
"Suster, tolong aku yuk!. Ada pasien ibu-ibu ngamuk. Asi nya enggak keluar." Panggil salah satu suster yang lain terlihat panik.
Suster yang dimintai tolong menganguk, mereka segera menuju ruangan ibu tersebut.
Soraya dan James saling pandang, kemudian kembali melihat kedua suster yang sudah menghilang dengan cepat.
Soraya dan James segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Melihat satu persatu ruangan yang dimaksud suster tadi, sampai mereka menemukannya diruangan paling ujung. Dimana terlihat seorang ibu muda sedang menangis histeris dan sesekali mengamuk teriak-teriak.
Ada tiga pasien yang menempati ruangan itu termasuk Ibu muda yang sedang menangis.
Ada beberapa suster yang sedang berusaha menenangkan, ada juga yang menggendong bayinya lalu dibawa keruangan khusus bayi. Sedangkan suami si Ibu muda memeluk erat tubuh istrinya.
"Ibu...Ibu harus tenang. Coba tarik nafas dalam-dalam, lalu buang perlahan." Pinta suster senior.
Ibu muda itu tetap menangis meraung-raung dalam pelukan suaminya. Pastinya sangat mengganggu pasien yang lain, tapi mereka tidak ada yang protes hanya saja menatapnya iba.
"Ibu menangis seperti ini pun tidak akan menyelesaikan masalah Ibu. Yang ada, justru Ibu semakin mempersulit diri sendiri." Lanjut suster senior.
"Bapak, bisa dibantu Ibu nya untuk tenang. Kalau butuh sesuatu panggil kami. Dan untuk bayi Bapak sama Ibu untuk sementara diruangan bayi, tapi diusahan Ibu mau berinteraksi dengan bayinya, termasuk belajar menyusui bayinya." Jelas suster yang kemudian pamit.
__ADS_1
Sementara Soraya dan James juga ikut pergi dari sana, meninggalkan suami yang akan menenangkan istrinya.
"Iya sayang, kamu harus tenang. Ada aku yang akan selalu menemani mu disini, aku tidak akan meninggalkan mu seorang diri. Mama sama Papa juga dalam perjalanan kesini, jadi kamu harus tenang dulu. Jangan terlaku khawatir yang berlebihan." Si suami akhirnya menenangkan, mengelus pucuk kepala istrinya.
Si Ibu muda sudah berhenti dari menangisnya setelah ia merasa lelah dengan kegiatan tersebut.
"Tapi aku tidak mau menyusui bayi kita?, ****** ku terasa sakit. Bayi nya juga menangis terus jadi aku semakin pusing". Keluh si Ibu muda pada suaminya.
"Tapi kasihan bayi kita sayang, kalau tidak mendapatkan asi." Suami sedikit protes. Si istri tetap menggeleng tidak mau untuk menyusui.
.
.
.
"Bagaimana menurut mu sayang?, setiap Ibu yang baru melahirkan mendapatkan pendampingan dari ahli. Untuk membantu mereka supaya bisa keluar dari masalah pasca melahirkan. Baby blues ini bisa menyerang setiap ibu yang baru melahirkan, bukan hanya milik ibu muda yang baru memiliki satu anak saja". Soraya memposisikan jika dirinya yang mengalami itu. Sebab tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dirinya akan terkena baby blues meski ia seorang dokter.
"Masukankan mu boleh juga sayang. Sebagai bentuk antisipasi ibu pasca melahirkan untuk meminimaliskan dari serangan baby blues itu sendiri." James akan menyetujui semua kebijakan yang istrinya buat, apalagi untuk membantu banyak orang.
__ADS_1
"Baiklah sayang, besok akan kita meeting bersama para Dokter." Balas Soraya.
.
.
.
Menanggalkan atribut seorang Dokter sekaligus pemilik dari rumah sakit besar yang sudah dikenal banyak orang. Soraya tetaplah seorang istri yang baik untuk suaminya.
Usai mandi dan merias diri, Soraya meninggalkan James yang kini berada di kamar mandi. Soraya pergi ke dapur guna memasak untuk makan malam mereka.
Tidak butuh waktu lama, semua makanan sudah tersaji di atas meja makan.
"Emmm...harum sekali sayang." James memeluk Soraya dari belakang. Untung saja mangkuk yang berisi sup tidak tumpah dari tangan Soraya.
"Yang harum itu tubuh ku atau makanannya sayang?." Bibir merah Soraya mengerucut, hingga James menarik dagu itu dan segera ********** kasar.
Keduanya saling berciuman di depan makanan yang siap disantap.
__ADS_1
"Aku ingin memakanmu terlebih dulu sayang?." Suara James sudah terdengar berat. Soraya membalik tubuh dan tangan yang langsung dikalungkan pada leher James.
"Ayo sayang!." Ajak Soraya menyambut keinginan James.