
Keluarga Della yang dari kampung sudah berdatangan ke rumah sakit, setelah Pak Anton dan Agas mencari tahu mereka dan memberikan kabar mengenai keadaan Della yang sekarang. Termasuk kedua orang tuanya.
"Tapi kalau kami yang harus mengurus anak mu nanti, mau di kasih makan apa sama kami?. Kami juga sekarang sangat kesusahan." Ibu Della mengeluhkan kondisi keluarga mereka yang serba kekurangan saat ini. Jangan kan untuk menambah beban, yang ada mereka juga ingin melepaskan beban yang ada di pundak mereka.
"Hanya kalian yang aku punya sekarang?." Hati Della begitu sakit, di saat ia ingin mempercayakan anak kandungnya pada keluarganya. Namun justru mendapatkan penolakan.
"Kalau begitu berikan saja anak mu pada mantan suami mu. Ibu yakin mereka dapat mengurusnya dengan baik." Della menggeleng lemah.
Sedangkan Bapak dan saudara-saudaranya yang lain hanya menjadi pendengar saja. Karena dari awal mereka datang ke sini. Mereka sudah sepakat untuk menolak anak yang baru dilahirkan oleh Della. Terlebih jika mengingat suami Della yang sangat tidak ada bagus-bagusnya di mata mereka semua.
Air mata sudah tidak terbendung lagi, kala ibu nya minta untuk menyerahkan anak pada mantan suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sama saja dengan menyerahkan kesengsaraan pada anaknya kelak.
"Iya Bu, tidak apa-apa kalau kalian tidak bisa merawat anak ku. Aku akan mencoba cara lain." Della menyerah, kalau pun harus diserahkannya ke pasti asuhan, mungkin itu pilihan yang lebih baik.
.
.
__ADS_1
.
"James tunggu aku!." Teriak Paula frustasi.
"Aku yakin James, kau juga menginginkan seorang anak dalam hidup mu. Aku bisa memberikannya James. Aku baru kemarin dari Dokter, aku dinyatakan dalam masa subur James. Jadi kita bisa melakukannya tanpa istri mu dan suami ku tahu." Lanjutnya lagi di dalam mobil James. Namun James mungkin tidak mendengarnya, karena James sudah menyalakan mesinnya.
"James...James...James..." Teriak Paula sampai ia harus tersungkur jatuh.
Sepertinya kali ini, nasib buruk sedang menghampiri Paula di mana suaminya, Gibran sudah merekam dan melihat kejadian memalukan ini.
Paula menghapus air matanya, menatap dirinya yang begitu menyedihkan. Dengan pakaian yang sedikit kotor. Paula berjalan kembali menuju Apartemennya. Sebab tidak mungkin dirinya ke kantor dengan pakaian yang kurang layak.
Bugh
Paula terdorong kuat sampai terjatuh di atas sofa. Dengan gagah berani Gibran melancarkan aksinya tanpa pemanasan terlebih dulu. Karena sedang dikuasi oleh amarah dan emosi yang sangat memuncak.
"Sakit Gibran..." Paula merintih kesakitan, karena Gibran melakukanya dengan sangat kasar. Sehingga ia merasa tidak sanggup lagi untuk hidup saat mendapatkan perlakuan dari Gibran yang sangat buruk.
__ADS_1
"Kau ingin hamil kan?. Aku akan mengabulkannya sayang." Gibran menyentak kuat tubuh Paula, tidak menghiraukan jerit tangis Paula yang memang merasakan sakit pada inti tubuhnya.
"Hentikan Gibran!." Mohon Paula dengan sangat mengiba. Namun Gibran begitu tuli dan gelap mata tidak mendengar mau pun merasa ibu terhadap Paula. Sehingga Gibran terus saja menyentuh kasar tubuh istrinya.
.
.
.
"Keadaan Della sangat drop." Dokter Fandy mengabari Soraya yang saat ini berada di rumah melalui sambungan telepon rumah sakit.
"Karena ditakutkan berpengaruh pada bayinya. Makanya nanti siang sore akan melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya." Lanjut Dokter Fandy menyudahi obrolannya.
Dokter Fandy meletakan kembali pesawat teleponnya.
"Tunggu kedatangan Ibu Soraya dulu, setelahnya kita akan mengoperasi sesar Ibu Della. Kalian persiapkan saja meja operasinya." Ucap Dokter Fandy pada perawat yang ada di ruangannya.
__ADS_1