ke arah pintu. Mereka melihat dokter, perawat dan ke dua orang tua Agung.
"Apa yang terjadi dengan putraku?" tanya Ibunya sambil berjalan ke arah Agung begitu pula dengan Ayahnya.
"Putramu telah menyiksa putriku hingga masuk ke rumah sakit selain itu ingin menembak kami jadi kami akan mengurus surat perceraian anak-anak kita," jawab Delon.
Ketika Ibunya Agung ingin mengatakan sesuatu tangannya di pegang suaminya untuk diam karena suaminya tahu dengan siapa dirinya berhadapan.
Keluarga besar Alexander terkenal dengan kekejamannya jika ada orang yang berniat menyakiti salah satu anggota keluarganya.
"Dokter aku ingin putriku dipindahkan ke rumah sakit Alexander milik keluarga kami sekarang juga," perintah Delon dengan nada tegas.
" Baik Tuan," jawab dokter tersebut dengan patuh.
__ADS_1
"Eden aku mohon jangan tinggalkan aku," mohon Agung sambil menahan rasa sakit pada dada dan lengannya.