Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Alona


__ADS_3

Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit dan kini Alona sudah berada di UGD sedangkan Edward duduk di kursi sambil menatap pintu UGD dengan perasaan kuatir tanpa memperdulikan noda darah pada pakaiannya.


Hampir dua jam menunggu dan akhirnya pintu UGD terbuka membuat Edward turun dari kursi dan berjalan ke arah pintu UGD bersamaan dokter keluar.


"Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Edward dengan nada kuatir.


"Luka tusukan pisau pada perutnya tidak terlalu dalam dan untunglah di bawa tepat waktu karena pasien hampir habis kehilangan darah. Untunglah kami mempunyai stok darahnya," jawab dokter tersebut.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Edward.


"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan, tuan tunggulah di ruang perawatan," jawab dokter tersebut.


Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter itupun pamit pada Edward untuk mengecek kondisi pasien lainnya.


Tidak berapa lama pintu UGD di buka tampak dua perawat mendorong brangkar di mana Alona sedang berbaring.


Skip

__ADS_1


Kini Edward duduk di kursi dekat ranjang sambil menggenggam tangan Alona yang ke dua matanya masih setia terpejam.


Tubuhnya yang lelah di tambah sudah malam akhirnya Edward meletakkan kepalanya di ranjang dengan menggunakan ke dua tangannya dan tangan Alona yang tidak ada infusnya sebagai bantalan kepalanya.


Tidak membutuhkan waktu lama Edward tidur dengan pulas nya hingga esok pagi. Pagi - pagi sekali Edward sudah bangun karena tubuhnya lengket di tambah pakaiannya yang terkena noda darah membuat Edward pulang ke mansion dan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di depan ruang perawatan.


Lima belas menit kepergiaan Edward perlahan Alona membuka matanya dan melihat sekeliling ruangannya sambil mengingat apa yang terjadi.


"Aku di mana? Apa aku sudah meninggal?" tanya Alona.


"Tapi tidak mungkin karena tangan aku di infus berarti kak Edward membawaku ke rumah sakit? Tapi mana mungkin siapa tahu menyuruh bodyguardnya buktinya dia tidak ada." ucap Alona sambil menarik jarum infus.


Alona berjalan perlahan menuju ke arah pintu dan mengintip melalui kaca dan Alona melihat dua bodyguard sedang mengobrol di depan pintu kamarnya.


"Aku harus pergi dari sini, tapi lewat mana?" tanya Alona sambil menatap ke sekelilingnya hingga dirinya melihat ke arah kamar mandi.


Alona berjalan ke arah kamar mandi kemudian melihat ke arah langit - langit dan melihat ada lubang angin membuat Alona menutup pintu kamar mandi kemudian naik dengan menggunakan closet.

__ADS_1


Alona mendorong lubang angin tersebut ke arah samping kemudian naik ke atas tanpa memperdulikan jahitan di perutnya terluka.


tes


tes


Darah segar menetes di lantai kamar mandi, rasa sakit berusaha di lawan karena rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang diberikan oleh keluarganya dan juga suaminya.


Alona berhasil naik ke plafon dan berjalan dengan cara merangkak hingga sepuluh menit kemudian dirinya melihat di bawahnya ada toilet kosong.


Alona perlahan turun setelah berhasil Alona berjalan sambil memegangi perutnya yang terasa perih kemudian membuka pintu kamar mandi.


ceklek


Alona mengintip kamar mandi dan dirinya bernafas lega karena ternyata ruangan tersebut kosong. Alona ke luar dari kamar mandi dan berjalan ke arah pintu dan dirinya bersyukur lorong rumah sakit tersebut kosong.


Alona berjalan perlahan hingga dirinya sampai di tempat parkiran rumah sakit belakang bertepatan ada seorang wanita yang sedang memasukkan barang di bagasi mobil membuat Alona berjalan ke arah wanita tersebut.

__ADS_1


"Tolong aku," mohon Alona.


Wanita tersebut menutup pintu bagasi mobil kemudian menatap Alona dengan terkejut.


__ADS_2