
Selama terapi Cynthia, Daffin selalu setia menemaninya dan ada di sampingnya. Saat melihat perempuan itu hampir menyerah, selalu Ia berikan semangat, membuat Cynthia pun tidak menyerah.
"Mau coba pakai kruk?" tawar suster itu.
Daffin dan Cynthia pun saling berpandangan. Melihat Cynthia yang mengangguk mengiyakan, segera Daffin bantu angkat tubuhnya menjadi berdiri. Dua kruk itu lalu disimpannya dan di apit oleh ketiak.
Rasanya sekarang perasaan Daffin campur aduk sekali melihat Cynthia yang berjalan dengan pelan dibantu kruk. Setiap langkahnya, selalu Ia awasi karena khawatir jatuh. Seperti keajaiban, sekarang Cynthia bisa berjalan sendiri walau masih dibantu penyangga.
"Daffin, gue capek," keluh Cynthia setengah merengek.
Daffin mengangguk lalu kembali mendudukan perempuan itu di kursi roda. Terlihat peluh keringat di kening Cynthia, bibirnya juga jadi sedikit pucat. Daffin tahu Cynthia sudah berusaha keras.
"Tidak apa, belajar perlahan saja karena semua memang butuh proses. Mbak Cynthia sudah hebat karena dalam waktu cepat ini terapinya semakin berjalan baik, saya yakin sebentar lagi juga bisa berjalan normal," ucap suster itu.
Cynthia mengangguk pelan, "Iya suster, makasih juga selalu temenin saya," katanya.
"Sama-sama, ini sudah jadi kewajiban dan tugas saya." Suster itu pun pergi dari sana memberikan ruang pada dua remaja yang Ia anggap pasangan.
Daffin lalu beralih berjongkok di depan Cynthia, "Aku deg-deg an pas lihat kamu jalan pakai tongkat," ujarnya.
"Kenapa? Takut gue jatuh ya?"
"Iya, apa yang kamu rasain pas coba jalan gitu?"
Cynthia tidak langsung menjawab, seperti sedang berpikir keras dan menata kata-katanya dengan baik, "Lumayan berat, kaya harus ngeluarin kekuatan penuh buat bisa ayunin kaki," jawabnya.
"Gak papa, memang butuh waktu. Tapi kamu hebat gak menyerah," ucap Daffin memuji.
"Iya dong, gue kan pengen bisa jalan kaya dulu lagi," sahut Cynthia dengan mata berbinar nya.
Mendengar motifasi itu, selalu membuat Daffin terenyuh. Ia memang selalu meminta maaf kepada Cynthia karena sudah membuatnya begini, juga selalu menjaga dan berusaha merawatnya dengan baik.
Walaupun begitu, tetap saja Daffin merasa bersalah. Mungkin jika waktu itu Ia tidak menabrak, kehidupan Cynthia bisa saja lebih baik. Banyak juga yang sudah Ia halangi cita-citanya hanya karena keterbatasannya itu.
__ADS_1
"Cynthia, apa kamu pernah benci sama aku?" tanya Daffin serius.
"Pernah lah, pas awal-awal dulu," jawab Cynthia jujur.
"Terus sekarang gimana? Apa masih benci?" Daffin menunggu dengan perasaan cemas, berharap jawabannya tidak sesuai.
Tanpa diduga Cynthia malah mengusap kepala Daffin, "Gimana bisa gue benci sama orang yang selama ini selalu jagain gue? Lo bahkan lebih perhatian dari pada Nyokap gue," katanya.
Kedua mata Daffin langsung berbinar mendengar itu, merasa senang dan lega di waktu bersamaan. Selain itu juga merasa terharu, karena itu berarti juga Cynthia bisa saja menyukainya, kan?
"Suster bilang kamu bisa istirahat dulu, mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?" tawar Daffin lalu berdiri lagi.
"Boleh, tapi gue lagi pengen makan sesuatu."
"Apa?"
"Es krim, siang ini panas banget, pengen yang dingin-dingin." Cynthia lalu tersenyum lebar setelah mengatakan itu.
"Dasar kaya anak kecil aja," ledek Daffin.
Suasana rumah sakit hari ini lumayan ramai, apalagi di taman cukup banyak anak-anak. Daffin dengan terpaksa meninggalkan Cynthia dulu sendirian di sana, Ia akan membeli es krim dan berharap ada di depan rumah sakit.
Untung saja memang ada, Daffin pun segera membeli satu dengan bentuk cone lalu kembali masuk ke dalam. Ternyata Cynthia masih di tempatnya tadi, sendirian sambil melihat sekitar dengan senyumannya.
"Nih es krim nya, habisin ya," ucap Daffin sambil memberikan.
Cynthia lalu mengangkat kepala, "Kok cepet banget dapetnya?" tanyanya.
"Iya, aku kan lari dan untungnya di depan ada yang jual di sepeda gitu," jawab Daffin. Pria itu lalu duduk di kursi kosong, bersebelahan dengan Cynthia.
Melihat perempuan itu yang terlihat kesusahan membukanya, membuat Daffin pun kembali merebutnya untuk membantu membukakan. Cynthia lagi-lagi dibuat tersenyum dengan kepekaan Daffin.
Mereka lalu terdiam memperhatikan taman rumah sakit yang ramai, di sana sangat nyaman karena tamannya juga indah. Sesekali Daffin melirik Cynthia yang sedang makan es krim, selalu tertarik saja untuk melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa lirik-lirik terus? Mau ya?" tanya Cynthia menggoda.
"Enggak kok," bantah Daffin. Ia bukan ingin es krim nya, tapi Cynthia terlihat cantik.
Cynthia lalu menyodorkan es krim nya tepat di depan bibir Daffin, "Nih cobain, enak juga es krim nya," katanya.
"Gak usah, itu kan punya kamu. Habisin aja," tolak Daffin sambil menggelengkan kepala.
"Ih gak papa, lo juga harus nyobain. Dari pada penasaran, cepetan!" perintah Cynthia.
Akhirnya Daffin pun menggigit sedikit es krim itu, tapi tanpa diduga Cynthia malah mendorong es krim nya sampai menabrak pangkal hidung Daffin. Tidak lama si pelaku pun tertawa keras, merasa girang sendiri.
"Hahaha lo lucu banget Daffin!" ucap Cynthia yang masih tertawa.
Daffin lalu mengusap pangkal hidungnya itu, terlihat ada noda di jarinya. Ia pun mengusapkannya ke tisu, lalu beralih menatap Cynthia. Bukannya tersinggung dengan ulahnya, Daffin malah jadi senang sendiri melihat Cynthia bisa sekeras itu tertawa.
"Dasar kamu ini nakal banget, puas sekarang?" tanya Daffin pura-pura marah.
"Hahaha enggak, sayang banget es krim nya cuman sedikit, kalau aja lebih banyak mungkin bisa kaya manusia salju yah." Cynthia lalu kembali tergelak dan semakin tertawa.
Daffin menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera, lalu secara diam-diam memotret Cynthia yang sedang tertawa sambil membuang muka padanya.
"Eh apaan tuh tadi?" tanya Cynthia terkejut sendiri, seperti mendengar blitz kamera. Tawa nya pun repleks terhenti.
Daffin pun segera menyembunyikan lagi ponselnya di saku celana, "Hah apaan?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Apa ada petir ya? Tapi gak mendung kok, malah cerah banget," ujar Cynthia sambil menatap langit.
Mendengar Cynthia yang sepolos itu, membuat Daffin berusaha menahan tawa nya. Ia kira Cynthia akan langsung konek dan curiga kepadanya, tapi ternyata tidak. Di satu sisi perempuan itu cukup menggemaskan juga.
Mereka hampir setengah jam berada di sana, es krim Cynthia pun sudah habis. Suster tadi pun memanggil keduanya lagi untuk melanjutkan terapi, kini Cynthia pun terlihat sudah pulih keadaannya dan bersemangat lagi.
"Sepulang dari sini nanti kita makan siang dulu, kamu mau makan apa siang ini?" tanya Daffin.
__ADS_1
"Lagi pengen yang pedes-pedes, gimana kalau ke Kafe Korea waktu itu lagi?" Cynthia terlihat bersemangat kali ini, menawarkan diri lebih dulu.
"Oke." Dan Daffin pun langsung menyetujuinya.