
Tidak terasa hari ini, genap sudah delapan bulan pernikahan James dan Soraya. Akan tetapi tanda-tanda kehamilan itu belum ada terlihat pada tubuh Soraya. Padahal Soraya dan James sudah berusaha keras pagi, siang dan malam.
Keadaan itu pun tidak ayal sedikit banyak sangat berpengaruh untuk dirinya, yang sangat mendambakan untuk segera memiliki keturunan.
Sudah terhitung dua bulan ini, Soraya selalu mendapatkan tamu bulanannya tidak rutin. Pernah sekali waktu ia terlambat hampir dua Minggu tidak mendapatkan tamu bulannya. Tentunya Soraya sangat berharap lebih dari situasi itu, tapi sayang setelah dilakukan pengecekan dirinya ternyata masih negatif.
Seperti pagi ini, raut wajah penuh kekecewaan jelas tergambar dari wajah cantik Soraya. Melihat hal itu tentu saja sangat membuat James bersedih. James pun sempat berpikir, mungkin karena dirinya yang kurang subur atau karena faktor usia atau dulu karena bekas peminum atau apa?. Semuanya memenuhi kepala James.
"Kita tidak akan ke kantor hari ini?." James kembali melepaskan semua pakaian resminya. Lalu ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa makanan dan di bawanya masuk kembali ke kamar.
"James!." Soraya menatap penuh penyesalan dengan hasil yang didapatkan pagi ini. Soraya sangat berantakan dengan keadaan dua bulan terakhir.
__ADS_1
"Sayang, ini bukan akhir dari segalanya. Ada anak atau pun enggak diantara kita. Aku tidak akan mempermasalahkan. Yang terpenting kita bahagia menjalani rumah tangga ini. Ini sudah cukup bagi ku." James membawa Soraya untuk duduk di atas kasur. Kemudian memberikan makanan yang tadi diambilnya dari dapur.
"Aku ingin memberikan mu kebahagiaan lain James. Aku tidak ingin kamu menyesal karena sudah menikahi ku." Soraya memegang kedua tangan James. Air matanya ikut jatuh membasahi genggaman tangan mereka.
"Stop sayang!. Jangan pernah bicara dan berpikir seperti itu. Aku tetap mencintai mu walau pun apa yang akan terjadi. Begitu juga sebaliknya kamu harus tetap mencintai ku dangan segala kekurangan ku." James memeluk Soraya, mengusap pucuk kepala sampai punggungnya. Berulang kali James mendaratkan kecupan pada rambut kepala Soraya dengan segenap jiwanya. Dirinya tidak akan pernah menyesal memilki istri sebaik, secantik dan secerdas Soraya.
Soraya melepaskan pelukannya, menghapus air matanya lalu menghapus air mata James yang ternyata ikut menetes.
"Suami ku sudah tampan sekali." Puji Soraya mengecup kedua pipi James dengan sangat lembut.
"Istri ku yang sudah membuat ku tampan. Terima kasih sayang." James membalas kecupan Soraya dengan mengecup bibirnya untuk beberapa saat.
__ADS_1
Keduanya keluar dari dalam kamar. Soraya mengantarkan James sampai pintu.
"Kamu hati-hati di jalan sayang." Soraya kembali mengecup pipi James. Keduanya saling berpelukan. Tidak ada bosan bagi keduanya untuk mengekspresikan rasa sayang dan cinta mereka. Sampai akhirnya James berpamitan pada Soraya.
James melangkahkan kakinya menuju basemen dimana mobil nya terparkir.
"Hai James!. Selamat pagi." Paula datang dari arah belakang James.
James menghentikan langkahnya, sebab ia sangat hafal dengan suara Paula.
"Kau?." James menatap Paula yang sudah rapi dengan tentengan tasnya.
__ADS_1
"Kau jangan kaget begitu James. Sekarang kita menjadi tetangga." Sambung Paula.