
London, Inggris.
Kehangatan tetap terjaga walau penghuni utama keluarga Gilbert terdiri dari empat orang pria dan satu orang wanita paling cantik. Diantara keempat pria tersebut antara lain ada Daddy Leo, James, Jack dan John. Dan untuk sang wanita hanya ada Mommy Irena seorang.
Mommy Irena begitu menikmati setiap momen di setiap hari nya. Mengurus semua keperluan mulai dari Daddy Leo, James sampai si kembar. Tidak merasa cepek atau lelah sedikit pun bila dikerjakan dengan hati senang, pikiran bahagia dan dengan penuh keikhlasan.
" Mommy dimana dasi Daddy?."
" Mommy lihat map warna merah enggak yang aku simpan di atas nakas?."
" Grand Ma, sarapan ku sudah jadi belum?."
" Grand Ma, koas kaki ku sudah tidak ada yang bersih. Bagaimana ini?. Soalnya Papa ikut pinjam kaos kaki ku!."
__ADS_1
Bila sudah terjadi seperti ini, Mommy Irena memasang kuping baik-baik untuk mendengar apa yang keempat pria tampan butuhkan. Dan tidak membutuhkan waktu lama bagi Mommy Irena untuk menyiapkan itu semua. Sebab ia sudah memiliki kaki tangan yang sangat handal dan profesional untuk mempercepat kerja nya.
Dalam satu waktu bersamaan permintaan semuanya sudah terpenuhi dengan posisi Mommy Irena saat ini sudah berada di meja makan dengan menu sarapan mereka.
" Istri ku the best." Ungkapan terima kasih Daddy Leo sembari mengecup semua permukaan wajah Mommy Irena dan terakhir pada bibirnya.
" Mommy paling pengertian." Si sulung James memberikan kecupan pada kedua pipi Mommy Irena dan sebuah pelukan.
" Grand Ma paling tahu apa yang aku mau." Jack yang sedikit cuek tapi tidak pada keluarga nya. Memberikan kecupan pada pipi kanan Mommy Irena disertai dengan sebuah pelukan.
Usai dengan sarapan keempat pria itu menuju tempatnya masing-masing. Daddy Leo berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan James terlebih dahulu mengantarkan Jack dan John ke sekolah, baru setelahnya ia ke kantor. Kini hanya Mommy Irena yang masih stay di meja makan, mengintruksikan menu untuk makan siang dan malam mereka. Setelahnya ia masuk ke kamar hendak menelepon Vida dan Vina.
Dalam perjalanan ke sekolah, Jack yang duduk di samping James selalu melirik ke arah bangku belakang dimana John berada.
__ADS_1
" Kenapa?, ada apa?. Dari tadi Papa perhatikan kalian saling memberi kode. Mau main rahasia-rahasiaan sama Papa?." Ternyata James memperhatikan keduanya.
" Pa, Papa dan Miss Paula bagaimana?. Hanya berteman baik, teman dekat dengan status atau bagaimana?." John mendekatkan kepalanya pada James dan menatap wajah James dari samping belakang.
" Tumben sekali kalian bertanya hal pribadi Papa?. Papa kira kalian tidak peduli pada Papa lagi?." James menatap keduanya secara bergantian namun tetap berkendara secara aman untuk mereka.
" Iya kami hanya ingin tahu saja Pa, Kejelasannya bagaimana?. Papa harus memberi contoh yang baik pada kami tentang wanita." Kilas Jack sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah John.
" Untuk saat ini Papa masih berteman baik saja dengan Miss Paula."
" Kenapa?." Tanya Jack dan John bersamaan, ingin tahu lebih lanjut lagi perasaan sang Papa saat ini berlabuh pada siapa?. Atau memang belum ada?."
" Apa kalian sudah melupakan Bibi Soraya?." Andai saja James mengetahui eskpresi apa yang kini sedang ditunjukkan oleh Jack dan John ketika mendengar nama Soraya.
__ADS_1
Mereka begitu bahagia saat James masih mengingat wanita yang memang mereka harapkan bisa kembali lagi bersama sang Papa untuk menemani hari tua nya. Menjadi pasangan yang bahagia seperti Mommy dan Daddy mereka.
" Tentu kami masih ingat Pa?. Apa itu tandanya Papa masih berharap akan kembali bersama dengan Bibi Soraya?." Tanya Jack setelah mobil sambil di depan gerbang sekolah mereka.