Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Ada Yang Membela


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Neneknya, Rania keluar kamar memberikan waktu pada Neneknya itu untuk istirahat. Rania tahu pasti Neneknya saat ini sedang syok, Rania jadi khawatir akan mengganggu kesehatannya. Semoga saja tidak.


"Puas kamu?"


Pertanyaan bernada sinis itu mengejutkan Rania, terlihat Gina di depannya melipat kedua tangan dengan ekspresi sombongnya seperti biasa. Rania memperhatikan sekitar, tidak ada siapapun di sana selain mereka.


"Ya?"


"Apa Nenek kamu itu memarahi kamu? Atau jangan-jangan dia malah membela kamu? Biasanya sih kalau sifat munafik itu turunan, jadi kayanya kalian sama aja ya?"


Rania menghela nafasnya berat, "Maaf Bu Gina, tolong jangan bicara begitu tentang Nenek saya," ujarnya.


"Kenapa? Memang benar, kan?"


"Tidak, Nenek saya tidak suka dengan saya yang berbohong begitu." Rania berusaha menjelaskan, mendengar Neneknya di jelek-jelekkan begitu membuatnya sakit hati.


"Bagus deh kalau dia masih sehat pikirannya, kirain bakalan gak tahu diri kaya kamu!" ledek nya.


Setiap menghadapi wanita di depannya ini, Rania selalu berusaha bersabar. Ia tidak terbawa emosi, hanya rasa kesal dan marah itu ada. Tidak apa jika dirinya yang di ejek begitu, asalkan jangan Neneknya.


"Saya jadi khawatir setelah bayi kamu lahir, nanti keberadaan Livia di sini pasti akan tersingkir kan," gumam Gina sambil menatap perut perempuan itu yang sudah besar.


Rania pun repleks mengusap perutnya, "Bu Gina tenang saja, saya dan anak saya nanti tidak akan seperti itu kok. Sampai kapanpun posisi Kak Livia di rumah ini tetap sama, dia yang pertama."


"Hahaha lucu sekali, kamu pura-pura lugu begitu dan sok polos bagi saya sangat menyebalkan!" dengus Gina sambil tertawa sinis. Dipikirnya cari muka sekali si Rania itu, pura-pura baik agar dikasihani.


Lalu Rania harus bagaimana? Batinnya. Memang dirinya seperti ini kok. Ya di mata Gina, Rania memang selalu buruk. Jadi tidak usah menjelaskan juga, toh semuanya percuma.


"Mama lagi ngapain?"


Kedatangan seseorang mengalihkan perhatian mereka, terlihat Leon yang baru datang dan berdiri di antara mereka. Rania tanpa sadar tersenyum, dan Leon pun membalas senyumam nya, tapi tidak lama menatap lagi Gina.


"Leon, ngagetin aja," ujar Gina sambil mengusap dadanya.


"Mama sih terlalu fokus, sampai kedatangan aku gak sadar," sahut Leon.


Mau bagaimana lagi, Gina kan sedang asik-asiknya meledeki Rania, "Kamu ngapain kesini?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya mau jemput Mama lah, lupa ya tadi sempat minta dijemput?" tanya Leon.


Gina terdiam beberapa saat seperti sedang berpikir, setelahnya langsung meringis pelan, "Oh iya bener juga, tapi kok cepet banget sih? Ini kan masih jam empat, Mama mintanya jam enam."


"Ya gak papa, kan sekalian aku juga mau ketemu Rania," jawab Leon sambil menyengir lebar.


"Apa?!" pekik Gina terkejut. Ia tidak salah dengar, kan?


"Kenapa?" tanya Leon balik.


Gina lalu melirik Rania, apa jangan-jangan perempuan kampung itu dekat dengan putranya ini? Sepertinya begitu. Membayangkan mereka yang akrab, membuat Gina jadi terbawa emosi sendiri.


"Kamu gak ada hubungan apapun kan sama cewek pelakor ini?!" tanya Gina galak sambil menunjuk Rania.


"Hubungan gimana maksudnya?" tanya Leon.


"Ya apa gitu, kalian gak akrab, kan?"


Leon menyeringai lalu berdiri di sebelah Rania, dan tanpa diduga pria itu malah merangkul bahunya, "Menurut Mama gimana?"


Leon meringis saat tangannya ditarik-tarik Mamanya itu, Ia pun terpaksa melepaskan rangkulannya pada Rania. Melihat ekspresi wajah Mamanya yang garang, malah membuat Leon merasa lucu sendiri, tapi berusaha menahan tawanya.


"Apa sih Mah?" tanya Leon menekan setiap kata.


"Kamu yang apa-apa an, kenapa kamu deket-deket dia?" tanya Gina sensi.


"Loh emang kenapa?"


"Kamu tahu gak sih dia ini siapa? Biar Mama ingatkan lagi ya. Dia itu pelakor, orang ketiga di rumah tangga Kakak kamu. Dia mau rebut Kakak ipar kamu dan jadi satu-satunya Nyonya di sini."


Dikata-katai seperti itu sebenarnya Rania sakit hati sekali, kepalanya lalu menunduk merasa tidak tahan mendapatkan tatapan penuh kebencian Gina, apalagi sambil menunjuk-nunjuknya. Rania pun terus mengusapi perutnya, berharap semoga bayinya tidak kenapa-napa.


"Syyutt Mama ngomong apaan sih?" tanya Leon.


"Hah?"


"Mama berlebihan, jangan galak-galak gitu dong ke Rania. Kasihan dia."

__ADS_1


Gina semakin dibuat melongo dengan reaksi putranya itu, "Kok kamu malah belain dia sih? Yang Mama bilang emang bener kok!"


"Bukannya ceritanya gak gitu? Mama itu terlalu sering nonton drama, jadinya pikirannya sejauh itu," ledek Leon tanpa rasa takut.


"Leon!" bentak Gina.


"Aduh sudah ah, Mama jangan berisik gak enak didengar orang. " Leon lalu menatap Rania, membawa sebelah tangannya, "Ayo Rania, kita pergi dari sini," ajaknya.


"Heh Leon, kamu mau bawa dia kemana?!"


Leon melirik malas Mamanya itu, "Menjauh dari Mama, kasihan telinga Rania pasti sakit denger Mama ceramah mulu."


Sebelum Mamanya itu semakin emosi, Leon pun segera menarik Rania pergi dari sana. Keluar dari ruangan itu, Leon pun tidak bisa menahan tawanya lagi. Rania diam melihatnya dengan bingung, memang Leon itu terkadang bersikap aneh.


"Leon, makasih ya tadi sudah belain aku," ucap Rania.


Leon pun menghentikan tawanya, "Oh iya sama-sama, maaf juga ya kalau Mama aku begitu."


"Iya gak papa, aku ngerti kok kenapa Mama kamu bisa gak suka gitu ke aku." Rania sadar diri, jadi Ia akan sabar menghadapinya.


Leon lalu menghadapkan tubuhnya pada Rania, kedua tangannya memegang bahu perempuan itu. Mereka pun kini saling bertatapan.


"Rania jangan terlalu lemah begini," ujar Leon serius.


"Maksudnya?"


"Kalau ada orang yang merendahkan kamu jangan diam saja, lawan dong."


Rania tidak menyangka sendiri mendengar itu, "Leon, tadi itu Mama kamu loh. Memangnya kamu gak akan sakit hati kalau semisal aku tegur Mama kamu?"


"Hm kalau sikap Mama di luar batas, aku pikir Mama memang harus diperlakukan begitu. Apalagi tadi kata-kata Mama sangat menyakitkan untuk kamu, aku yang dengar saja sampai gak tega."


Tatapan Rania melembut pada Leon, bibirnya pun melengkungkan senyuman tipis. Rania lalu menurunkan tangan pria itu di bahunya. Rania terkadang dibuat bingung dengan sikap pria ini, tapi Leon lebih sering menunjukan kebaikan dan perhatian di depannya. Jadi perasaan ragu nya pun kembali menguap.


"Aku juga sudah berusaha, tapi aku gak seberani itu. Aku selalu sadar akan posisi aku di sini, jadi aku menganggap sikap Mama kamu itu wajar," ucap Rania.


Leon memggeleng, "Enggak Rania, ayolah jangan terlalu lugu begitu. Pokoknya kamu harus lebih berani. Pikirkan diri kamu dan juga bayi kamu," desaknya serius.

__ADS_1


__ADS_2