Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Sempat Dikira Pacarnya


__ADS_3

Ternyata Yoga serius akan mengajak Rania ke rumah kedua orang tuanya. Yang mengejutkan kawasan perumahan nya itu ada di Pondok Indah, di sana kan terkenal dengan rumah-rumahnya yang mewah dan besar. Rania sudah bisa pastikan jika Yoga ini memang orang kaya.


"Rumah kamu bagus, tapi kenapa kamu milih tinggal di desa?" tanya Rania sambil memperhatikan sekitar, mereka sudah sampai di halaman depannya.


"Aku nyaman tinggal di sana, lebih suka suasana di desa juga dari pada di sini yang ramai," jawab Yoga.


"Aku pikir semua orang kaya itu sulit untuk hidup sederhana, tapi kayanya kamu berbeda ya," ucap Rania sambil tersenyum. Ia sudah mengenal Yoga lumayan lama, jadi kepribadiannya pun menurutnya cukup bagus.


Yoga mengusap tengkuknya tanda sedang salah tingkah, "Aku bisa nyesuain diri aja, malahan aku pengen sukses dengan perjuangan aku sendiri," ujarnya tidak bermaksud sombong.


Rania pun memberikan dua jempol tangannya, tanda memuji pria itu. Berbeda dengan Candra yang kekayaannya itu karena warisan, Yoga ini sepertinya sukses dengan kerja kerasnya sendiri. Tetapi Rania tetap mengagumi mereka, Sama-sama lelaki sukses.


Yoga lalu mengajak Rania masuk ke dalam rumahnya. Padahal dulu Rania sempat tinggal di rumah Candra yang bagus juga, tapi saat masuk ke rumah Yoga tetap saja Rania merasa terpukau. Tidak menyangka Yoga yang di desa selalu berpenampilan sederhana, ternyata punya rumah bagus begini.


"Masih ingat rumah kamu?"


Pertanyaan bernada sinis dan sedikit cempreng itu membuat perhatian keduanya langsung tertuju ke arah tangga, terlihat di sana seorang wanita dewasa memakai jilbab panjang berkacak pinggang dengan ekspresi garangnya.


"Hehe maaf Bunda, aku baru pulang," ucap Yoga sambil tertawa canggung.


Wanita yang sepertinya Bunda Yoga itu pun mendekat, Ia pun mengulurkan tangan kanannya dan Yoga langsung mengecupnya beberapa saat. Pria itu pun memeluknya sambil mengecup pipinya berusaha meredakan emosi sang Bunda.


"Kamu pulang dengan siapa? Apa pacar kamu?" tanya Bunda nya. Kedua matanya terlihat berbinar melihat seorang perempuan cantik.


"Assalamu'alaikum Tante, perkenalkan nama saya Rania Ayundya." Rania berusaha menunjukan sikap ramahnya.


"Waalaikumsalam Rania, kamu cantik sekali." Bunda nya lalu tersenyum menggoda sang putra, "Kamu hebat juga ya cari pacar, bisa dapet yang cantik gini."


"Ih Bunda apaan sih? Aku juga ganteng," sahut Yoga.

__ADS_1


Tetapi senyuman di wanita dewasa itu menghilang saat pandangannya turun ke bawah, melihat perut Rania itu besar walaupun sudah memakai baju longgar. Perlahan perasaannya pun tidak enak, Aisyah pun kembali menatap putranya.


"Yoga, jelaskan semuanya sama Bunda!" ucap Aisyah tegas.


"Hah jelasin apa Bunda?" tanya Yoga bingung.


Aisyah tiba-tiba memukul tangan Yoga sampai terdengar bunyi nyaring di sana, "Dasar anak nakal, ngapain aja sih sebenarnya kamu di desa sana? Kenapa kamu baru kenalin pacar kamu ini pas dia sudah hamil? Huhu Bunda kecewa sama kamu!"


Yoga dan Rania pun saling bertatapan, sedikit terkejut mendengar tuduhan dari Bunda nya itu. Salah mereka sendiri yang tidak menjelaskan dari awal, sekarang Aisyah jadi overthinking sendiri.


"Bunda dengerin penjelasan aku dulu," bujuk Yoga sambil memegang tangannya, tapi langsung ditepis kasar.


"Padahal Bunda ngerasa yakin pergaulan kamu di sana gak akan se bebas di Jakarta, tapi ternyata kamu lebih parah," ketus Bunda nya.


"Aduh Bunda salah paham, aku dan Rania enggak pacaran kok." Akhirnya Yoga pun menjelaskannya.


Tangan Aisyah yang dari tadi menutupi wajahnya pun perlahan turun, Ia hanya pura-pura menangis karena merasa kecewa saja kepada putranya itu. Aisyah lalu menatap Yoga dalam, seolah meminta penjelasannya yang lebih.


Aisyah lalu beralih menatap erempuan muda itu, "Lalu dimana suami kamu? Kenapa kamu malah berduaan dengan Yoga?" tanyanya, khawatir saja menjadi salah paham.


"Em saya sudah berpisah dengan suami saya," jawab Rania pelan.


"Maaf ya, Nak."


"Tidak apa-apa, Tante," geleng Rania sambil tersenyum manis.


Aisyah memang belum mengerti sepenuhnya tentang hubungan di antara Yoga dengan Rania itu, tapi entah kenapa Aisyah punya firasat jika putranya ada perasaan kepada Rania. Sebagai Ibu Ia bisa peka, hanya lewat tatapan Yoga pada Rania saja sudah bisa Ia simpulkan.


"Kalian duduk dulu, kasihan Rania dari tadi berdiri pasti pegel. Bunda bawakan minuman ya, kamu mau apa Rania?" tawarnya berbaik hati.

__ADS_1


"Apa saja boleh Tante," jawab Rania.


"Ya sudah sebentar ya."


Yoga lalu mengajak Rania untuk duduk, terlihat perempuan itu masih canggung berada di rumahnya. Tetapi Yoga entah kenapa cukup senang melihat reaksi ramah Bunda nya kepada Rania, dan tidak bertanya lebih yang akan membuat Rania tidak nyaman.


Tidak lama Bunda nya pun kembali sambil membawa dua minuman dingin, wanita itu juga sampai membawa beberapa toples berisi kue-kue untuk tamunya itu. Aisyah banyak bertanya kepada Yoga tentang pekerjaannya di desa.


"Katanya akhir tahun ini kamu akan pindah ke Jakarta, jadi kan?" tanya Asiyah.


Rania yang mendengar itu repleks ikut menatap Yoga, sedikit terkejut mendengarnya. Rania pikir Yoga akan selamanya tinggal di sana, tapi ternyata tidak. Entah kenapa, Rania merasa sedikit tidak rela.


"Mungkin, aku belum persiapan apapun," jawab Yoga sedikit acuh.


"Memangnya kamu gak betah ya tinggal bareng Bunda dan Ayah di sini?"


"Betah, tapi aku kan sudah besar Bunda. Aku ingin berkarir dulu sampai sukses, menikmati masa muda."


Aisyah mendengus pelan, "Kamu itu sudah mau tiga puluh tahun, kok ngaku-ngaku masih muda sih?" ledek nya.


Dan Yoga pun hanya tertawa kikuk saja lalu meminum jusnya, memang Bunda nya ini bisa saja meledaknya. Apalagi di sini ada Rania, Yoga kan jadi malu.


"Makanya kamu cepetan dong nikah, biar Bunda gak terlalu khawatir kamu tinggal jauh."


Jika Bunda nya sudah membahas itu, selalu membuat Yoga lelah sendiri. Wajar sebenarnya di desak orang tua untuk cepat menikah, toh usianya sudah kepala tiga dan benar-benar sudah matang, karirnya pun bisa dibilang cukup sukses.


"Aku lagi usaha Bunda, doa in aku ya mudah-mudahan bisa luluhin hati dia," ucap Yoga dengan mata melirik Rania, perempuan itu tidak sadar karena sedang mencicipi kue.


Sedangkan Aisyah yang peka langsung bisa menyimpulkan jika sepertinya perempuan yang di taksir putranya benar adalah Rania. Aisyah hanya tersenyun tipis, walau perasaannya campur aduk sekali. Ia harus benar-benar lebih tahu tentang Rania itu.

__ADS_1


"Kalian akan menginap kan? Jangan langsung pulang, pasti capek. Setidaknya bermalam di sini walaupun hanya satu hari, ya?" bujuk Aisyah.


__ADS_2