Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Bab 117


__ADS_3

Kepanikan bukan saja milik Ayu dan Jason semata mengenai kedua putra kembarnya di sekolah. Akan tetapi menjadi milik Soraya di meja operasi. Karena sepanjang karirnya dalam melakukan operasi ia tidak pernah gagal, tapi tidak dengan hari ini. Karena disaat operasi sedang berlangsung sang pasien justru malah meninggal dunia. Yang menyebabkan Soraya dan team Dokter lain yang bertugas dalam operasi kali ini sangat syok berat dan terpukul hebat. Namun sebagai orang yang sangat profesiaonal keadaan itu tidak berlangsung lama mereka merasakan itu karena sebisa mungkin mereka menutupinya.


Beberapa perawat mencabut alat medis yang terpasang pada tubuh pasien dan menutup seluruh tubuh pasien dengan kain yang menutupi dari ujung kepala kepala sampai ujung kaki. Dan membawa keluar pasien untuk diserahkan pada pihak keluarga.


Sedangkan Soraya masih berada di ruang operasi dengan kepala yang terjatuh menunduk. Ia masih belum percaya sepenuhnya jika pasien terakhirnya harus meninggal dunia. Bagi Soraya ini pencapaian yang sangat buruk dan sangat tidak diinginkan. Mungkin bagi semua Dokter pasti sangat tidak menginginkan hal buruk ini terjadi. Karena dianggapnya tidak bisa mempertahankan nyawa dari pada pasiennya.


" Soraya, ini bukan salah dan kegagalan mu. Ini adalah takdir. Kita akan menghadapi dan menanggungnya bersama. Kita sudah ratusan bahkan ribuan kali melakukan operasi. Dan diantara itu pasti ada saat, situasi dan kondisi seperti ini." Kata Dokter Justin sebagai Dokter Senior yang memimpin jalannya operasi.


" Tapi Dokter tadi aku kurang berfokus saat bagian ku melakukan pembedahan tanpa melihat ulang tekanan darahnya. Sehingga terjadi pendarahan hebat seperti ini." Jawab Soraya dengan datar. Ia merasa sudah sangat gagal menjadi Dokter Bedah yang melakukan kecerobohan sekecil itu namun bisa sangat fatal sekali akibatnya bagi pasien.


" Baik nanti kita akan bicarakan lagi dengan dewan Dokter dan pemilik rumah sakit tentang masalah ini. Aku yakin mereka tidak akan menyalahkan mu, karena memang ini bukan salah mu." Ucap Dokter Justin berusaha membesarkan hati Soraya. Walaupun perasaannya juga tidak jauh dengan Soraya.


James yang menunggu di ruang kerja Soraya pun sangat gelisah. Dikarenakan operasinya masih belum selesai padahal sudah enam jam berlalu. Biasanya hanya membutuhkan waktu paling itu empat jam.


Ingin rasanya James keluar dan mencari tahu apa yang terjadi di ruang operasi namun ia urungkan takutnya malah mengganggu jalannya operasi. Ia memutuskan akan menunggu Soraya di dalam saja sampai Soraya sendiri yang masuk ke ruang kerja.


Setelah lima jam berlalu James menunggunya namun Soraya tidak kunjung datang. Sampai di luar rumah sakit sudah gelap karena hari sudah malam.


" Apa yang terjadi dengan mu sayang?." Tanya James pada dirinya sendiri.


Akhirnya James keluar dan langsung menuju ruang operasi. Namun sudah kosong tidak ada seorang pun disana.


" Lalu kemana perginya Soraya?, ponsel dan tas masih ada di dalam ruangannya." Guman James.


James berjalan mencari seseorang yang bisa dimintai informasi tentang Soraya atau operasi yang berjalan tadi siang. Sampai James melihat keluarga pasien yang sedang menangis histeris di depan jenazah.


Pikiran James tiba-tiba saja buruk tentang operasi itu, meski ia tidak tahu jenazah itu pasien yang sama atau bukan dengan pasien yang dioperasi oleh Soraya.


James melihat seorang Dokter yang akan melintas dengan cepat James menghampiri Dokter tersebut.


" Permisi Dokter, saya mau tanya, apa Dokter tahu keberadaan Dokter Bedah Soraya dan operasinya hari ini?." Tanya James yang kini harap-harap cemas menunggu jawaban.


Dengan memicingkan sebelah matanya, Dokter tersebut bertanya dengan setengah berbisik. " Maaf Anda siapanya Dokter Soraya?, atau jangan-jangan Anda keluarga pasien?,"


" Bukan Dokter, saya James Gilbert calon suami dari Dokter Soraya." Jawab James.


Dokter itu terdiam dan menelisik penampilan dan wajah James dengan seksama. Lalu Dokter tersebut berbisik lagi. " Dari kabar yang beredar Dokter Soraya dan Dokter yang terlibat didalam operasi tadi siang akan diberhentikan dengan tidak hormat dan parahnya lagi Dokter Soraya akan dipolisikan oleh pihak keluarga pasien."


Deg


James sangat mengkhawatirkan Soraya. Pasti saat ini Soraya sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.

__ADS_1


" Lalu dimana sekarang Dokter Soraya?."


" Lagi disidang oleh pimpinan rumah sakit dan beberapa pemegang saham itu yang ku dengar."


" Dimana tempatnya?."


" Kalau tidak salah ada di lantai sembilan belas Gedung Utama."


James langsung menyerat, memaksakan keduanya kakinya untuk berlari walau ada rasa sakit dan ngilu setelah mengetahui pasti keberadaan Soraya saat ini. Dengan perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya, James terus melangkahkan kakinya menuju ke lokasi Soraya berada.


James melihat suatu ruangan yang sangat tutup rapat di lantai sembilan belas ini dan ia meyakini jika Soraya berada di dalam sana.


James melangkah pelan menuju meja yang bertuliskan sekertaris.


" Permisi Nona, apa Anda tahu dimana tempat sidang yang berlangsung atas nama Dokter Soraya?."


" Ada disebelah sana Tuan, tapi ada tidak boleh menunggu disana atau pun disini. Silakan Anda tunggu di luar saja. Karena ini diperuntukkan petinggi dan staff di rumah sakit ini."


" Tidak masalah Nona. Sudah berapa lama Dokter Soraya berada didalam sana?."


" Kurang lebih sudah ada enam jam Tuan."


" Baik Nona, terima kasih. Saya akan menunggu di luar."


" Daddy, Jason " James mengingat kedua orang itu yang saat ini sangat berpengatuh di Negara ini.


" Apa perlu aku menghubungi Daddy dan Jason?, Aku tidak memiliki apa pun saat ini untuk bisa membantu Soraya dalam masalah ini. Hanya Daddy dan Jason yang mampu membantu Soraya dengan baik."


" Mommy, Mommy Stella, Oma Grace." James menarik kuat rambutnya kebelakang. Ia ingin berusaha membantu Soraya seorang diri tapi tidak mempunyai apa pun.


" Aku memang seorang pecundang tidak bisa menolong wanita yang sangat aku cintai." Gumam James.


.


.


.


Sementara itu di rumah, Jack dan John sedang menceritakan kejadian tadi pagi di sekolah pada Mommy Irena, Daddy Leo dan Oma Grace yang mendengarkan dengan seksama. Oma Grace mengelus rambut Jack dan John yang berada di sebelah kanan kirinya.


" Kalian harus berani pada kebenaran tanpa harus main hakim sendiri...".

__ADS_1


" Yang Jack lakukan itu main hakim sendiri Oma Buyut." John memotong perkataan Oma Grace dengan sangat antusias.


" Iya John itu bisa dibilang seperti itu." Ucap Oma Grace.


Ditengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba saja Jason datang dengan menunjukkan ponsel miliknya pada Daddy Leo.


" Tapi James tidak ada mengabari apa pun pada Daddy?."


" Pada ku juga tidak ada Dad. Sebaiknya kita kesana sekarang."


" Kalian mau kemana?." Tanya Mommy Irena.


" Hanya pekerjaan sayang."


" Tolong jaga Ayu Mom, kedua putra ku dan Baby Twins Mom, Oma Grace."


Lalu Daddy Leo dan Jason berjalan keluar rumah menuju rumah sakit.


Mampir Yuk di Novel Author yang lain :




Cinta Tuan Alex ( Tamat).




Suami kedua ( On going ).




Cinta Karena Perjodohan ( On going ).



__ADS_1


Jangan lupa dukungannya 'wan kawan dengan cara Like, Komen, Gift dan Vote.


Terima kasih kawan 🙏


__ADS_2