Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Season 2 James dan Soraya 25


__ADS_3

"Ok James, kau sudah bisa menjelaskan pada ku. Siapa wanita ini?, ada hubungan apa diantara kalian? dan noda lipstik di leher mu hadiah dari siapa?." Suara Soraya sedikit bergetar. Menahan rasa yang mulia berkecamuk di dalam dadanya. Menanti suaminya untuk berkata jujur padanya.


James mendekat, menarik salah satu kursi lalu duduk di sebelah Soraya. Menggenggam tangan Soraya dengan erat.


"Sayang, ini Della. Sementara sekertaris pengganti sekertaris ku yang tidak bisa masuk beberapa hari. Della dari bagian Administrasi. Tapi di sini aku meminta mu datang ke sini, untuk berbicara dengan Della karena tadi Della menangis sangat kencang. Jadi aku bingung jika aku harus bertanya padanya. Takutnya nanti akan ada salah paham." James menarik nafas usai bercerita yang belum pada intinya.


"Benar apa yang dibilang suami ku?." Soraya kini menatap intens pada Della. Della terlihat sangat gugup dengan kedua tangan yang terus saja memelintir ujung blouse nya.


Soraya sedikit merasa lega dengan pengakuan Della. Tapi itu belum mampu menghilangkan rasa penasarannya.


"Sayang, bisa tinggalkan kami sebentar. Takutnya Della tidak nyaman bila kita berdua yang menanyai." Pinta Soraya pada James.


"Ok sayang." James hendak keluar dari ruangannya.


"Maaf Pak, Bapak tidak perlu keluar dari sini. Sebagian pegawai di sini sudah tahu cerita saya." Della pasrah jika kehidupannya menjadi konsumsi orang satu kantor.


"Apa kamu tidak masalah kalau kami berdua harus tahu?." Tanya Soraya lagi memastikan, James kembali duduk di sebelah sang istri.


"Tidak apa Bu." Balas Della.

__ADS_1


Della pun menceritakan perjalanan hidupnya. Dimulai dari ia dari kampung datang ke kota untuk bekerja. Hingga bertemu dengan Firman dan mereka menikah. Selama mereka menikah, mereka tinggal bersama orang tua Firman atas permintaan Firman sendiri dan kedua orang tuanya. Karena dengan alasan untuk menghemat biaya.


Dua bulan semuanya masih berjalan lancar. Tidak ada masalah apa pun baik dengan suami dan kedua mertuanya. Hingga memasuki bukan ketiga mulai ada yang berubah. Semua biaya untuk makan dan semua jenis pembayaran tunai dan cicilan itu dibebankan pada Della. Della masih menerimanya dengan lapang. Karena mereka sudah menjadi keluarganya juga.


Hingga saat dirinya diketahui sedang hamil satu bulan. Perubahan mereka semakin menjadi tidak karuan. Hingga ujungnya dengan pengusiran yang dilakukan oleh suami dan mertuanya. Namun tetap untuk tagihan cicilan masih dibebankan padanya. Melalui tagihan yang dikirimkan ke alamat kantor.


Dan yang lebih parahnya, suaminya sampai tahu tempat kerjanya Della yang sekarang, jadi tetap untuk tagihan datang ke rumah sakit ini.


Della menyeka kedua sudut matanya yang tidak kunjung berhenti mengeluarkan air matanya.


Soraya menatap iba pada pegawainya itu. Soraya sangat dapat merasakan apa yang dirasakan Della.


"Suami mu tahu kehamilan ini?."


"Suami mu tidak pernah menafkahi?."


Della menggeleng, membenarkan perkataan Soraya. Kalau dari awal pernikahan mereka, Firman tidak pernah sepeser pun pun menafkahinya.


"Kau masih bisa berkerja dengan keadaan hamil begini?." Tanya Soraya tidak mungkin memecat orang yang sedang kesusahan seperti Della.

__ADS_1


"Masih sanggup Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan semua pekerjaan saya." Balas Della.


"Baiklah sekarang kau pulang, sudah waktunya pulang. Besok kau masuk bekerja lagi. Tapi mungkin aku akan mengembalikan mu pada posisi semula. Supaya kau lebih nyaman dengan pekerjaannya.


"Terima kasih banyak Pak, Bu. Terima kasih banyak." Balas Della. Lalu dirinya keluar dari ruangan James usai bersalaman dengan Soraya dan James. Sebagai tanda terima kasih dan rasa bahagianya.


Della pulang dengan perasaan senang karena dirinya masih bisa bekerja untuk memenuhi semua kebutuhannya.


Tidak lama kemudian, Kepala bagian keuangan datang keruangan James. Atas permintaan Soraya. Untungnya Pak Mulyadi yang menjabat Kepala keuangan belum pulang. Jadi dirinya bisa langsung datang memenuhi permintaan sang bos.


"Duduk Pak Mulyadi, terima kasih sudah mau direpotkan oleh saya. Tapi tidak lama, hanya sebentar karena Pak Mulyadi sangat tahu dengan keuangan Della." Soraya to the points.


"Iya Pak James, Ibu Soraya. Ini Della sendiri yang mengajukan permintaan pada saya untuk memberikan sisa dari gajinya setelah dipotong beberapa cicilan yang dibebankan padanya." Pak Mulyadi membenarkan.


"Berapa yang diterima Della setiap bulannya?."


Pak Mulyadi menarik nafasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Soraya.


"Hanya 500rb."

__ADS_1


"What??." James dan Soraya terperangah saat mengetahui nominal yang di terima olah Della.


"Dari gajinya hanya menerima 500Rb. Mana cukup untuk gizi bayi nya?." Air mata Soraya keluar dengan sendirinya.


__ADS_2