
"Apa? Dasar kurang ajar!"
Sebelum Elisa berhambur akan menampar Cynthia, Daffin pun segera menghalangi. Tentu saja Elisa yang melihat itu semakin emosi.
"Minggir Daffin, aku harus kasih pelajaran sama cewek kasar itu!" geram Elisa dengan suara masih tertahannya.
"Sudah ya Elisa, jangan bertengkar lagi," ucap Daffin berusaha menenangkan.
"Tapi dia udah ngejek aku, kok kamu malah belain dia sih? Kamu gak ngerasa terbebani kan punya sahabat kaya aku?" tanya Elisa penuh harap.
"Pastilah Daffin itu kerepotan harus punya temen kaya lo, tapi dia kan orangnya gak enakan jadi selalu di pendam di dalam hati." Cynthia lah yang menjawab, belum puas memanasi.
"Heh diam kamu, jangan sok tahu dan ikut campur. Gara-gara kamu Daffin itu jadi berubah, dasar pelakor!" jerit Elisa.
"Apa? Pelakor? Lo tahu gak arti dari pelakor hah?" tanya Cynthia sambil memiringkan kepalanya, agar Elisa bisa melihatnya di balik tubuh Daffin.
Elisa menggeram pelan mendapat ledek kan lagi, Ia tidak tahu sebutan apa untuk orang yang mengambil sahabatnya, bukankah sama saja dengan pelakor? Elisa tetap tidak suka.
Sayangnya pemberontakan Elisa terasa percuma karena Daffin terus menghalangi. Pria itu lalu menariknya menjauh, bahkan Elisa bisa melihat senyuman sinis Cynthia di kejauhan. Benar-benar menyebalkan.
"Ck lepasin!" ucap Elisa sambil menarik tangannya kasar, Ia pun segera membelakangi Daffin.
"Elisa aku gak bermaksud belain Cynthia, tapi aku gak suka kalau kalian sampai berantem. Kalian itu perempuan loh," kata Daffin menjelaskan.
"Kalau bukan dia yang duluan mancing, aku juga gak akan kebawa emosi kali," sahut Elisa tidak mau kalah.
Daffin mengernyitkan keningnya mendengar itu, merasa sedikit tidak setuju. Bukankah yang dari awal terus berceloteh itu Elisa ya? Cynthia juga jadi terbawa kesal karena terapinya harus terganggu.
"Lain kali lebih baik kamu gak usah ikut aja," ucap Daffin dengan suara tegasnya.
Elisa yang mendengar itu berbalik, "Kok gitu sih? Kamu mau berduaan sama dia ya?" tuduh nya.
"Kamu mulai lagi melantur, kalau aku ajak kamu kesini pasti bakalan ribut begini lagi. Aku kesini itu cuman mau temenin Cynthia terapi, sudah itu saja," jelas Daffin dengan sabarnya.
__ADS_1
Tetapi tetap saja Elisa merasa tidak terima, tidak mau membiarkan dua orang itu bersama terus dan hubungan mereka semakin dekat. Elisa sepertinya harus lebih bersabar dan menahan diri.
"Oke aku gak akan ribut lagi sama Cynthia, tapi dia juga jangan terus ledekin aku," kata Elisa.
"Iya nanti aku akan bilang sama dia, aku pegang janji kamu ya Elisa," ucap Daffin sambil menunjuk hidungnya.
Elisa pun hanya berdehem pelan, dan keduanya kembali ke tempat dimana Cynthia tadi. Jam terapi sudah berakhir, jadi mereka bisa langsung pulang. Tetapi sebelum itu, harus menemui dokter khusus dulu.
"Jadi bagaimana dokter? Apa ada perkembangan?" tanya Daffin.
"Ada, dan otot kakinya semakin kuat. Saya yakin kalau rajin terapi dan ada semangat dari diri sendiri, pasien bisa kembali jalan dengan normal," jawab Dokter itu dengan senyuman lebarnya.
"Yes akhirnya, Kira-kira berapa lama ya Dok dia bisa jalan normal lagi? Gak papa lah masih pakai tongkat juga." Tanpa diduga Elisa lah yang bertanya, bahkan perempuan itu sempat bersorak senang. Aneh memang.
"Saya tidak bisa memastikan kapan pasien bisa jalan normal lagi, tapi kalau menduga-duga dalam waktu satu bulan ini," jawabnya.
Satu bulan ya, tidak apalah karena waktu segitu masih tidak terlalu lama. Setelah si Cynthia itu bisa jalan normal lagi, Daffin akan kembali kepadanya dan berjauhan dengan Cynthia lagi.
Elisa sempat melirik Cynthia, mengernyitkan kening melihat ekspresi wajahnya yang terlihat muram. Bukankah seharusnya senang juga bisa kembali jalan?
"Iya sama-sama, jangan lupa minggu depan hadir lagi ya."
Daffin pun mendorong kursi roda Cynthia dengan langkah ringan, setiap selesai terapi Ia memang selalu merasa senang karena yakin keadaan Cynthia akan semakin membaik.
Sepanjang perjalanan pulang, Daffin terus tersenyum seperti merasa senang. Ada dua reaksi yang dapat di simpulkan oleh Elisa dan Cynthia, menurut dugaan mereka masing-masing.
"Kalian lapar gak? Mau makan siang dulu?" tawar Daffin.
"Boleh-boleh, makan dimana?" tanya Elisa cepat, karena memang Ia juga lapar.
"Terserah mau dimana," jawab Daffin, pria itu lalu melirik Cynthia di belakang lewat kaca kecil di atas, "Kamu mau makan apa Cynthia?"
"Lagi pengen makan yang Korea-Korea gitu, boleh gak?" Cynthia terlihat sedikit malu-malu saat mengajukan itu.
__ADS_1
"Iya boleh kok, aku bisa makan apa aja," kata Daffin sambil tersenyum.
Senyuman di bibir Elisa menghilang melihat pria itu yang malah menawarkan pada Cynthia, dan langsung dituruti begitu saja. Kenapa tidak bertanya padanya sih?
Elisa pun duduk bersandar dengan wajah cemberut. Ia semakin bersemangat untuk menjauhkan Daffin dengan Cynthia, jangan sampai deh mereka semakin dekat karena dirinya akan tersingkir kan.
Ada banyak restoran khusus makanan Korea di Jakarta, jadi menemukannya pun cukup mudah. Daffin pun terlihat gercep sekali memperlakukan Cynthia seperti biasa, Elisa sendiri hanya memperhatikan dengan tidak suka.
"Katanya satu makanan aja porsinya cukup besar, jadi kita beli satu-satu aja terus bagi-bagi ya?" tanya Daffin menawar.
"Boleh," angguk Cynthia.
Daffin lalu melirik Elisa yang dari tadi diam saja, "Kamu mau makan sama apa Elisa?" tanyanya.
"Terserah!" jawab Elisa ketus tanpa menatap, malas saja.
"Ya sudah biar Cynthia aja yang pesen, dia pasti tahu makanan apa aja yang enak-enak di sini," kata Daffin. Pria itu terlihat tidak mau meributkan suasana ini.
Ya Daffin sadar sahabatnya itu sedang ngambek, tapi Daffin juga kurang mengerti alasan Elisa ngambek kepadanya. Apa karena kejadian di rumah sakit tadi? Atau hal lain? Daffin merasa serba salah jadinya.
Ada empat menu yang Cynthia pilih, makanan itu juga yang direkomendasikan pelayan. Toppoki, gimbab, ramyeon dan patbingsoo. Walaupun tidak terlalu banyak, tapi porsinya yang besar akan kenyang.
"Elisa kenapa diem terus? Ayo makan," tegur Daffin, Ia bahkan sudah mencoba beberapa suap.
Elisa semakin mengerucutkan bibirnya, kesal sekali karena Daffin baru bertanya, "Gak nafsu!" jawabnya ketus.
Padahal jujur saja perutnya lapar sekali, apalagi melihat makanan di meja.
"Tadi katanya kamu juga laper, sudah ayo makan aja," ajak Daffin.
Pria itu lalu memberikan sumpit kepada Elisa, tapi perempuan itu menggelengkan kepala menolak sambil melipat kedua tangan di dada. Tetapi Daffin tidak menyerah, Ia pun kembali berusaha.
Trak!
__ADS_1
Kedua mata Daffin terpejam saat sumpit itu ditepis kasar Elisa sampai jatuh ke lantai. Ia memang marah, tapi Daffin berusaha mengendalikan emosinya.
"Daffin, aku mau pulang aja," rengek Elisa manja.