Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 45


__ADS_3

Terakhir kali mereka makan di Kafe Korea itu pengalaman yang kurang menyenangkan. Rasanya berbeda sekali tanpa kehadiran Elisa, Daffin dan Cynthia bisa lebih nyaman.


"Makan yang banyak, habisin," perintah Daffin sambil menyimpan potongan toppoki di piring Cynthia.


Cynthia hanya tersenyum tipis, "Bantuin juga ya, masa aja gue yang habisin sendiri," katanya.


"Tenang aja, pasti aku bantuin kok."


Melihat Daffin yang makan dengan lahap dan santai, tidak lepas dari perhatian Cynthia. Ia jadi ingat saat ada Elisa, pria itu sibuk sekali karena mengurusi temannya yang merepotkan itu, bahkan sampai minta di suapin.


"Kenapa lihatin aku terus? Ya emang sih aku ganteng," celetuk Daffin lali menyeringai.


Kesadaran Cynthia pun langsung kembali, "Ekhem apaan sih? Siapa juga yang merhatiin kamu!" bantah nya.


"Tuh kan salah tingkah, ketahun nih ye!" ledek Daffin tidak lama tertawa.


Cynthia hanya memanyunkan bibirnya sebentar karena ketahuan, tapi biarlah toh Daffin memang tampan. Keduanya pun kembali melanjutkan makan. Banyak topik yang di bicarakan, membuat obrolan tidak berhenti.


Saat Cynthia sedang asik cerita, perhatian Daffin malah tertuju pada sudut bibirnya. Sebelah tangannya lalu terulur begitu saja mengusap noda saus, membuat Cynthia sampai menghentikan bicaranya.


"Apa?!" pekik Cynthia.


"Sorry, ada saus. Kamu sih makannya belepotan banget, tadi juga makan es krim. Bener-bener anak kecil ya," kata Daffin.


"Hei gue kan gak tahu, habisnya makanannya enak," bela Cynthia.


"Ya sudah nanti pesen lagi buat di rumah kamu, sekalian juga bagi-bagi sama Mama kamu."


Cynthia langsung menggeleng, "Eh enggak usah, ini aja udah cukup kenyang," tolak nya cepat.


"Gak papa, buat makan malam." Daffin lalu tersenyum setelah mengatakan itu, dan kembali melanjutkan makannya.


Memang sih Cynthia tahu Daffin itu orang kaya, royal juga orangnya. Tetapi Cynthia takut merepotkan, ya walau memang bukan dirinya juga yang meminta. Cynthia hanya merasa bingung harus membalas kebaikkan Daffin dengan apa?

__ADS_1


Selesai makanan habis, keduanya pun bersiap untuk pulang. Setelah Daffin membayar, mereka pun keluar dari tempat makan itu. Terlihat langit lumayan mendung, padahal satu jam lalu cerah. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.


"Besok jangan dulu berangkat duluan, tungguin aku jemput," perintah Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Emangnya gak papa? Terus gimana sama Elisa?" tanya Cynthia pelan.


"Kenapa? Kamu takut sama dia?"


Cynthia langsung melotot mendengar itu, "Ck bukan takut, tapi dia itu orangnya kayanya posesif banget sama lo. Gue kira hari ini lo bakal ajak dia lagi dan langgar janji," gerutunya.


Daffin malah tertawa kecil, nada suara Cynthia jadi ketus saat membicarakan Elisa. Tetapi tawa Daffin langsung terhenti saat perempuan itu memukul tangannya, lumayan sakit juga.


"Elisa mungkin cuman takut sahabat deketnya lebih deket sama orang lain," ujar Daffin berusaha menjelaskan.


"Menurut gue sikap dia udah gak wajar, itu mah bener-bener udah tahap suka. Jadi gimana sama hubungan kalian?" Sebenarnya berat bagi Cynthia untuk menanyakan ini, tapi merasa penasaran juga.


"Aku kan sudah bilang sama Elisa gak ada hubungan apapun, kita tetep teman aja kok. Kamu cemburu ya kalau misal aku sama Elisa pacaran?" Daffin lalu menoleh sambil menarik sebelah sudut bibirnya.


"E-enggak kok, kenapa juga aku cemburu?" kesal Cynthia tahu sedang digoda.


"Kamu jangan cemburu, aku dan Elisa beneran gak pacaran kok. Lagian aku juga sudah suka sama orang lain, tapi ingat ya bukan Elisa," kata Daffin mengkode.


"Suka sama siapa?" tanya Cynthia penasaran. Bolehkah berharap jika itu dirinya?


"Ada deh, tapi aku kayanya butuh waktu untuk selesain dulu kesalahpahaman ini. Nanti aku kasih tahu kamu orang yang aku suka," jawab Daffin dengan senyuman penuh artinya.


Dengan berat hati Cynthia pun mengangguk, "Oh iya, nanti kasih tahu gue."


Sepertinya bukan dirinya, batin Cynthia.


Karena di perjalanan terus mengobrol, tidak terasa cepat sampai juga di rumah Cynthia. Daffin seperti biasa menggendongnya masuk ke rumah, saat kembali membawa kursi roda terlihat Citra yang baru keluar kamar.


"Kalian pulang juga akhirnya, gimana terapinya? Lancarkan?" tanya Citra mulai basa-basi.

__ADS_1


"Lancar kok, Mama sih gak pernah ikut makanya gak tahu gimana perkembangan aku," jawab Cynthia agak ketus, menahan kesal.


Citra lalu tertawa canggung, "Ya kan Mama sibuk kerja, kalau Mama gak kerja kita makan apa dong?" belanya.


Daffin lalu ikut menyahut, "Iya gak papa Tante, kan ada saya yang temenin Cynthia. Kata suster terapinya semakin baik, tadi juga Cynthia sudah coba jalan pakai tongkat dan sudah bisa."


"Benarkah? Ya ampun Mama ikut senang deh." Citra lalu berakting manis dengan memeluk Cynthia, tapi anaknya itu malah menepis nya pelan, mungkin malu.


Mendengar suara guntur, membuat Daffin tersentak. Memang belum hujan, tapi langit semakin gelap dan dapat dipastikan sebentar lagi juga turun hujan. Sepertinya Daffin harus pulang sekarang.


"Cynthia, Tante kayanya saya mau pamit pulang sekarang," ucap Daffin.


"Oh iya, Hati-hati ya Daffin di jalannya. Sering-serin main kesini, jangan sungkan," kata Citra sambil menepuk bahunya.


"Iya Tante."


Sebelum keluar rumah, Daffin sempat melambaikan tangan pada Cynthia terakhir kali berpamitan. Saat masuk ke dalam mobil dan menyalakan, matanya malah melihat tas ransel berwarna pink di kursi sebelahnya. Sudah pasti itu milik Cynthia.


Daffin pun membawanya dan kembali turun untuk mengembalikan. Tetapi saat akan mengetuk pintu, telinganya malah tidak sengaja mendengar obrolan dari dalam. Kebetulan pintu itu pun terbuka celah sedikit.


"Kamu harus pura-pura terus sakit, jangan dulu cepat sembuh," perintah Citra.


"Maksudnya? Mama gak suka aku bisa jalan lagi?" tanya Cynthia sensi.


"Ck bukan gitu, tapi kalau kamu sembuh dan bisa jalan, otomatis Daffin juga gak akan urusin kamu lagi. Kamu harus manfaatin dia dong, terus kelihatan lemah agar dia juga iba."


"Cynthia, Daffin itu anak orang kaya. Apa kamu sudah bisa buat dia suka sama kamu? Ayodong harus bisa, punya pacar tajir kaya Daffin itu bakalan nguntungin kamu!" kata Citra panjang lebar.


Daffin yang berada di luar tentu saja terkejut mendengar itu, detak jantungnya pun perlahan menjadi cepat. Kenapa Daffin harus mendengar ini sih? Ia jadi merasa takut akan sesuatu, jika Cynthia memang hanya memanfaatkanya.


"Aku gak mau turutin perintah Mama lagi, aku muak!" tolak Cynthia dengan suara kerasnya.


"Apa? Kamu ini bodoh banget!" maki Citra.

__ADS_1


"Aku bisa buat dia suka sama aku tanpa perintah Mama itu, tapi aku sudah jatuh cinta lebih dulu sama dia. Aku yang kalah Mah," jawab Cynthia.


Kira-kira apa reaksi Daffin sekarang?


__ADS_2