
Ceklek
Pintu kamar tamu di buka tampak dokter cantik membuka pintu kamar tersebut dan melihat pria yang dicintainya dalam diam sedang menatap Dirinya.
"Aku sudah bilang lima menit? Kenapa lama hah!!!" Bentak Edward yang sudah tahu siapa yang datang.
Edward turun dari ranjang kemudian membalikkan badannya menatap ke arah dokter cantik tersebut dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
"Maaf tuan, jalannya macet," jawab dokter cantik tersebut dengan wajah ketakutan.
Dokter cantik tersebut langsung berjalan ke arah di mana wajah Alona pucat seperti kapas kemudian menatap wajah tampan Edward.
"Ada apa?? Cepat periksa!!" bentak Edward.
"Maaf tuan, bolehkah tuan tinggalkan kami berdua? pinta dokter cantik tersebut.
"Memangnya kenapa? Dia istriku cepat periksa!!!!" bentak Edward lagi.
Dokter cantik tersebut hanya diam karena percuma saja Edward terkenal dengan tempramen dan arogant.
__ADS_1
Dokter cantik tersebut perlahan membuka pakaian Alona membuat Edward memalingkan wajahnya ke arah samping dengan wajah memerah.
Setelah terbuka dokter cantik tersebut mulai meriksa luka Alona di mana jahitannya terbuka. Sekali - kali Edward memalingkan wajahnya ke arah Alona sekaligus memperhatikan apa yang dilakukan oleh dokter tersebut.
Setelah lima belas menit dokter tersebut sudah selesai kemudian perlahan melepaskan pakaian Alona karena pakaian Alona terkena noda darah.
"Maaf tuan saya ingin men lap tubuh Alona yang terkena noda darah," ucap dokter cantik tersebut sambil turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar mandi.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping sisi istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
("Aku tidak tahu di satu sisi aku tidak tega menyakiti perasaan mu tapi di sisi lain ketika aku mengingat perkataan ke dua pria itu membuatku membencimu di tambah kamu sudah membuat nenekku terbaring koma di rumah sakit," ucap Edward dalam hati).
Dokter cantik tersebut mulai menlap tubuh Alona secara perlahan hingga noda darah yang menempel di tubuhnya bersih.
"Sudah selesai tuan," ucap dokter cantik tersebut kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
"Adakah obat yang harus di minum?" tanya Edward.
"Ada tuan, sebentar," ucap dokter tersebut sambil meletakkan handuk yang ada noda darahnya di kamar mandi.
__ADS_1
Dokter cantik tersebut mencuci tangan lalu berjalan ke arah ranjang kemudian mengambil dua obat dari tasnya dan diberikan ke Edward.
"Dua jam lagi ketika sadar berikan obat ini ke nyonya Edward agar proses penyembuhannya cepat," ucap dokter cantik tersebut.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian menunjuk ke arah meja dekat ranjang dengan menggunakan dagunya. Dokter cantik tersebut mengerti kode tersebut kemudian meletakan ke dua obat tersebut.
"Apa ada yang lainnya tuan?" tanya wanita cantik tersebut.
Edward hanya mengibaskan tangan kanannya tanda dokter cantik tersebut di suruh pergi.
("***Seandainya tuan tahu kalau aku sangat mencintaimu sejak lama tapi sayang kamu malah mencintai wanita mu rah han," ucap dokter cantik tersebut).
("Alona aku sangat membencimu karena kamu telah merebut orang yang aku cintai. Aku melakukan berbagai cara agar kalian berpisah," ucap dokter cantik tersebut dalam hati***).
Dokter cantik tersebut kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut meninggalkan mereka berdua.
Edward sejak tadi hanya menatap ke arah wajah Alona hingga tanpa sadar dirinya menatap ke arah bungkusan yang menutupi dua gunung kembar milik Alona.
Walau sudah di tutupi bungkusan tetap saja terlihat jelas kalau ke dua gunung itu sangat menantang membuat Edward tanpa sadar mengarahkan ke dua tangannya ke arah dua gunung kembar milik Alona.
__ADS_1
"Pas sekali di tanganku," ucap Edward ketika ke dua tangannya masing - masing memegang dua gunung kembar milik Alona.