Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Bab 120


__ADS_3

Soraya walau pun tinggal di rumah Gilbert namun sekarang ia jarang berbicara pada siapa pun tanpa terkecuali. Ia lebih senang mengurung diri di dalam kamar, atau hanya sesekali mendengarkan celotehan Jack dan John.


Mommy Irena dan Oma Grace mulai kewalahan dengan diamnya Soraya. Sungguh mereka tidak ingin melihat Soraya seperti ini. Namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolong Soraya secara Medis. Maka dari Itu Mommy Irena Berbicara dengan Daddy Leo, James dan Jason.


" Bagaimana Daddy sudah bicara dengan teman Daddy yang seorang Psikolog itu. Soraya hampir satu hari penuh di dalam kamar. " Mommy Irena memberitahu pada ketiganya.


" Iya Mom sudah. Mungkin besok atau lusa Magda bisa datang kesininya, karena ia juga disana memiliki pasien. " Jawab Daddy Leo.


" Kenapa enggak pakai yang lain saja?. " Tanya James.


" Kalau orang yang baru atau tidak dikenal Soraya kemungkinan akan mempermudah untuk proses pendekatan dan penyembuhannya. Kalau sama orang yang dikenal pasti akan ada tekanan tersendiri untuk Soraya." Jelas Daddy Leo.


" Iya atur saja Dad, yang jelas Soraya harus cepat mendapatkan penanganan dari ahlinya." Balas Mommy Irena.


Pintu kamar Soraya tidak pernah di kuncinya dari dalam, karena supaya semua orang mudah mencarinya, terutama Jack dan John. Namun malam ini yang datang bukan mereka melainkan James.


" Sayang " Panggil James lembut.


Soraya membalik tubuhnya yang sudah berbaring di atas tempat tidur, menatap kosong kearah James yang duduk di tepi tempat tidur. "Apa James? ".


" Berbagi dengan ku untuk setiap duka mu, mari kita bicara, supaya aku bisa membantu mu sayang." Lanjut James lagi, mengusap pipi yang mulai tirus.


Bagaimana tidak, Soraya juga kehilangan selera makan. Ia hanya mampu makan lima sampai tujuh suap setiap harinya.


Mommy Irena dan yang lainnya pernah menyuapi Soraya dengan harapan Soraya bisa makan dengan lahap, namun tetap saja hanya sedikit makanan yang masuk kedalam perut soraya setiap harinya.


Tangan Soraya pun terulur membalas sentuhan James pada pipinya. " Ini kita lagi bicara, memangnya kita mau bicara seperti apa James?."


Soraya tetap pada posisinya sehingga James merebahkan tubuhnya disamping di Soraya.


" Banyak yang harus kita bicarakan sayang, salah satunya tentang pernikahan kita. Kamu harus kuat dan bisa melewati semua ini. Ada aku dan yang lain yang akan terus mendukung mu." James mengelus sepanjang lengan kiri Soraya.


" Maaf James sepertinya aku tidak bisa menikah dengan mu, aku tidak ingin kamu mempunyai seorang yang gagal di meja operasi sehingga pasiennya meninggal. Dan aku tidak bisa membanyangkan jika kita menikah dan memiliki anak, anak kita dan kamu akan terus saja terseret dalam masa lalu ini. Jadi lebih baik kita akhiri saja sampai disini." Buliran bening milik Soraya menetes melewati pangkal hidungnya dengan deras.


" Jangan membuatku terus menyesal untuk seumur hidup. Kamu pria baik, tampan pasti banyak wanita di luar sana mengantre supaya bisa kamu nikahi." Lanjut Soraya menampilkan senyum tipis masih dibarengi lelehan air mata namun tidak sederas tadi.

__ADS_1


James menggeleng lemah dan memegang penuh wajah Soraya."Tidak akan ada yang pernah menggantikanmu, aku akan menunggu mu sampai kapan pun dan melupakan peristiwa ini. Aku sangat mencintai mu Soraya." James melabuhkan ciuman hanyat pada bibir Soraya yang tertutup rapat.


Hanya beberapa menit saja, setelahnya Soraya yang melepaskan bibir James dengan menarik bibirnya sendiri.


" Terima kasih sudah mau mencintaiku, tapi cinta ku lebih besar untuk mu James. Sehinga aku akan melepaskan mu supaya bisa bahagia dengan wanita lain. Percayalah itu yang aku inginkan saat ini." Soraya meyakinkan James untuk menerima perpisahan ini.


Lagi lagi James menggeleng lemas."Tidak akan ada perpisahan diantara kita sayang." James pun memastikan Soraya.


Perbincangan keduanya pun berlalu begitu saja, kala Soraya sudah terlebih memejamkan keduanya matanya. James mendengar nafas Soraya yang teratur, menandakan Soraya sudah pergi ke alam mimpi.


" Tidurlah sayang, aku akan selalu menemani dan menunggu mu sayang." James mengecup kening Soraya beberapa saat sebelum ia juga ikut tidur ditempat tidur yang sama dengan Soraya.


Keesokan paginya,


Sesuai dengan apa yang sudah di janjikan Daddy Leo, hari ini seorang Psikolog sudah datang ke rumah Gilbert untuk bertemu dengan Soraya dan membantu keluarga Daddy Leo. Setelah menempuh perjalanan udara kurang dari tiga jam, panggil saja ia, Magdalena.


Daddy Leo dan Mommy Irena juga menargetkan dalam waktu dua minggu ini Soraya paling tidak sudah harus siap untuk menghadapi pernikahannya. Walau terkesan egois dan terburu-buru namun mereka yakin jika Magdalena akan cepat bisa menangani permasalahan Soraya.


Magdalena sudah mengantongi informasi lengkap dari Dokter Justin atas permintaan Daddy Leo, supaya tidak ada kesalahan sedikit pun.


" Aku dan Irena juga beruntung memiliki Soraya dalam hidup kami, makanya kami ingin yang terbaik untuk Soraya dan juga James." Balas Daddy Leo.


" Iya Magda, bantu lah Soraya semampu mu, kami percayakan kesembuhan Soraya pada mu, tentunya do'a pun kami panjatkan untuk kelancaran kalian selama dalam menjalani pengobatan." Mommy Irena sangat menaruh harapan besar pada Magda.


Magda tersenyum sambil memegang tangan Mommy Irena. " Percayalah akan aku lakukan sebisa ku dan bantu kami dengan do'a kalian semua."


" Oh iya, aku sudah menyiapkan satu ruangan khusus untuk kalian supaya kalian leluasa dalam melakukan pengobatannya. Soraya dan James sudah menunggu mu didalam sana." Beritahu Mommy Irena dan mengantarkan Magda keruangan tersebut.


" Kalau nanti perlu apa-apa bisa panggil kami." Lanjut Mommy Irena sebelum menutup pintu ruangan.


" Baiklah Irena, terima kasih." Balas Magda.


Magda mulai memperkenalkan dirinya pada James dan Soraya. Ia meminta James untuk menunggu di ruangan depan yang hanya tersekat oleh dinding. Supaya Soraya memiliki keleluasaan dalam menyampaikan apa yang sedang dirasanya saat ini. Lalu ia secara personal sudah mulai bertanya pada Soraya tentang kejadian kemarin. Soraya enggan untuk menceritakannya walau itu pada seorang Psikolog. Berat bagi dirinya untuk bicara hal itu karena menurutnya, orang lain yang tidak mengalami diposisi dirinya akan sangat sulit memahami dirinya. Sejauh ini ada perasaan penyesalan dan kurang percaya diri terhadap kemampuan yang sudah dimilikinya hanya karena satu kesalahannya yang fatal.


" Maka dari itu Soraya, aku berada disini untuk membantu mu. Kita berbagi hal sekecil apa pun dalam kejadian kemarin. Yang penting kamu mau untuk berbagi." Magda melakukan Persuasi pada Soraya. Ia tidak memaksa hanya saja sedikit memberikan penekanan pada setiap kalimatnya supaya Soraya mau membuka pikirannya dan mulai berbicara.

__ADS_1


Dan berhasil. Soraya memceritakan kembali secara detail, terperinci dan tersusun secara rapi dari awal sampai akhir. Soraya mulai berkeringat dingin, tidak nyaman dan sedikit terbata-bata dalam penyempaiannya saat lima menit bagian terakhir.


Soraya menangkup wajah dengan kedua tangannya dengan isak tangis yang sangat memilukan. Tidak mudah bagi sebagian orang menerima kegagalan apalagi harus sampai menghilangkan nyawa seseorang, termasuk dirinya.


" Tidak masalah menangislah dengan kencang!, sepuasmu, keluarkanlah semua beban yang sekarang menghimpitmu, jika dengan menangis bisa mengurangi itu semua, maka menangislah!, supaya beban dalam hati dan pikiran mu terasa ringan.Tapi ingat jangan kamu jadikan ini kegagalan terbesar dalam hidup mu. Karena tidak mudah bagi seorang yang bertitle Dokter bedah sekali pun menyembuhkan orang yang sakit dengan kondisi yang bisa dikatakan 90 % untuk dinyatakan gagal berbanding 10 % untuk keberhasilannya, karena kita bukan sang pemilik hidup."


.


.


Mampir Yuk di Novel Author yang lain :




Cinta Tuan Alex ( Tamat).




Suami kedua ( On going ).




Cinta Karena Perjodohan ( On going ).




Jangan lupa dukungannya 'wan kawan dengan cara Like, Komen, Gift dan Vote.

__ADS_1


Terima kasih kawan 🙏.


__ADS_2