
"Apa?" tanya Rania menunggu.
Yoga mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kotak merah berukuran kecil dengan bentuk love. Saat membuka penutupnya, terlihat sebuah cincin bermata berlian dengan ukuran sedang. Cahayanya yang berkilau di sore itu terlihat indah.
"Mas ini apa?" Rania merasa speechless sendiri.
Pria itu membawa tangan kirinya, "Rania Ayundya, sampai sekarang aku selalu setia menunggu kamu. Aku melakukan ini karena aku mencintai kamu, aku mau memiliki kamu selamanya."
"Rania, maukah kamu menikah dengan aku?"
Kedua mata Rania terbelak mendengar ungkapan itu, jadi dirinya sekarang sedang dilamar? Tanpa bisa ditahan kedua matanya berkaca-kaca, dengan detak jantung yang cepat. Suasana ini sangat romantis baginya, mungkin pertama kalinya juga Rania dapatkan.
"Mas serius?" Rania malah masih menanyakan itu, padahal Yoga sudah bersungguh-sungguh.
"Kenapa Rania? Kamu masih ragu sama aku?"
"Bukan begitu Mas, tapi apa Mas bisa menerima aku? Lalu Daffin." Rania selalu memikirkan ini, Ia hanya tidak mau menjadi beban pria itu.
"Sudah aku jelaskan berkali-kali kalau aku menerima kamu apa adanya Rania, aku juga gak masalah dengan masa lalu kamu itu. Daffin itu sudah aku anggap anak sendiri, aku juga menyayangi dia," jawab Yoga serius.
"Makasih ya Mas Yoga, makasih untuk semuanya. Aku gak nyangka kita bisa sampai sejauh ini, hanya karena pertemuan tidak terduga waktu itu," ucap Rania sambil tersenyum dengan kedua mata berkaca-kacanya.
"Aku yang makasih sama kamu, karena kamu juga sudah nolongin waktu itu. Mungkin pertemuan kita waktu itu memang sudah di takdirkan Tuhan. Lihatlah sekarang aku sedang melamar kamu untuk jadi istri aku," sahut Yoga merasa lucu sendiri mengingat kejadian dulu.
Keduanya lalu terdiam dengan saling bertatapan dalam. Angin bersepoy di sana sangat menyejukan, menerbangkan helaian rambut Rania yang panjang. Yoga lalu mengusap pipi perempuan itu, membuat Rania merasa disayang.
"Jadi?" tanya Yoga masih menunggu.
"Iya Mas, aku mau," jawab Rania pelan.
"Apa aku tidak dengar?" Yoga sebenarnya dengar, tapi ingin menggoda saja.
"Iya Mas, aku mau jadi istri Mas," pekik Rania lebih keras.
Yoga yang tidak bisa menahan rasa senangnya tertawa lalu membawa Rania ke pelukannya. Terdengar tawa dari keduanya, mereka sedang senang dengan situasi ini. Yoga lalu melepas pelukannya, dan memakaikan cincin itu ke jari manis Rania.
__ADS_1
"Cantik banget, persis kaya yang punya," puji Yoga sambil menatap dalam Rania.
Rania membalas senyumannya, "Makasih Mas, cincin nya cantik. Pasti mahal ya?"
"Kenapa tanya itu? Aku akan kasih apapun untuk kamu, karena kamu spesial."
"Ih Mas Yoga sekarang jadi pinter gombal ya," sindir Rania menahan malu.
"Hehe iya, cuman sama kamu aja," kekeh Yoga sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Kembali keduanya terdiam dengan saling menatap. Entah siapa yang duluan, perlahan wajah keduanya mendekat. Tetapi sebelum bibir keduanya bertemu, suara tangisan Daffin menghentikan aksi keduanya.
"Eh Daffin, kok bangunnya sekarang sih ganteng?" tanya Yoga menahan rasa gemas, padahal tinggal sedikit lagi pikirnya.
Rania melirik pria itu dengan senyumannya, Ia lalu menggendong Daffin yang menangis, "Sudah kenyang bobonya? Kamu dari tadi tidur terus," ujarnya.
Rania lalu membaringkan Daffin di pangkuannya, akan memberikan asi. Tetapi baru saja membuka kancing kemeja bagian atas, kepalanya menoleh melirik Yoga yang masih berada di sana.
"Kenapa?" tanya Yoga polos.
"Iya silahkan."
"Terus kenapa masih di sini?" tanya Rania. Biasanya kan Yoga selalu beranjak pergi menjauh, memberikannya privasi.
Yoga terlihat menghela nafasnya, "Gak papa ya? Soalnya kan sebentar lagi juga kita nikah hehe," celetuknya modus.
Rania menggelengkan kepala, "Enggak, kita kan belum sah. Sudah sana, keliling danau aja," usir nya lembur.
"Ya sudah deh," desah Yoga pasrah, tidak mau memaksa juga. Pria itu lalu berdiri, tapi sebelum pergi sempat mengusap kepala Rania.
Selepas kepergian Yoga, Rania pun melanjutkan membuka bagian atas kemejanya sampai dadanya bisa di keluarkan. Daffin terlihat tidak sabaran, setelah akhirnya bisa minum tangisan anak itu pun berhenti.
Melihat keringat di kening Daffin, Rania pun dengan sigap mengusapnya menggunakan tisu. Biasanya Daffin kalau tidur suka berkeringat, mungkin karena badannya pun agak berisi. Tetapi anak itu sangat menggemaskan sekali.
"Rania lihat aku dapat ikan," teriak Yoga dari kejauhan, pria itu berlari kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Rania.
"Hehe tadi ikannya lagi di sisi danau, terus aku bawa aja pakai tangan dan ternyata berhasil," jawab Yoga yang terlihat kesenangan.
Rania bisa melihat bagian tangan jaket pria itu menjadi basah, membuatnya lagi-lagi menggeleng melihat tingkah aktif kekasihnya ini. Ikannya lumayan besar, kalau dimasak juga pasti cukup untuk berdua.
"Lihat sayang Papa dapat ikan loh, Daffin seneng gak?" tanya Yoga sambil menunjukan ikan itu pada Daffin yang duduk.
Melihat anak itu tertawa-tawa sambil bertepuk tangan menatap ikannya, membuat dua orang dewasa di sana ikut tersenyum merasa lucu. Tetapi saat tangan mungilnya akan menggapai, dengan sigap Yoga pun menjauhkan.
"Papa?" tanya Rania.
Perhatian Yoga teralih pada Rania, "Gak papa kan Daffin panggil aku Papa?" tanyanya meminta izin.
"Gak papa kok, tapi Mas memangnya mau dipanggilnya begitu?"
"Iya, Mama dan Papa."
Sebenarnya Yoga masih ingat peringatan Candra waktu itu, yang ingin dipanggil Papa lebih dahulu oleh Daffin. Tetapi Candra juga kan akan ke Jakarta lagi, dan pasti Daffin akan lebih banyak waktu bersamanya. Hanya saja Yoga tidak akan melewati batas, sampai mengaku sebagai Papa kandungnya pada Daffin nanti.
"Aku jadi gak sabar ngasih tahu kabar kita ke orang tua aku dan semua orang," ucap Yoga.
"Tentang lamaran ini?"
"Iya, mereka harus tahu kalau sebentar lagi kita akan menikah. Gak papa kan?"
Sebenarnya tidak apa, toh mereka juga pasti sudah tahu kalau Rania dan Candra sudah berpisah. Hanya saja ada perasaan sedikit takut di hati Rania, khawatir di jelekkan lagi atau dikata-katai tidak tahu diri karena menikah dengan kenalan mantan suaminya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Yoga sambil mengusap bahunya, merasa bingung melihat Rania yang malah melamun.
"Memangnya Mas mau kapan kita meresmikan hubungan?" Maksud di sini adalah menikah, Yoga juga pasti peka.
"Aku sih maunya dalam waktu cepat ini, dua minggu juga bisa. Tenang aja, aku akan suruh kepercayaan aku untuk urus semuanya," jawab Yoga sambil tersenyum lebar.
"Kayanya itu terlalu cepat, gimana kalau tunggu empat puluh hari lagi? Aku dan Mas Candra kan sidang masih berlangsung, Mas bisa ngerti kan?" tanya Rania pelan.
__ADS_1
Yoga mengangguk, "Baiklah, terserah kamu. Yang penting kan kita tetep nikah hehe."