
Kebetulan semua suster dan bidan sudah keluar memberikan waktu kepada keluarga. Yoga pun masuk ke dalam tidak lupa menutup pintunya lagi. Pria itu sempat melirik Daffin, selalu membuatnya tertarik saja pada bayi kecil itu.
"Ada apa Mas dengan Mas Candra?" tanya Rania tidak sabaran.
"Kamu tenang ya Rania, ini bukan kabar buruk kok. Aku dapat kabar dari Bu Livia, katanya Pak Candra sudah sadar," jawab Yoga dengan senyuman lebarnya, ikut senang sendiri.
Rania dan Nek Ima yang mendengar itu ikut senang, mereka langsung mengucap hamdallah bersamaan dengan senyuman lebar. Syukurlah Candra itu sudah sadar, setelah beberapa hari koma tidak sadarkan diri.
"Aku rasa ini karena keberuntungan Daffin, mungkin Candra juga bisa merasakan ikatan batin saat Daffin lahir," ujar Yoga mempercayai itu.
Ima mengangguk setuju, "Ya bisa saja, karena saat Daffin lahir, Nak Candra pun sadar dari koma nya."
Rania lalu menatap lembut bayi di pangkuannya. Jika benar begitu, Rania ikut senang karena memang Daffin adalah anak kandung Candra. Entahlah apa pria itu sudah tahu Ia melahirkan hari ini atau tidak, tapi yang pasti mendengar Candra sudah sadar lebih dulu saja membuatnya lega.
"Aku juga tadi sudah mengabari Bu Livia kalau kamu sudah melahirkan. Dia titip salam dan selamat untuk kamu, juga minta aku untuk kirim foto Daffin," ucap Yoga kembali memberitahu.
"Boleh kok, kasih aja fotonya ke Kak Livia," angguk Rania tanpa keberatan.
Melihat respon baik dari perempuan itu, membuat Rania senang sendiri. Livia bahkan sampai mengirimkan salam dan selamat untuknya. Merasa hubungan mereka sekarang memang lebih baik setelah perpisahan ini.
"Iya nanti aku kirimin, dia pasti bakalan gemes sama Daffin. Mungkin juga Bu Livia bakalan ngasih tahu Pak Candra," kata Yoga.
Rania jadi berdegup sendiri bagaimana respon Candra jika melihat bayinya, apakah pria itu akan senang? Tentu saja, melihat perlakuannya dulu saja saat Ia hamil yang super protektif sudah bisa menjelaskan.
"Bagaimana? Apa asinya sudah bisa keluar?" tanya Yoga.
"Sudah kok, tapi aku sempat sedih karena asinya gak mau keluar. Kasihan Daffin nangis terus," jawab Rania.
"Gak papa, kamu kan baru lahiran. Nanti juga asinya deras kok," sahut Yoga. Padahal Ia juga belum punya istri, tapi sering mendengar ilmu ini.
__ADS_1
Rania bisa pulang besok pagi, jika malam ini takutnya jahitan nya belum kering atau terjadi sesuatu pada Ibu yang baru melahirkan itu. Dari saat mengantar Rania ke puskesmas pun, Yoga belum pulang dan setia menemani di sana.
"Nak Yoga lebih baik pulang saja, Nak Yoga pasti capek dari tadi siang di sini," ucap Nek Ima.
"Gak papa kok Nek," ujar Yoga sambil tersenyum.
"Terima kasih ya nak Yoga untuk semua pertolongannya, Nak Yoga benar-benar baik pada Rania dan Nenek." Ima jadi merasa sungkan, padahal kalau di tempat kerja Yoga itu adalah bosnya.
Yoga terkekeh kecil, "Jangan sungkan Nek, Nenek kan tahu sendiri aku lagi pdkt sama Rania," ucapnya tanpa malu.
"Nenek tahu, dan Nenek sangat mendukung jika kalian bersama. Tetapi Nenek tidak bisa pastikan apakah Rania dalam waktu dekat ini mau menjalani hubungan lagi dengan orang lain. Status dia saja belum resmi cerai," ucap Nek Ima panjang lebar.
"Aku akan menunggu Rania, tidak apa."
Mendengar itu membuat Ima semakin yakin saja jika Yoga itu adalah lelaki yang pantas untuk cucu nya. Padahal mereka hanya orang biasa, tapi Yoga sama sekali tidak mempermasalahkan. Rania benar-benar beruntung bisa menjalani hubungan dengan lelaki sukses.
Drrrt!
"Nek sayang banget, kayanya aku harus pulang," ucap Yoga yang sudah selesai ber teleponan.
"Iya gak papa, Nak Yoga pasti capek ya? Nanti langsung istirahat aja."
"Enggak capek kok, cuman aku harus cek produk yang mau dikirim ke kota besok. Dari siang kan gak di pabrik, jadi mereka yang urus," sahut Yoga menjelaskan.
"Oh begitu, ya sudah semoga lancar. Hati-hati di jalannya."
Yoga mengangguk lalu menyalami tangan wanita paruh baya itu, "Nenek dan Rania juga hati-hati di sini, aku janji besok pagi bakalan kesini untuk jemput kalian pulang."
"Iya, makasih ya Nak Yoga."
__ADS_1
Nek Ima pun melambaikan tangannya mengiringi kepergian pemuda itu. Setelah Yoga menghilang berbelok, Ima pun kembali masuk ke kamar rawat Rania. Melihat cucunya itu yang tertidur, membuatnya tersenyum tipis.
Ima mengusap-usap pelan kepala Rania, bisa bayangkan betapa lelahnya Rania saat ini karena selesai melahirkan. Ima lalu mendekati box bayi, ternyata Daffin juga tertidur dan terlihat lelap. Memang sangat pengertian sekali cicitnya ini, tahu saja jika Mamanya pun butuh istirahat.
"Nenek," panggil Rania pelan.
"Kenapa bangun lagi? Tidur aja, sudah malam juga," ucap Ima sambil mendekati ranjang.
"Terus nanti Nenek tidur dimana?" tanya Rania.
"Di sofa bisa, untung saja Nak Yoga itu pesan kamar rawat yang bagus begini untuk kamu." Ima tidak tahu harus berapa kali mengucapkan terima kasih pada lelaki itu.
"Dia dimana sekarang?" Rania memperhatikan sekitar mencari keberadaan Yoga.
"Nak Yoga sudah pulang tadi, ada urusan di pabrik katanya," jawab Nek Ima.
Rania pun mengangguk, memang pria itu harus pulang karena dari siang menemaninya terus di sini. Rania kan jadi tidak enak, takut mengganggu pekerjaannya juga. Ya walaupun Yoga sendiri yang bilang jika dirinya lebih penting.
"Hari ini aku ngerasa senang dan terharu di waktu bersamaan," ungkap Rania sambil tersenyum tipis.
Ima langsung mengerti, "Moment berharga ini memang tidak akan pernah bisa kamu lupakan, akan menjadi kenangan luar biasa juga dalam hidup kamu."
"Iya, tapi selain itu aku juga merasa senang dengar kalau Mas Candra sudah sadar. Semoga keadaannya semakin pulih dan dia bisa beraktivitas seperti biasanya," sahut Rania.
Memang pria itu sudah memberikan banyak luka kepada hidup Rania, tapi Rania tidak pernah membenci Candra. Saat mendengar musibah yang menimpa Candra waktu itu, Rania bahkan sampai menangis merasa sedih.
Rania inginnya walaupun sudah resmi berpisah nanti, tapi hubungannya dengan Candra dan Livia tetap baik-baik saja. Perasaan ini tentu sangat Rania kenali, jika dirinya sudah benar-benar ikhlas mundur dari pernikahan ini.
"Sekarang kamu akan selalu fokus menjaga dan merawat Daffin. Tenang saja, Nenek akan ikut jagain dia," ucap Ima pengertian. Rania kan sudah tidak punya orang tua, jadi dirinya penggantinya.
__ADS_1
"Iya Nek, makasih."