Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Season 2 James dan Soraya 13


__ADS_3

Soraya pagi ini mengunjungi ruangan para ibu yang baru melahirkan. Ia bertanya pada salah satu suster yang berjaga mengenai ibu muda yang kemarin menangis-menangis. Suster pun menjelaskan kondisi ibunya belum mau untuk menyusui, atas persetujuan suami dari ibu itu untuk memberikan susu formula pada bayinya sampai ibu muda tersebut mau menyusui anaknya.


"Selamat pagi Ibu Soraya." Para suster menyapa Soraya yang berhenti didepan mereka.


"Iya selamat pagi." Balas Soraya seraya tersenyum hangat pada mereka.


"Semoga saja ibu muda itu mau untuk segera menyusui bayinya setelah mendapatkan arahan dan pembinaan." Ucap Soraya.


"Iya Ibu Soraya semoga saja." Balas suster.


"Bagaimana dengan ibu Vani?" Soraya menanyakan ibu muda yang baru melahirkan tadi malam.


"Ibu Vani baik-baik saja, Asi nya sudah keluar dan tidak ada masalah. Bayinya juga sangat pintar." Jawab suster yang bertugas.


"Baik, tolong dipantau terus saja ya. Saya masih akan melihat pasien yang lain." Ucap Soraya.


"Baik Ibu Soraya, terima kasih." Balas suster.


Soraya segera pergi dari sana, sekarang sasarannya ruangan lansia. Karena menurut informasi dari laporan sebagian besar yang menghuni rumah sakitnya.


Tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang sedang sakit pada umumnya. Di ruangan ini pun ada beberapa pasien lansia yang mengadu kesakitan dan ada juga yang menangis karena rasa bosan yang melanda.

__ADS_1


Soraya menghampiri suster yang sedang berjaga, "Berapa hari pasien paling lama yang ada disini?."


"Dua minggu ada Ibu Soraya." Jawabnya.


"Sakit apa?." Tanyanya lagi.


"Sakit asma. Sebenarnya beliau sudah pulang, tapi minta dirawat lagi. Katanya lebih baik dirawat di rumah sakit dari pada di rumah ditelantarkan." Jawab suster.


Soraya jadi teringat dengan Mommy Stella, betapa bersyukurnya Soraya saat Mommy Stella lebih meminta urus dirinya ketimbang di rumah sakit. Tapi itu setiap orang, memiliki sudut pandang berbeda untuk masalah yang sama.


Soraya mengangguk, "Baik lah, kalian lanjut lagi." Soraya pun pamit dari sana.


Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Soraya menemui beberapa orang yang beraneka ragam, ya sebenarnya hampir sama. Orang akan panik saat melihat orang terdekatnya sakit, akan menangis jika mereka kehilangan. Tapi rasanya disini sangat komplek sekali dengan permasalahan mereka.


"Ada apa?."


"Ah tidak aku hanya ingin melihat mu saja."


"Kamu dari mana?."


"Melihat bayi-bayi mungil, mereka menangis saling bersahutan, ada juga yang diam aja tidak merasa terganggu dengan suara tangisan yang lain. Mereka lucu-lucu." Mata Soraya begitu berbinar saat menceritakan tentang bayi-bayi yang tadi dilihatnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicara di ruangan mu." James menarik lembut tangan istrinya. Soraya pun patuh mengikuti langkah James.


Sampai di ruangan Soraya. James mendudukkan Soraya di atas meja kerjanya.


"Kamu tidak bersedih kan setelah melihat mereka?." Tanya James khawatir.


Soraya menggeleng seraya memegang wajah James. " Tidak, justru aku tambah bersemangat untuk menanti mereka ada didalam perut ku. Anak-anak mu, anak kita."


"Bagaimana kalau kita sekarang...."


Tok Tok Tok


"Ah menganggu saja" Gerutu James sambil menurunkan Soraya.


Soraya terkekeh melihat James sudah dalam mode on harus terganggu seperti ini.


"Masuk" Kala Soraya sudah duduk di kursinya.


Pintu ruangan Soraya pun terbuka memperlihatkan sekretarisnya membawa beberapa map.


"Maaf Bu, ada yang harus ibu tanda tangani. saya akan tunggu ini, sebab sudah ditunggu juga sama bagian pengadaan."

__ADS_1


"Cepat sayang selesaikan pekerjaan mu, nanti segera datang ke ruangan ku saja." James mengecup pucuk kepala Soraya. Karena yang harus tanda tangani Soraya ada banyak, jadi ia akan menunggu di ruangannya saja. Dari pada harus melihat istrinya tapi belom bisa menyalurkan gairahnya.


"Jason?." Tambah pusing James dibuatnya dengan kehadiran Jason.


__ADS_2