Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 43


__ADS_3

"Daffin besok kan libur, gimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Elisa tampak bersemangat.


"Em kayanya gak bisa, aku ada urusan," tolak Daffin berbohong.


"Urusan apa? Jangan bilang sama si Cynthia?" tanya Elisa menuduh.


Kenapa Elisa bisa langsung kepikiran kesitu ya? Daffin kan jadi gugup karena memenag tuduhannya benar. Tetapi Daffin ingat dirinya sudah janji juga pada Cynthia, jadi terpaksa Ia harus berbohong.


"Bukan, urusan keluarga. Papa bilang mau ajak aku ke kantornya, mungkin ada beberapa yang harus aku pelajari di sana." Apakah Daffin sekarang sudah terlihat meyakinkan?


Elisa terlihat menganggukkan kepala, "Wah calon pebisnis nih, kamu hebat Daffin," Katanya.


"Em iya, aku gak mau kecewain Papa lagi."


Sebenarnya Daffin tidak enak harus berbohong begini, tapi kalau jujur juga Elisa pasti akan marah dan bisa saja ikut besok. Daffin tahu Cynthia selalu tidak nyaman jika Elisa ikut, karena memang Elisa cukup mengganggu juga.


"Sayang banget, padahal aku pengen banget ngabisin waktu seharian sama kamu," ucap Elisa sambil tersenyum.


"Emangnya kamu mau ajak aku kemana?" tanya Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Jalan-jalan aja, pasti seru banget. Kita belum sempat ya jalan-jalan berdua lagi, rasanya udah lama banget," gumam Elisa merasa sedih sendiri.


Beberapa hari lalu mereka memang sibuk dengan urusan masing-masing. Elisa yang sedang dekat dengan Satria, sampai melupakan Daffin membuat pria itu pun ada waktu lebih banyak dekat dengan Cynthia. Elisa benar-benar menyesal.


"Nanti aja ya lain kali, masih banyak waktu juga," kata Daffin.


Elisa yang mendengar itu tersenyum kecut. Ya memang masih banyak waktu, tapi kan tidak ada yang tahu sampai kapan Daffin jomblo. Elisa juga tidak tahu harus apalagi agar meluluhkan hati Daffin.


Tidak terasa di perjalanan cepat juga, sampai juga di depan kontrakannya Elisa. Dengan berat hati, perempuan itu pun turun. Tidak lupa sebelumnya berpamitan pada Daffin dan mengucapkan terima kasih.


Setelah Elisa masuk ke gerbang kontrakannya, Daffin pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Kalau dulu selalu buru-buru karena ada adik perempuannya yang menunggu, tapi kan beberapa hari lalu Devina sudah pulang dengan kedua orang tuanya ke desa.


"Daffin, kamu sudah pulang," sapa Livia yang membukakan pintu.

__ADS_1


Daffin pun terlebih dahulu menyalami tangan Mama tirinya itu, "Iya Mah, Mama tumben pulang jam segini."


"Iya, Mama gak terlalu sibuk sih hari ini di kantor. Gimana kuliah kamu hari ini?"


"Lancar dan baik, cuman tugas aku makin numpuk hehe," jawab Daffin sambil tertawa canggung.


"Ya sudah dicicil aja kerjainnya, biar gak terlalu numpuk," nasihat Livia.


"Kalau gitu aku ke kamar dulu Mah," pamit Daffin.


"Iya."


Sikap Mama tirinya itu memang baik, Daffin seperti merasakan sosok Ibu kandung sendiri di sini. Padahal Ia tidak ada hubungan darah dengan Livia, tapi Mama tirinya itu menganggapnya anak sendiri. Daffin sangat menghargainya.


Saat sedang mengerjakan tugas, perhatian Daffin teralih mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ia beranjak untuk membukakan pintu, dan ternyata itu adalah Livia. Mama tirinya itu membawakan cemilan dan minuman untuknya.


"Itu pasti buatan Mama kan? Mama buat apa?" tanya Daffin memperhatikan Livia yang menyimpan nampan di meja.


"Mama coba buat onion rings, pas dilihat sih kaya gak terlalu susah buatnya, jadi Mama coba buat deh. Maaf ya kalau gak terlalu enak," jawab Livia.


"Sama-sama, buat nemenin kamu ngerjain tugas. Semangat ya. Kalau gitu Mama keluar dulu, biar kamu fokus ngerjainnya."


"Iya."


Setelah Livia keluar kamar, Daffin pun sedikit mencicipi cemilan buatannya itu. Memang sih tidak seenak di restoran, tapi menurutnya rasa ini lebih spesial karena buatan Livia. Daffin jadi merindukan Rania.


***


Besok paginya di pukul sembilan, Daffin terlihat sudah tampan dengan pakaian rapihnya. Tidak lupa Ia memakai parfume agar lebih keren. Setelah merasa siap, Daffin turun dari lantai atas untuk berangkat.


"Mau kemana Daffin?" tanya Candra dari belakang.


Daffin menghentikan langkah, lalu berputar, "Loh kok Papa di rumah, gak ke kantor?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Iya hari ini Papa gak ke kantor, lagi gak enak badan," jawab Candra sambil mengusap tengkuknya.


Setelah Daffin perhatikan lagi, wajah Candra memang agak pucat. Daffin pun mendekat, merasa khawatir begitu saja dengan keadaan Papanya ini.


"Sudah ke rumah sakit belum? Atau Papa mau panggil dokter keluarga kesini?" tanya Daffin.


"Kayanya Papa cuman kecapean aja, istirahat sebentar juga mungkin sudah baik kan." Candra menduga itu, juga mungkin faktor usia.


Tetapi Daffin menggeleng tidak setuju, "Enggak ah, pokoknya harus di periksa dokter. nanti aku telepon dokter keluarga ya kesini buat cek Papa, aku takut Papa kenapa-napa," katanya.


Mendengar itu tidak bisa membuat Candra menahan senyuman, merasa terharu saja diperhatikan oleh anak kandungnya. Setelah Daffin pindah kesini, memang banyak sekali yang terjadi. Dan Candra sangat beryukur.


"Terus kamu mau kemana sudah rapih gini? Jangan bilang mau kencan ya?" tanya Candra menggoda.


"Bukan, aku mau temenin Cynthia terapi jalan," jawab Daffin meluruskan.


"Terus apa sahabat perempuan kamu itu ikut? Katanya dia juga pacar kamu ya?"


Helaan nafas berat terdengar keluar dari celah bibir Daffin, Papanya ini cepat juga mendegar kabar tentangnya. Siapa juga yang memberitahu? Sepertinya bukan Rania, wanita itu kan katanya ingin mendukung pilihannya sendiri.


"Bukan kok Pah, aku sama Elisa cuman temenan aja," bantah Daffin.


"Loh tapi katanya--"


"Aku juga gak tahu kenapa Elisa tiba-tiba bilang gitu pas kumpulan keluarga, aku sampai syok sendiri," sela Daffin.


Melihat sorot mata Daffin yang seperti terbebani begitu, membuat Candra yakin jika putranya tidak berbohong. Serumit apakah kisah percintaannya itu? Daffin juga masih muda, di umur segini pasti banyak sekali masalah.


"Selesaikan semuanya dengan baik-baik ya, agar tidak ada penyesalan juga. Kamu juga harus tanyakan pada hati kamu sendiri, apa benar kamu menyukai dia atau enggak," nasihat Candra sambil menusap bahunya.


"Iya Pah makasih," ucap Daffin lalu tersenyum.


Khawatir terlalu siang dan macet, Daffin memutuskan langsung berangkat. Di perjalanan tidak lupa menghubungi dokter keluarga, menyuruh untuk datang ke rumah memeriksa Papanya. Lalu setelahnya Daffin menghubungi Cynthia, memintanya menunggu di depan rumah.

__ADS_1


"Huft kok aku deg-deg an ya?" tanya Daffin seorang diri. Bahkan Ia bisa mendengar detai jantungnya sendiri.


Daffin lalu terpikirkan seseorang, "Semoga aja Elisa gak ke rumah, karena Papa juga gak kerja," batinnya.


__ADS_2