
Terbawa sampai Apartemen, Soraya terus saja menempelkan kedua telapak tangan pada perutnya. Seolah Soraya bisa merasakan gerakan lincah bayi tersebut dari perutnya sendiri.
Melihat hal itu, perasaan James campur aduk. Merasa senang kalau Soraya selalu optimis jika tidak akan lama lagi mereka juga akan memiliki momongan. Tapi ada sedihnya juga, takut jika hal itu masih lama menghampiri mereka. Namun satu hal yang pasti, apa pun yang terjadi James akan selalu berdiri di samping Soraya.
"Emmmm... wangi banget istri ku ini!." James memeluk Soraya dari belakang sambil menghirup sedikit ceruk leher Soraya. Perlakuan James seperti ini, nyatanya cukup membuat Soraya sadar kalau saat ini masih ada suaminya yang harus selalu ia perhatikan. Jangan sampai hanya karena masalah anak, ia akhirnya lalai pada kewajibannya sebagai istri.
"James, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu, maaf ya kalau aku lama dimeja rias." Soraya bangkit, menarik pelan tangan James lalu membawa kaluar dari dalam kamar.
"Duduk disini sayang!, aku akan melayanimu." Soraya segera mengisi piring kosong dengan nasi dan beberapa lauk yang sempat dimasaknya. Semoga saja rasanya tetap enak.
"Iya sayang, terima kasih." James menerima piring yang sudah penuh tersebut.
James dan Soraya mulai makan. Hening, saling pandang, melempar senyum. Untung saja momen romantis itu tetep berjalan aman sampai tempat tidur. Walau harus menunggu kurang lebih satu jam sampai mereka nyaman melakukannya setelah makan malam. Keduanya sama-sama terkulai lemas dengan satu kali pelepasan.
Keesokan paginya...
James dan Soraya sudah bangun sekitar jam lima. Kini mereka memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap rumah sakit yang baru dibangunnya. Keduanya akan saling bahu membahu untuk mengerjakan semuanya secara bersama-sama.
Pagi ini James dan Soraya membawa sarapan mereka ke kantor. Supaya tidak terjebak macet.
__ADS_1
.
.
.
Sampai di rumah sakit. James dan Soraya melewati pintu depan. Dimana jalanan umum yang lebih sering digunakan untuk keluar masuk pasien atau banyak orang.
James dan Soraya ingin melihat saja, apa yang para pegawainya kerjakan disaat masih pagi seperti ini. Ternyata sangat membanggakan, mereka bekerja sesuai SOP yang berlaku di rumah sakitnya.
"Semoga saja sampai kapan pun mereka semua akan tetap memiliki dedikasi kerja yang tinggi." James dan Soraya melanjutkan kembali langkah mereka sampai di ruangan James.
Usai dengan sarapan mereka, Soraya keluar dari ruangan James menuju ruangannya, berbeda dengan James yang masuk ke dalam ruang meeting.
"Selamat pagi Pak James"
"Selamat pagi semua"
James sudah memulai meeting pagi ini bersama kelima staf keuangannya. Masing-masing dari mereka melaporkan keuangan yang selama ini masuk dari beberapa pembayaran pasien, baik yang secara tunai atau pun non tunai.
__ADS_1
Usai meeting, James tidak langsung keruangannya. Ia mencari keberadaan sang istri yang tidak berada diruangannya.
"Dimana Ibu Soraya?." Tanya James pada sekertaris Soraya.
"Ibu Soraya lagi ke ruangan bayi Pak." Jawabnya.
"Terima kasih" James segera menyusul Soraya.
Sampai di ruangan bayi, Jamas melihat Soraya yang sedang berinteraksi dengan para suster.
"Sayang..." Soraya menoleh kearah James yang berjalan kearahnya.
"Sayang, kamu disini juga?." Tanya Soraya.
"Iya, aku tahu kamu disini dari sekertaris mu." Jawab James.
Soraya dan James melihat ada beberapa bayi yang memenuhi salah satu ruang di rumah sakitnya.
"Tolong bilang pada mereka, untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk bayi dan ibunya." Pinta Soraya pada James sambil menunjuk bayi-bayi mungil itu.
__ADS_1