
Keesokan pagi...
James sudah di kantor dan mengadakan meeting dengan Jason, Agas, Pak Anton dan Daddy Leo melalui sambungan telepon. Pembangunan rumah sakitnya sudah jadi lima puluh persen, jadi James minta bantuan dari mereka untuk merekrut orang-orang yang mumpuni di bidangnya. Dari mulai staf administrasi sampai Dokter yang akan bertugas di rumah sakit Soraya.
Tidak terasa mereka melakukan meeting sampai waktu makan siang. Sesuai permintaan James, Soraya sudah tiba di kantor sekitar lima belas menit yang lalu. Ia menunggu di depan ruangan suaminya, tidak ingin mengganggu juga James yang sedang meeting walau dengan orang-orang terdekatnya. Bahkan ia segan untuk masuk ke ruang kerja suaminya sebab ia takut kalau nantinya ada berkas atau dokumen penting yang hilang dan dirinya yang akan ikut kena. Jadi tidak masalah kalau ia harus menunggu diluar.
"Sayang, kenapa tidak masuk saja?." James langsung menghampiri Soraya dan melihat ada beberapa tempat makanan disampingnya.
"Tidak apa James, tadi sekretaris mu sudah meminta ku untuk menunggu di dalam. Tapi aku yang menolaknya."
"Kamu membawakan kami makan siang?." Jason, Agas dan Pak Anton sudah berdiri dihadapan Soraya dan James.
"Tahu saja kalau aku akan mengajak kalian makan siang." James membawanya Soraya masuk. Agas dan Pak Anton yang membawa tempat makanannya.
__ADS_1
"Makanan sebanyak itu tidak mungkin kau bisa habiskan sendiri, James?." Jason meletakkan berkas di atas meja kerja James.
Soraya yang dibantu Agas pun selesai menyajikan makanan di atas meja yang ada di depan meja kerja James.
Jason, Agas dan Pak Anton pun memberikan penilaian atas masakan Soraya ini. Karena memang itu tujuannya untuk menanyakan apa makanan ini enak atau tidak?. Dan ketiganya memberikan acungan jempol untuk istri dari James tesebut.
Setelah selesai makan siang. Jason, Agas dan Pak Anton kembali ke perusahaan Jason.
"Aku bilang enak, ya enak sayang." James menjilati setiap jarinya, tidak rela kalau bumbu dari masakannya harus dicuci pakai air sabun.
Soraya membaca sekilas berkas yang tergeletak di atas meja kerja James, dimana memperlihatkan proyek pembangunan yang di beri nama Soraya's Hospital.
Deg
__ADS_1
Ini rencana awal mereka dulu saat sebelum Soraya meninggalkan James karena masalahnya. Rupanya James tetap melanjutkan rencana tersebut dan ini merupakan hal besar yang dilakukan James untuk dirinya.
"Semua itu untuk mu, sayang." James memeluk Soraya dari belakang, meletakkan dagunya pada bahu Soraya.
"Kenapa kamu melakukannya?. Semua yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup untuk ku James." Soraya menitikkan air mata bahagia. Betapa besar bukti cinta James untuknya.
"Dulu pun aku sempat berpikir, kalau kita tidak berjodoh. Aku tetap akan membangun rumah sakit itu tetap dengan memakai nama mu. Supaya kamu tahu kalau aku sangat mencintai mu, sangat mencintai mu." James mengecup leher Soraya dan menghisapnya kuat hingga bisa dipastikan akan adanya jejak kepemilikan dari James.
"Kenapa begitu?, bukannya aku pergi meninggalkan mu?." Soraya masih tidak percaya kalau James tetap akan melanjutkan rencana mereka.
"Kerena aku sangat mencintai mu, menginginkan mu menjadi bagian dari hidup ku." James kembali menghisap kuat bagian leher yang lain, dan kembali meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.
"Ah...." Kini bukan hanya bibir saja yang menciumi leher Soraya, melainkan tangan James sudah meremas kedua buah dada Soraya dengan cukup kencang.
__ADS_1