
"Jangan cuma berani kasar pada wanita!. Lawan saya kalau berani?." Pak Anton tidak langsung pergi melihat Della mendapatkan perlakuan buruk seperti itu. Apalagi datang dari kaumnya.
"Dasar mantu enggak tahu diri, masih bisa selingkuh padahal perut udah gede begitu." Ibu mertua Della mencela. Begitu pun Bapak Firman, bukan membantu melerai ia hanya malah menonton saja.
"Sakit Mas!, lepaskan!." Della berusaha melepaskan tangan Firman dari lengannya. Tapi bukannya di lepas, Firman malah semakin kuat mencekal lengan Della. Hingga Della menangis kesakitan. Belum lagi perut yang tiba-tiba terasa kram.
"Tolong...tolong...perut ku sakit!." Lanjut Della meringis kesakitan sambil memegang perut dengan tangan satunya.
"Kau buta hah?. Lepaskan wanita itu!. Kau tidak melihat kalau wanita itu kesakitan?." Ucap Anton.
Firman seperti orang kesetanan, bukannya mau melepaskan. Ia malah semakin kuat mencekal lengan Della. Kalau perlu, mungkin sampai patah tulang Della, baru Firman merasa puas.
"Firman lepaskan!. Sudah lepaskan!. Della keluar darah. Darah...." Ibu mertua Della sangat ketakutan. Berbarengan dengan James dan Soraya yang sedang berlari kearah mereka.
"Della...." Teriak Soraya cukup kencang.
Perlahan Firman melepaskannya kala darah yang keluar semakin banyak. Dan mereka bertiga. Firman dan kedua orang tuanya hendak pergi dari sana. Tapi Pak Anton dan James segera mengamankan mereka dengan bantuan beberapa pegawai rumah sakit.
__ADS_1
Sementara Della sudah di bawa masuk ke rumah sakit oleh Soraya dan beberapa perawat.
.
.
.
"Bagaimana Dokter?." Tanya Soraya pada Dokter Fandy, Dokter Obgyn.
"Sejauh ini sudah aman untuk bayinya. Bayinya sendiri sangat kuat hingga sanggup bertahan. Tapi..." Dokter Fandy menatap Soraya dengan cukup intens.
"Saya tidak berjanji banyak terkait kondisi pasien. Namun harapan dan keajaiban selalu itu ada. Kita akan melakukan yang terbaik." Jawab Dokter Fandy.
"Kita lihat perkembangan kondisi ibunya satu Minggu ini. Semoga saja ada perubahan yang lebih baik." Lanjutnya lagi. Keduanya berjalan keluar dari dalam ruangan Della.
"Baik lah." Jawab Soraya.
__ADS_1
.
.
.
Sementara itu di sebuah unit Apartemen mewah. Gibran dan Paula baru saja menyelesaikan dua ronde sesi percintaan mereka. Padahal pagi-pagi sekali Paula sudah berdandan sangat cantik, hanya untuk datang ke kantor James. Tapi sayang malah Gibran yang tergoda dengan kecantikan dan tubuh indah Paula, sehingga Gibran langsung saja menggauli Paula secara paksa. Karena Paula bersikeras menolaknya karena alasan ke kantor.
"Ini untuk pertama dan terkahir kalinya, kau memaksa ku untuk melayani mu!." Paula segera berpakaian setelah mandi.
"Kau juga sama, ini yang pertama dan terakhir, kau menolak keinginan ku. Apalagi untuk alasan yang tidak masuk akal seperti itu." Gibran tidak mau kalah, sampai ia juga memberikan peringatan pada Paula.
Paula memejamkan mata guna menutupi rasa ketakutannya. Ia sungguh takut jika Gibran akan memintanya berhenti dari kantor. Dan benar saja terjadi apa yang ditakutkannya , sebelum Paula membuka mata.
"Aku tidak ingin tugas mu sebagai istri harus terbengkalai karena urusan kantor ku. Jadi mulai saat ini kau akan mengajar kembali!." Lanjut Gibran tidak ingin memberikan kesempatan pada Paula. Karena ia yakin pasti Paula akan mengulanginya lagi.
"Gibran..." Ucap Paula sendu.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan menolak mu lagi!. Tolong biarkan aku tetap bekerja membatu mu di kantor?." Sambung Paula mendekati Gibran yang masih di tempat tidur.