Teman Tidur Tuan Jason Gilbert

Teman Tidur Tuan Jason Gilbert
Season 2 James dan Soraya 20


__ADS_3

Kerja sama kedua pun sudah disepakati dan berjalan sangat lancar, usai Soraya dan James memastikan kalau alat-alat kesehatan yang mereka miliki memang sangat memenuhi standard mereka.


"Kalian berdua tidak akan menyesal sudah menerima tawaran terbaik dari kami." Ucap Paula memandangi keduanya.


Soraya dan James menerima uluran tangan Paula saat penandatanganan kesepakatan mereka selesai.


"Saya harap seperti itu Nyonya Paula. Dan saya sangat berharap dan berterima kasih kalau Nyonya Paula bisa menempatkan diri dengan baik." Balas Soraya.


"Iya maaf kan saya, Nyonya Soraya. Itu tidak akan terjadi lagi." Paula tahu memang itu salahnya. Dan tidak seharusnya ia membahayakan perusahan suaminya untuk hal konyol seperti tadi.


"Baiklah saya pamit." Paula membawa berkas kerja sama mereka. Dan segera pergi dari gedung rumah sakit milik Soraya. Walau pun tidak dipungkiri Paula begitu sakit melihat kebahagian James dan Soraya. Terlebih melihat bangunan gedung rumah sakit yang begitu kokoh yang pastinya dipersembahkan James untuk Soraya. Dan hal itu juga Paula sudah mengetahuinya.


James dan Soraya kembali ke dalam ruangan Soraya.

__ADS_1


"Aku berharap kita tidak salah dalam mengambil langkah. Karena bagaimana pun aku tidak ingin mempertaruhkan rumah tangga kita sayang." James kembali mengingatkan Soraya. Setalah tadi berulang kali menyakinkan Soraya untuk menolak kerja sama ini.


"Iya sayang, tidak akan. Aku lebih mencintai mu dari siapa pun. Terima kasih sudah selalu mendukung ku." Soraya kembali memeluk James.


.


.


.


"Kamu sudah pulang sayang?." Gibran sudah pulang juga dari kantornya. Gibran adalah nama suami dari Paula, yang berprofesi sebagai pengusaha alat kesehatan yang sudah hampir lima belas tahun berkecimpung dalam dunia bisnis.


"Iya sayang, semuanya berjalan sangat lancar." Balas Paula, menyerahkan berkas ke tangan Gibran.

__ADS_1


"Aku sudah mendapatkan sekolah yang bagus untuk mu mengajar dan sudah mendaftarkan mu." Gibran memeluk Paula dari belakang dengan hanya mengenakan boxer saja.


Ya, Paula akan tetap menjadi tenaga mengajar di Jakarta. Sebelum ia melihat cinta James yang begitu besar untuk Soraya. Tapi setelahnya ia memutuskan untuk membantu Gibran di perusahaan. Supaya bisa mendapatkan celah lebih banyak untuk mendekati James dan memisahkan keduanya.


Malas dan terpaksa, itu yang dirasakan Paula saat harus melayani suaminya. Karena dirinya hanya menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Paula hanya pasrah saja, kala tangan Gibran sudah menggerayangi tubuh indahnya. Pakaian Paula sudah berserakan dimana-mana. Kini keduanya sudah dalam keadaan polos.


"Sayang, jangan diam saja. Ayo balas aku!." Gibran mengangkat wajahnya. Melihat wajah Paula yang selalu saja datar tanpa ekspresi.


Gibran kembali mempermainkan dada Paula untuk beberapa lama, kini suara Paula sudah terdengar mendesah. Tapi sayang Gibran tidak tahu jika suara ******* Paula terjadi kala Paula membayangkan kalau James yang sedang melakukannya.


Hanya itu yang bisa Paula lakukan untuk membalas sentuhan Gibran. James lah yang selalu Paula lihat dalam diri Gibran selama percintaan mereka berlangsung.

__ADS_1


"Ahhh...." Desah Paula kencang, dengan menyebutkan nama James, namun nama James ia ucapkan dalam hati berbarengan dengan lelehan kenikmatannya.


__ADS_2