Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 56


__ADS_3

Elisa sangat berterima kasih karena Daffin lah yang membayarkan semua biaya perawatannya di rumah sakit. Saat Ia ingin mengganti, Daffin langsung menolak dan katanya ikhlas membantunya. Pria itu memang sangat baik.


"Gak ada barang yang ketinggalan kan?" tanya Daffin memastikan lagi.


"Gak ada kok, aku juga kan gak bawa baju banyak pas di rawat," jawab Elisa yakin.


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang, kamu juga pasti sudah bosen kan di sini terus?"


"Iya bosen banget, setiap hari di ruangan diem aja," jawab Elisa jujur.


Syukurlah sakitnya tidak lama, mungkin karena Daffin pun gercep mengantarnya ke rumah sakit. Beda lagi kalau Elisa kekeuh tidak mau dirawat, mungkin sampai sekarang belum sembuh.


"Dimana dia? Apa tidak ikut?" tanya Elisa sambil mengangkat kepala menatap Daffin yang sedang mendorongnya di belakang.


"Cynthia ikut kok, dia tunggu di mobil. Katanya takut aku kerepotan, jadi mau nunggu aja," jawab Daffin yang langsung peka.


"Oh aku kira dia tidak akan ikut, " gumam Elisa. Tetapi rasanya tidak mungkin, karena kalau Ia yang di posisi Cynthia juga pasti akan terus menempeli Daffin terus.


Benar saja saat Elisa di dudukan di kursi belakang, Cynthia menolehkan kepala tersenyum menyapanya. Elisa pun membalas dengan lambaian tangan pelan dan senyuman kikuk. Mereka masih sama-sama canggung.


"Gimana keadaan kamu hari ini Elisa? Beneran sudah agak baikkan?" Tidak menyangka, Cynthia menanyakan keberadaannya.


"Sudah lumayan kok, walau masih ada sedikit lemes dan pusing. Tapi kata dokter kalau aku istirahat yang cukup nanti juga baikkan," Jawab Elisa.


"Syukurlah, aku ikut senang," sahut Cynthia.


Daffin yang sedang menyetir mendengar obrolan dari dua perempuan itu dibuat tersenyum. Rasanya seperti sebuah keajaiban melihat Elisa dan Cynthia bisa akrab begini, dulu kan mereka selalu ribut dan cekcok.


Entah sejak dari kapan keduanya akur begini, tapi Daffin tetap ikut senang karena inilah yang Ia inginkan. Sepertinya mereka pun sudah bicara berdua menyelesaikan, karena sekarang bisa mengobrol dengan santai.


"Kita langsung pulang? Atau mau ke suatu tempat dulu?" tawar Daffin pada mereka.

__ADS_1


"Langsung pulang ke kontrakan aja deh, lagian kalau jalan-jalan kamu yang bakal kerepotan sendiri," jawab Elisa dari belakang.


"Aku sih gak masalah, kamu juga pasti butuh refreshing habis pulang dirawat di rumah sakit," kata Daffin sambil melirik Elisa lewat kaca kecil di atas.


Tetapi Elisa menggeleng tetap menolak. Sebenarnya Ia mau saja diajak jalan-jalan, tapi rasanya akan canggung pergi bertiga dengan Cynthia juga. Nanti suasananya akan canggung, sangat membuat tertekan.


Sesampainya di kost an, Teman-teman Elisa langsung menghampiri dan akan membantu mengantarnya sampai ke lantai atas. Daffin sempat menolak dan bisa melakukan sendiri, tapi mereka pun katanya tidak masalah.


"Gak usah, kamu masuk aja sana," tolak Cynthia saat pacarnya itu akan membukakan seat beltnya.


"Loh kamu gak akan ikut ke kamar kost an Elisa?" tanya Daffin terkejut.


"Enggak, aku mau nunggu di sini aja."


"Tapi--"


"Gak papa Daffin, kamu juga pasti butuh waktu mengobrol sama Elisa. Aku percaya sama kamu," kata Cynthia sambil menepuk tangannya pelan.


"Aku gak akan lama di atas, tunggu ya," ucap Daffin sebelum benar-benar pergi.


"Iya, nanti pulang dari sini makan siang ya? Aku laper hehe," ajak Cynthia.


"Iya kita makan siang sekalian, kalau gitu aku masuk dulu. Dah sayang." Daffin terlihat berat sekali meninggalkan Cynthia, tapi melihat pacarnya itu tenang saja membuatnya pun tidak perlu terlalu dipikirkan.


Saat masuk kamar kost an Elisa, terlihat masih ada beberapa teman-temannya di sana. Mereka baik sekali menjenguk Elisa, katanya khawatir sekali saat mendengarnya dirawat beberapa hari di rumah sakit.


Elisa juga memang mudah akrab dengan orang lain, walaupun baru tinggal di sini sudah dekat dengan penghuni lain. Untungnya mereka tidak lama menjenguk, memutuskan kembali karena tidak mau mengganggu.


"Bahan-bahan makanan kamu di kulkas tinggal sedikit lagi, kenapa gak bilang? Mungkin tadi kita bisa ke supermarket dulu," tanya Daffin saat membuka lemari pendingin.


"Iya aku lupa belum cek lagi, nanti aja deh belanjanya. Lagian aku juga jarang masak, lebih suka beli sekarang, soalnya gak ada waktu," jawab Elisa dari ranjang.

__ADS_1


"Ya sudah besok sepulang dari Kuliah aku bawain kesini, kamu juga gak akan dulu masuk Kampus kan?"


"Kayanya, aku harus pulihin dulu keadaan," jawab Elisa sambil mengedikkan bahu.


Melihat Daffin yang terus melihat jam tangannya, membuat Elisa mengerti jika pria itu sepertinya tidak ingin berlama-lama di sini karena ada yang menunggu di bawah. Sayang sekali, Elisa pun tidak bisa banyak waktu dengannya.


"Kamu pulang saja Daffin, makasih banyak untuk semuanya. Kamu memang baik, jadi semoga Tuhan membalasnya," ucap Elisa sambil tersenyum.


"Jangan sungkan, kita kan sahabat. Mungkin sekarang aku yang bantu kamu, bisa saja nanti aku yang butuh bantuan," kata Daffin membalas senyumannya.


Elisa mengangguk, "Dan kalaupun itu terjadi, aku bakalan paling cepet bantuin kamu," sahutnya.


Ya mungkin memang sudah takdirnya begini, jika Daffin dan Elisa sampai kapanpun hanya bisa menjadi teman. Masa depan memang tidak ada yang tahu, tapi Elisa merasa Daffin memperlakukannya tidak lebih dari seorang teman.


"Kamu istirahat ya, nanti kalau butuh bantuan apapun telepon aja temen kost kamu atau Ibu kost," ucap Daffin sebelum benar-benar pulang.


"Iya, lagian aku ngantuk pengen tidur lagi," kata Cynthia lalu tidak lama menguap.


"Jangan lupa makan terus minum obatnya, pokoknya jangan telat biar cepet sembuh."


"Iya-iya dasar bawel," ledek Elisa tapi tidak lama terkekeh kecil. Ia tahu sih pria itu hanya mengkhawatirkannya.


Daffin pun pamitan pulang, tidak lupa menutup lagi pintu kamar kost an Elisa. Ada beberapa teman-teman Elisa sedang mengobrol di tangga, mereka menyapanya dan Daffin pun membalas sopan saja.


Saat masuk ke mobil, senyuman Daffin semakin lebar melihat Cynthia masih duduk di tempatnya. Perempuan itu katanya dari tadi main game, jadi tidak terlalu bosan menunggunya. Daffin pun bersyukur Cynthia tidak masalah.


"Kamu mau makan dimana? Apa punya rekomendasi tempat makan enak lagi?" tanya Daffin mulai menjalankan mobilnya.


"Aku kurang tahu tempat makan enak di Jakarta, tapi kayanya banyak deh," jawab Cynthia.


"Kita cari tempat makan yang baru aja deh, sekalian juga nyobain," usul Daffin dan langsung diangguki Cynthia.

__ADS_1


__ADS_2