
"Nah itu Kak Daffin, Kakak!" teriak Devina dengan riangnya saat melihat Kakaknya itu turun dari mobil.
Daffin melambaikan tangannya pada keluarga kecilnya yang menyambut di teras rumah. Pria itu terkekeh kecil karena adik perempuannya langsung memeluknya erat. Mereka memang tidak gengsian dan saling terbuka.
"Kamu kangen ya sama Kakak?" tanya Daffin sambil meregangkan pelukannya.
"Ck iyalah kangen, emangnya Kakak gak kangen ya sama aku?" tanya Devina balik.
"Kangen juga dong, apalagi kan kamu orangnya cerewet jadi kalau ada kamu gak suka sepi," jawabnya.
"Ih apaan sih? Aku gak cerewet!" bantah Devina sambil mengerucutkan bibirnya.
Daffin pun beralih menghampiri Rania dan Yoga, tidak lupa menyalami tangan mereka dahulu lalu memeluknya bergantian. Mamanya bahkan sampai berkaca-kaca katanya senang Ia bisa pulang.
"Kok cuman bawa satu tas? Kamu bakal lama kan di sini?" tanya Yoga baru menyadari.
"Semingguan lah Pah, lama kok. Lagian di sini aku ingat masih ada beberapa baju yang sengaja gak aku bawa, buat dipakai pas aku pulang aja biar gak terlalu bawa banyak pakaian, " jawab Daffin.
"Oh iya-iya, gak papa sih gak ada juga, bisa minjem yang Papa, tapi kalau kamu juga mau hehe," kata Yoga sambil terkekeh kecil.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah, terlihat di meja sudah ada beberapa cemilan dan minuman yang disiapkan. Keluarganya ini benar-benar seperti sedang menyambutnya, membuat Daffin terharu saja.
Rumah bertingkat dua yang besar dan bisa dikatakan paling mewah di Kampung ini adalah hadiah Yoga kepada sang istri tercinta di pernikahan mereka saat melahirkan Devina. Sanking cintanya, bahkan asetnya atas nama Rania.
"Oh iya, Mama Livia sama Papa Candra katanya titip salam, nanti mungkin mereka yang akan liburan di sini," ucap Daffin setelah mendudukan tubuhnya di sofa.
"Waalaikumsalam, jadi kapan katanya mereka akan liburan kesini? " tanya Rania tidak sabar sendiri, kalau semua sudah berkumpul suasananya sangat menyenangkan.
Daffin mengedikkan bahunya, "Tidak tahu, Papa Candra kan sibuk banget."
"Iya juga, terus apa Livia masih bekerja?"
__ADS_1
"Enggak, katanya Mama Livia sudah berhenti kerja dan mau di rumah aja. Pas aku mau pulang, dia sedih gak ada temen ngobrol katanya," ucap Daffin sambil tersenyum.
"Dia pasti bakalan kangen sama kamu," celetuk Yoga yang sedang memakan kacang goreng.
Daffin hanya tersenyum tidak tahu harus menanggapi apa. Tetapi Ia senang karena merasa sangat dianggap oleh Livia, padahal wanita itu kan hanya Mama tirinya, tidak ada hubungan darah apapun dengannya.
"Aku kira Kakak bawa Kak Cynthia kesini, pasti seru banget kalau ajak Kak Cynthia. Kita bisa ajak dia jalan-jalan keliling desa," ujar Devina baru membuka suara lagi.
"Nah iya bener, kenapa gak ajak Cynthia?" Rania juga ikut bertanya.
"Aku ajak kok, tapi dia bilang aku waktunya habisin waktu bareng keluarga," jawab Daffin menjelaskan.
"Tapi pacar kamu itu baik ya, izinin kamu pulang kesini, kalian harus LDR beberapa hari," kata Yoga kembali membuka suara.
"Iya aku juga sempat minta izin sama dia, kirain gak bakal diizinin," kata Daffin bercerita.
Memang Cynthia itu sangat pengertian, tidak posesif juga kepadanya. Mungkin Daffin saja yang terlalu banyak pikiran. Cynthia sangat mempercayainya, tidak berpikir yang aneh-aneh juga padanya.
Yoga lalu pamitan katanya akan kembali ke Pabrik, yang lain pun mengerti. Tetapi baru saja membuka pintu akan keluar, Yoga sedikit terkejut melihat kehadiran gadis di luar rumahnya.
"Em apa Daffin sudah sampai Om?" tanya Elisa terlihat agak malu-malu.
"Ada kok, dia baru sampai. Sana masuk aja ya, Om mau berangkat kerja." Yoga pun pamit pergi dari sana.
Elisa terlihat merapihkan penampilannya sebentar, setelah merasa tidak terlalu gugup Ia pun terlebih dahulu mengetuk pintu terbuka itu, membuat perhatian semua orang di dalam langsung tertuju kepadanya.
"Elisa?" panggil Daffin memanggil.
"Assalamu'alaikum, apa aku ganggu?" tanya Elisa.
"Tidak kok, ayo masuk," ajak Daffin.
__ADS_1
Elisa pun duduk di sebelah Devina, lalu menyimpan sebuah bingkisan berisi makanan ringan yang katanya dibuatnya. Ternyata Rania dan Devina baru bertemu perempuan itu, sekarang sudah jarang bertemu.
"Ekhem Devina bisa bantuin Mama gak di belakang? Nanem benih buah-buahan," ajak Rania dengan tatapan penuh arti.
Untungnya putrinya itu mengerti dan setuju, mereka pun pergi dari sana. Jangan salah paham, Rania bukan memberikan kesempatan dua orang itu bersama. Hanya tahu, jika mereka memang butuh waktu bicara.
"Gimana kabar kamu Daffin? Tapi dilihat dari penampilan dan wajah kamu, kayanya kamu bahagia terus ya?" tanya Elisa dengan senyuman manisnya.
"Aku baik kok, kalau kamu?" tanya Daffin balik.
"Aku juga baik kok, tapi kayanya kamu juga sadar aku jadi agak kurus ya? Hehe aku agak kecapean jagain Bapak, belum lagi bantu cari uang dengan jualan," cerita Elisa tidak bermaksud mencari belas kasihan.
Daffin lalu memperhatikan penampilan sahabatnya itu, dan kalau diperhatikan lagi memang Elisa sekarang jadi agak kurus dengan lingkaran hitam di sekitar matanya seperti kekurangan tidur. Kasihan sekali, Daffin ingin sekali membantu, tapi dengan cara apa?
"Terus gimana kondisi Bapak kamu sekarang? Apa ada kemajuan?" tanya Daffin.
"Ada kok, untungnya Bapak makin sehat dan sekarang sudah bisa lah jalan sendiri dan gak tidur di rumah terus," jawab Elisa dengan raut kembali senangnya.
"Syukurlah aku ikut senang, Mudah-mudahan dia cepat sembuh ya." Daffin lalu menepuk-nepuk bahu Elisa, "Tapi kamu hebat, sabar banget jagain dia."
Elisa hanya tersenyum kecil sambil menundukan kepalanya. Ya mau bagaimana lagi, sebagai anak kan sudah harusnya menjaga kedua orang tua jika sudah tua, sebagai rasa balas jasa mereka yang dulu juga menjaganya dari kecil.
"Jadi semester depan berarti kamu akan masuk kuliah lagi kan?" tanya Daffin.
"Sepertinya, nanti lihat aja perkembangan Bapak dulu. Aku juga harus tanya sama dia apa gak papa aku tinggal pergi ke Jakarta lagi," jawab Elisa.
Setelah itu hening, mereka sama-sama terlihat gugup satu sama lain dan bingung harus membahas apalagi. Padahal dulu sangat dekat, tapi entah kenapa sekarang seperti ada tembok di antara keduanya yang membatasi.
"Apa Cynthia juga ikut? Gimana kabar dia?" Tanpa disangka Elisa malah menanyakan Cynthia.
"Dia gak ikut, tapi sempet aku ajak sih. Sekarang Cynthia sudah bisa jalan lagi, gak dibantu kursi roda ataupun tongkat jalan." Daffin terlihat bangga saat mengatakan itu.
__ADS_1
Elisa mengangguk ikut tersenyum, "Kamu pasti seneng ya? Apalagi kamu yang selalu jagain dia sampai bisa jalan normal begini lagi," tanyanya.
Melihat Daffin yang mengangguk membuat Elisa dapat menyimpulkan jika pria itu memang sangat senang.