Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Tempat Dihargai


__ADS_3

Di pukul sembilan paginya ternyata keluarga baru datang ke rumah. Yoga dan Rania pun langsung menyambut mereka dengan baik. Kedua orang tua Yoga bahkan sempat menggoda pasangan pengantin itu karena terlihat sudah keramas.


"Sini Daffin sama Mama, Mama kangen banget sama kamu," ucap Rania sambil merentangkan tangannya.


Dan Daffin pun langsung mau digendong Mamanya itu, terlihat kepalanya sempat mendusel dada Rania seperti merasa rindu. Rania pun beberapa kali mengecup putranya itu.


"Semalam Daffin bobok sama siapa? " tanya Rania.


"Sama Mama, kita cuman tidur berdua," jawab Mama mertuanya sambil mengacungkan tangan.


"Terus Papa gimana?" tanya Yoga.


"Papa tidur di kamar lain, soalnya ranjangnya gak muat hehe," jawab Mamanya lagi.


Mamanya itu hanya dalam satu kali pertemuan bisa langsung sayang kepada Daffin, seperti sudah menganggap cucu kandungnya sendiri. Rania dan Yoga tentu saja senang, karena itu berarti mereka tidak membedakan.


"Maaf ya Mah Pah kalau Daffin ngerepotin," ucap Rania tidak enak karena sudah menitipkan.


"Ih enggak kok, masa cucu kita ngerepotin. Malahan Mama sama Papa seneng banget bisa jagain Daffin, untungnya lagi Daffin gak inget kalian terus jadi anteng aja sama kami," bantah Mamanya dengan cepat.


Yoga lalu mencubit dengan gemas pipi Daffin, "Emang nih anak Papa ini gak bandel ya, baik banget lagi," katanya.


Mungkin karena terus di kerjai Papanya, membuat Daffin merasa kesal membuat anak itu merengek dan memeluk Rania seolah meminta perlindungan.


"Dasar tukang ngadu!" dengus Yoga sambil memanyunkan bibirnya.


Rania lalu beranjak dari sana untuk memberikan asi kepada Daffin, dari kemarin malam kan anaknya itu tidak minum asinya karena berjauhan. Rania lalu masuk ke kamarnya, duduk di sofa.


"Sayang sekarang kita punya keluarga lengkap, kamu juga pasti senang kan seperti Mama?" tanya Rania sambil mengusapi kepala Daffin.


Walaupun Daffin tidak mengerti dan hanya diam menatapnya, tapi Rania tetap senang karena pasti anaknya itu mendengar curhatannya. Daffin terlihat tetap asik minum asi, bahkan terkesan sedikit rakus.


"Papa kandung Daffin memang tetap Papa Candra, tapi Papa Yoga juga sekarang Papa Daffin. Jadi Daffin punya dua Papa," ujar Rania sambil menunjukan dua jari tangannya.


Saat sedang asik mengobrol terlihat pintu kamar terbuka, dan masuklah Yoga. Pria itu terlihat tersenyum lebar ke arahnya. Tidak lupa menutup pintu lagi sebelum menghampiri.


"Aku nyariin kamu ke mana-mana, ternyata di sini," ucap Yoga sambil duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Aku ngasih Daffin asi, tadi dia mau nangis kamu kerjain. Nakal banget sih!" Kata Rania pura-pura marah.


"Hehe ya mau gimana lagi, aku tuh gemes banget sama dia. Kenapa juga pipinya itu bisa kaya bakpao begitu? Kan pasti orang lain juga gemas," ujar Yoga membela diri.


Rania hanya menggelengkan kepalanya mendengar alasan itu, tapi dari dulu Yoga ini memang katanya gemas sekali kepada Daffin. Baguslah, itu berarti Yoga memang tulus menyayanginya.


"Katanya Mama sama Papa mau pulang nanti sore," ucap Yoga memberitahu, tadi sempat mengobrol.


"Loh kenapa cepet banget? Aku kira mereka akan beberapa hari lagi di sini," ucap Rania terkejut.


"Soalnya Papa besok mau keluar kota, ada proyek yang harus didatangi. Aku juga sempat bujuk mereka nanti saja lusa, tapi katanya proyek itu cukup penting juga."


Rania lalu mengangguk pelan mengerti, memang seorang pengusaha itu sangat sibuk. Mereka bisa hadir di acara pernikahannya saja sudah membuat Rania senang.


"Kamu banyak banget minum susunya, dari tadi kan dia minumnya?" tanya Yoga sambil mengusap rambut tipis Daffin.


"Iya sudah dari tadi, tapi gak mau dilepasin," jawab Rania.


"Kayanya dia pengen puas-puasin, soalnya kan kemarin malam aku yang minjem hehe."


Rania langsung membelakan matanya mendengar itu, repleks Ia pun memukul pelan tangan Yoga. Suaminya ini memang agak mesum, untung saja di sini hanya ada mereka berdua.


"Ih sudah ah, jangan ngomong gitu!" kesal Rania setengah merengek.


"Kenapa sayang? Gak perlu malu, kita kan suami istri."


"Tetep aja aku malu Mas."


Yoga malah tersenyum karena merasa senang sudah menggoda istrinya itu, sekarang akan menjadi hobi barunya. Rania itu kan pemalu, saat pipinya bersemu merah akan membuatnya semakin cantik.


"Dadada!" celoteh Daffin setelah selesai minum asi.


Melihat tangan anaknya terulur padanya, membuat Yoga pun langsung memegangnya, "Apa hah? Kamu ngomong apa?"


"Dadada!" ulang Daffin.


"Oh iya-iya, dadada?"

__ADS_1


Melihat Daffin yang malah tertawa khas bayi, membuat kedua orang itu ikut tertawa merasa terhibur. Daffin memang belum bisa bicara karena masih kecil, tapi saat diajak mengobrol pasti selalu senang.


"Ayo kita main, kamu nempel sama Mama kamu terus pasti bakalan sering minum cucu," ujar Yoga lalu menggendong Daffin dan keluar dari kamar.


Terlihat kedua orang tuanya sedang di halaman belakang, mereka katanya ingin memancing ikan yang ada di kolamnya. Yoga membiarkan saja, toh Ia juga senang melihatnya.


"Daffin lihat Opa dapet ikannya," pekik Papanya sambil menunjukan ikan berukuran sedang pada Daffin.


Yoga pun mendekat agar Daffin bisa melihat lebih jelas. Saat akan memegang, Tiba-tiba ikan itu bergerak membuat Daffin tersentak dan langsung menyembunyikan wajahnya memeluk Yoga.


"Haha dia kaget kayanya," ucap Mamanya.


"Tapi Daffin suka ikan, dia ditinggal sendiri di dekat aquarium bakalan anteng," sahut Yoga memberitahu.


"Oh ya? Emangnya kamu punya aquarium?" tanya Mamanya, perasaan di rumah ini tidak ada.


"Di rumah Rania ada, tapi kecil. Nanti rencananya aku mau buat aquarium di ruang santai, biar Daffin juga bisa lihat," ucap Yoga. Apasih yang tidak untuk putranya ini, yang pentingkan Daffin senang.


Karena ternyata cukup banyak juga ikan mujair yang Papanya dapatkan, mereka pun berencana akan membakar ikan sekalian untuk makan siang. Tetapi masaknya akan di halaman belakang agar lebih seru.


"Wah ada apa ini? Aku ketinggalan," ucap Rania yang baru datang.


Nek Ima melambaikan tangan padanya, "Ayo sini, kita masak-masak," ajaknya.


Rania pun ikut bergabung, tersenyum lebar melihat suasana di sana yang ramai dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Papa dan Yoga membakar ikan, Mama sedang mengasuh Daffin dan Nek Ima menyiapkan bumbu-bumbu.


"Kamu senang Rania?" tanya Nek Ima di sebelahnya.


"Seneng Nek, aku baru pertama kali ngalamin suasana hangat seperti ini. Seperti benar-benar keluarga sungguhan," jawab Rania.


"Nenek juga ikut senang melihat kamu bahagia, kamu memang pantas mendapatkan cinta dari semua orang."


Katanya kita harus mencari tempat dimana kita bisa di hargai, dan Rania sudah mendapatkan tempat itu sekarang. Menikah bersama lelaki baik hati, lalu keluarganya pun bisa menerima dirinya. Rania benar-benar bahagia.


SELESAI


***

__ADS_1


Terima kasih kepada semuanya yang sudah membaca sampai sejauh ini. Setelah ini ada novel baru berjudul "Berandalan Sekolah Jatuh Cinta", cerita percintaan romantis remaja. Jangan lupa mampir.


__ADS_2