
Akhirnya operasi berjalan sangat lancar, walau sang bayi harus terlahir secara prematur. Bayi perempuan yang begitu cantik. Bayi tersebut langsung mendapatkan penanganan yang sangat intensive, apalagi di bawah pengawasan Soraya dan James langsung.
Soraya mendatangi ruangan Dokter Fandy untuk mengetahui keadaan Della setelah melahirkan secara sesar.
"Della sendiri bagiamana keadaanya?."
"Mudah-mudahan tidak ada masalah. Tapi saat ini, Della malah dalam pengaruh obat bius jadi belum sadar."
"Berapa persen harapan Della untuk sembuh setelah melahirkan?."
"Seharusnya malah bisa bertahan lebih lama lagi. Tapi masih kita pantau perkembangannya saat ini."
"Lalu bayinya sendiri, bagiamana?. Berapa hari bisa tumbuh dengan normal?. Supaya bisa bertemu dengan Della dan menjadi penyematan untuk kesembuhan Della."
"Satu sampai dua Minggu ini. Biasanya bayinya sudah bisa tumbuh dengan normal."
Soraya dan James terus saja memantau perkembangan Della dan bayinya. Tidak ada hentinya mereka mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Della, supaya bisa melihat dan menggendong buah hati yang dikeluarkannya dengan penuh perjuangan.
Hingga beberapa jam berlalu, Della masih belum sadarkan diri. Kecemasan terlihat jelas dari wajah Soraya dan ia segera menuju ruangan Dokter Fandy.
"Dokter Fandy, kenapa Della masih belum sadarkan diri ya?. Padahal seharusnya sudah sadar kan?."
Dokter Fandy melihat jam tangannya, seharusnya memang sudah sadar satu atau dua jam yang lalu.
__ADS_1
"Coba kita lihat setengah jam lagi, mudah-mudahan Della bisa bertahan untuk bayinya."
"Iya Dokter."
Soraya masih duduk di ruangan Dokter Fandy, ingin menenangkan hati dan pikirannya yang selalu terfokus pada Della.
Namun tidak lama, James datang dengan membawa kabar baik tentunya, kalau hari ini Ayu masuk rumah sakit untuk melahirkan juga.
"Perawat sudah menyiapkan kamar dan semuanya. Dokter sedang dalam perjalanan ke sini juga."
"Mereka sudah di mana?."
"Dalam perjalanan menuju ke sini. Semua orang sudah aku kabari juga. Mommy besok baru bisa terbang ke sini."
"Semuanya ada baik-baik sayang." James mengecup pucuk kepala Soraya.
.
.
.
Soraya menemani Ayu yang satu jam lagi akan melakukan operasi sesar. Davina dan Davida sudah bersama Nini dan Laura.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ponsel Soraya bergetar dan itu telepon dari Dokter Fandy.
"Baik, aku akan segera ke sana!." Soraya segera memasukkan kembali ponselnya usai berbicara dengan Dokter Fandy.
"Jason, Ayu, aku harus ke ruangan Della. Nanti aku ke sini lagi." Soraya memegang tangan Ayu.
"Iya Soraya. Apa pun yang terjadi pada Della, itu yang terbaik dan kamu sudah berusaha melakukan yang tebaik untuk ibu dan bayinya." Soraya menundukkan kepalanya sebentar lalu menghapus air matanya.
James memeluknya dari belakang, memberikannya kekuatan.
"Ayo sayang, Della sudah menunggu kita." Soraya menarik tangan James, dengan langkah cepat menuju ruangan Della.
Selama dalam perjalanan ke sana, tidak hentinya Soraya menitikkan air mata, kenapa harus sudah sekerat begini batu bisa bertemu dengan Della. Sehingga ia merasa tidak maksimal membantu mengobati Della.
"Soraya..." Dokter Fandy menyerahkan satu lembar keras yang baru beberapa menit lalu di tulis Della.
"Apa ini?." Soraya belum membuka lipatan kertas itu karena matanya fokus pada perawat yang melepas infus dan selang pernafasan Della.
"Della sudah tidak ada, ia baru saja meninggal. Aku dan Dokter Ihsan sudah mengeceknya, maaf aku Soraya." Soraya tidak semuanya mendengar omongan Dokter Fandy, ia berjalan mendekat brankar di mana Della sudah tertidur dengan tenang.
"Kau harus berjuang lebih keras lagi. Kau harus bertemu dengan putri mu dulu, Della!." Soraya mengguncang tubuh Della. James segera menarik tubuh Soraya dan memeluknya sangat erat.
"Della sudah tenang sayang, ini yang terbaik untuk Della."
__ADS_1
"Tapi..tapi, Della belum melihat putrinya sayang. Bagaimana bisa Della bisa pergi begitu saja?."