Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Season 2 James dan Soraya 23


__ADS_3

Kini James berada di ruang HRD. James tidak ingin membahayakan siapa pun di perusahannya. Terlebih bagi yang sedang wanita hamil


"Kenapa kau tidak mengatakannya pada ku?."


"Iya Maaf Pak. Tapi Della sendiri yang sudah sangat memohon pada saya. Jadi saya tidak enak untuk tidak mengabulkannya."


"Tapi justru itu akan sangat membahayakan Della dan bayi nya sendiri. Kalau kau tidak memberitahu ku. Bagaimana kalau aku ceroboh meminta Della untuk mengangkat barang-barang berat?."


"Iya Pak saya minta maaf."


Percakapan keduanya pun berakhir, kalau ponsel James berbunyi. Ternyata Soraya yang meneleponnya. James segera keluar dari ruangan HRD dan segera menjawab panggilan telepon Soraya.


"Iya sayang"


"Pulang kantor jemput aku di rumah Ayu. Vina dan Vida meminta ku datang untuk menemani mereka. Jason mengantar Ayu untuk kontrol kandungan."


"Bagaimana kamu ke rumah mereka?."


"Pak Anton yang menjemput ku."


"Baik lah sayang, nanti pulang aku ke sana. Kamu mau aku bawakan apa?."

__ADS_1


"Tidak James, terima kasih. Sudah ya James, Pak Anton sudah datang."


"Iya sayang, hati-hati."


James kembali memasukkan ponselnya dalam saku celana.


Sampai di depan pintu ruangannya, James mendapati Della sedang membelakangi meja kerjanya. Jadi ia tidak tahu kalau ada James yang sedang memperhatikannya. Sesekali Della menyusut air matanya dengan menggunakan tissue.


"Della, keruangan ku sekarang!." Suara James berhasil membuat Della membalik tubuhnya. Kala James sudah menutup pintu ruangannya.


Della membersihkan wajahnya yang masih banyak air mata. Kesedihannya yang tidak bisa ditahannya lagi dari semalam.


"Kalau pun aku harus dipecat, tidak apa-apa. Mungkin itu lebih baik. Supaya aku bisa kembali ke kampung." Gumam Della sambil merapikan rambutnya.


"Masuk."


"Bapak memanggil saya."


"Iya, duduklah!."


Della dengan langkah santainya berjalan mendekat kursi, lalu mendudukkan dirinya di sana.

__ADS_1


"Terima kasih Pak."


"Hem."


"Sebenarnya ini bukan masalah ku. Dan aku tidak peduli. Tapi karena kau bekerja di perusahan ku, menjadi sekertaris ku dan di depan mata ku kau menangis. Jadi aku akan katakan dengan tegas pada mu." James menaruh berkas yang dipegangnya, karena ia tidak tega melihat wajah Della yang pucat dan sesekali Della meringis pelan.


"Iya Pak mohon maaf dan saya siap menerima hukumannya." Della menundukkan kepalanya. Air matanya kembali jatuh, kali membasahi blouse nya.


"Kalau kau punya masalah, jangan pernah kau bawa ke tempat kerja. Harus kau tinggalkan di rumah atau tempat lain. Kalau kau sakit, jangan kau paksakan untuk masuk bekerja. Nanti yang ada kau bekerja tidak maksimal."


Della hanya mengangguk dengan suara tangis yang mulai terdengar.


"Hei kenapa kau menangis kencang seperti ini. Nanti orang yang mendengar akan salah paham pada kita." James segera bangkit dan berjalan kearah pintu lalu membukanya lebar.


James mengeluarkan ponsel lalu menghubungi Pak Anton untuk segera membawa Soraya dan kedua anaknya ke rumah sakit. Ia tidak bisa kalau harus mengintrogasi wanita yang menangis.


Hampir dua jam lamanya, barulah Soraya bersama kedua anaknya sampai juga di rumah sakit.


Della berada di ruangan James, masih dalam keadaan menangis. Walau tidak sekencang tadi. Sedangkan James sendiri sedang menunggu kedatangan Soraya, Vina dan Vida.


"Sayang..." James berdiri menyambut kedatangan mereka bertiga. Langsung memeluk Soraya sesaat lalu menggendong Vida yang lebih manja.

__ADS_1


"Ada apa kamu meminta Pak Anton mengantarkan kami ke sini?." Soraya menatap intens wajah James. Tapi sedetik kemudian tatapan itu berpindah agak sedikit ke bawah. Dimana Soraya menangkap sekilas noda merah pada leher dan kerah kemeja James.


"Oh aku tahu, kamu mau membuat pengakuan ya?." Soraya menjawab pertanyaannya sendiri dengan ketus sambil mendorong tubuh James.


__ADS_2