
"Berapa lama kalian akan di sini?" tanya Amara.
Candra mengalihkan pandangan pada Omanya itu, "Sepertinya malam ini kita akan ke Jakarta lagi," jawabnya.
"Loh kenapa cepat sekali? Oma kira kalian akan lama di sini."
"Maaf Oma, tapi besok kan aku harus kerja."
Amara terlihat menghela nafasnya berat, lalu beralih menatap Rania, "Rania jangan pulang ya, di sini aja dulu temenin Oma," bujuknya.
"Hah?" Rania jadi bingung mendengar itu, Ia pun melirik Candra seolah meminta bantuan pada suaminya itu untuk menjawab.
"Nanti kita akan sering kesini," sahut Candra di sela makannya.
"Bohong, kamu sering bilang gitu tapi nyatanya kesini kalau inget aja sama Oma," sindir Amara dengan bibir mencebiknya. Padahal Ia masih ingin berlama-lama dengan Rania, ingin lebih mengenalnya lagi.
"Iya Oma maaf, tapi aku akan usahakan ke Bandung kalau gak sibuk." Candra berusaha memberikan pengertian, karena dirinya pun memang sibuk. Selain itu jarak dari Jakarta ke Bandung lumayan jauh.
"Ya sudah kamu kembali ke Jakarta saja, tapi Rania di sini ya sama Oma?"
Mendengar Omanya yang terlihat masih kekeuh dan mempertahankannya, membuat Rania tersenyum-senyum. Sebenarnya Ia tidak masalah jika harus tinggal sini, lagi pula Oma Amara itu sangat baik dan membuatnya nyaman. Rania jadi seperti sedang bersama Neneknya sendiri.
"Aku khawatir dia kenapa-napa," ujar Candra.
"Jadi kamu mengira Oma akan nyakitin istri kamu itu?" tanyanya protes.
"Bukan gitu, aku percaya kok Rania akan Oma jaga baik di sini. Cuman dia kan lagi hamil, aku yang jadi suaminya ngerasa harus selalu ada di sampingnya terus."
Tatapan Amara terlihat lembut dengan senyuman tipis di bibirnya, sikap Candra terlihat dewasa sekali membuat bangga begitu saja. Sempat Ia khawatir pria itu tidak bisa memerankan sosok suami yang baik untuk kedua istrinya, tapi Amara yakin Candra bisa menaganinya.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa, Oma tahu ke khawatiran kamu." Tetapi Amara merasa Candra lebih khawatir pada bayi di perut Rania, entah bagaimana dengan Rania sendiri.
Selesai sarapan mereka beranjak melakukan urusannya masing-masing. Walaupun hari libur, tapi Candra terlihat masih sibuk ber teleponan dengan seseorang di sebrang sana. Melihat Candra yang serius begitu membuat Rania jadi tidak mau mengganggu. Perempuan itu pun memutuskan pergi menelusuri rumah, sampai lah Ia di halaman belakang.
"Rania, kemari lah," panggil Oma sambil melambaikan tangan, Rania pun dengan segera menghampiri.
"Halaman belakang Oma kelihatan bagus dan rapih," puji Rania sambil memperhatikan sekitar.
"Kamu suka?"
"Iya suka, apalagi di sini banyak tanaman. Ada sayuran sampai bunga, buah juga ada. Aku suka bertanam." Rania menceritakannya dengan riang.
Oma yang melihatnya dibuat tersenyum, Rania memang tidak suka menjaga image dan apa adanya. Kepribadian nya yang sederhana itu, membuat Amara malah menyukainya dan ingin mengetahui lebih dalam. Oma pun meminta Rania duduk di sebelahnya, perempuan itu pun menurut.
"Kamu dulu tinggal di mana?" tanya Amara.
"Jadi itu berarti kamu bertemu dengan Candra di sana ya? Soalnya kami memang memiliki perkebunan teh besar di sana."
"Iya betul, di sana aku juga kan dulu kerja jadi pembantu di villa Mas Candra."
Amara terlihat terkejut karena baru mengetahui itu, "Tunggu, kamu serius dulu kerja jadi pembantu di villa Candra?" tanyanya.
"Iya Oma, tapi hanya sebentar." Suara Rania terlihat melemah di akhir, Ia jadi mengingat lagi kejadian memilukan waktu itu.
"Ada apa Rania? Ceritakan semuanya pada Oma," bujuknya sambil membawa kedua tangan perempuan muda itu. Melihat ekspresi wajahnya yang menjadi sedih begitu, membuat Amara yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Apa Oma juga tahu kenapa Mas Candra menikahi aku?" Rania hanya ingin memastikan saja.
"Oma tahu, dia yang memperkosa kamu sampai hamil, kan? Katakan pada Oma, apa dia melakukannya pada saat kamu bekerja di villa itu?" Amara sudah bisa menebak ini, tapi Ia harus menanyakan agar lebih pasti.
__ADS_1
"Iya, aku juga gak nyangka akan mengalami kejadian seperti itu. Padahal aku sempat menduga jika Mas Candra adalah bos yang baik, tapi aku saat itu jadi benci dia karena sudah melakukan itu." Walaupun Rania tahu saat itu Candra mabuk, tapi tetap saja Rania kesal.
Amara lalu menarik Rania ke pelukannya, mengusapi punggungnya. Hatinya tiba-tiba merasa sedih karena baru mengetahui cerita itu, ternyata lebih buruk dari yang diketahuinya. Candra itu kan cucunya, jadi Ia seperti ikut bertanggung jawab dengan tingkah Candra.
"Maafin Candra ya Rania, Oma juga minta maaf karena tidak bisa membimbing dia dengan baik," ucapnya dengan nada suara lirih.
Rania menggeleng sambil merenggangkan pelukan, "Enggak Oma, Oma gak perlu minta maaf."
"Kamu saat itu pasti sangat ketakutan, kan?"
"Iya, aku sampai kabur dari Villa dan gak mau kembali ke sana lagi," jawab Rania jujur.
"Sayang sekali lagi maaf ya, lalu apa Candra menemui kamu dan meminta maaf?"
"Iya Mas Candra datang ke rumah, tapi mungkin karena aku terlalu takut melihat dia sampai pingsan. Di saat kondisi aku membaik dan mulai menjalani hidup normal lagi, aku malah kembali terpuruk mengetahui aku hamil. Saat itu aku merasa putus asa, masa depan aku hancur."
"Tapi tanpa diduga Mas Candra malah mau menikahi aku, awalnya aku gak mau, tapi melihat dia yang terus membujuk hati aku luluh. Hubungan kami pun membaik, tapi.. Aku kembali dikecewakan saat tahu ternyata sebelumnya Mas Candra sudah menikah."
Kernyitan terlihat di kening Amara, "Jadi Candra gak cerita jika sebelumnya dia sudah menikah?" Wanita paruh baya itu kembali terkejut dengan sikap cucunya itu.
"Iya Oma, gak ada yang tahu sampai aku pun baru tahu saat diajak ke Jakarta. Aku sempat minta cerai, tapi Mas Candra gak mau, apalagi katanya aku sedang hamil."
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu masih kecewa sama dia?" Amara yakin akan hal ini, hanya Ia ingin memastikan lagi. Benar-benar tidak habis pikir dengan Candra itu, tega-teganya membohongi perempuan muda polos seperti Rania. Sepertinya nanti harus Ia tegur.
"Aku jalani saja, aku juga merasa malu kalau kembali ke kampung, sedangkan pernikahan kami belum lama ini." Rania memikirkan Neneknya, Ia tidak mau mempermalukan Neneknya lagi dengan tingkahnya.
"Oma tidak bisa bayangkan bagaimana rasanya menjadi kamu, harus mengalami kejadian seperti itu. Tapi Oma merasa bersalah sendiri, karena mau bagaimana pun Candra itu cucu Oma. Maaf ya Rania?"
"Gak papa, aku sudah ikhlas menerima semuanya. Semoga saja Mas Candra gak kecewain aku lagi, aku lakukan juga demi bayi ini," ucap Rania sambil mengusap perutnya.
__ADS_1