
"Nenek, ini ada Mas Candra," ucap Candra memasuki kamar.
Nenek Ima yang tadinya sedang berbaring pun kembali duduk, Candra nyang melihat nya langsung mendekat dan duduk di sisi ranjang, sambil meminta Nenek Ima kembali istirahat saja karena pasti kelelahan di perjalanan sangat lama.
"Katanya Nenek sampai mabuk perjalanan ya?" tanya Candra.
"Iya, maklum saja Nenek jarang perjalanan jauh dan pakai mobil begitu," jawabnya jujur tanpa malu.
"Nenek sudah sarapan belum? Sebelum minum obat, harus makan dulu."
"Tadi di jalan sih dikasih makanan."
"Enggak, Nenek makan lagi ya." Candra lalu menatap Rania, "Bisa minta tolong, kamu nanti suruh mbok Nina aja yang siapin dan bawa kesini."
Rania mengangguk paguh, "Iya Mas, aku ke dapur dulu." Rania pun keluar kamar, meninggalkan dua orang itu di kamar.
"Bagaimana kabar Nenek? Baik, kan?" tanya Candra.
"Nenek baik kok, kalau kamu?"
"Saya juga baik dan sehat."
"Syukurlah kalau begitu." Tetapi terlihat sih dari penampilan saja, Candra semakin tampan dan gagah. Seperti saat pertama mereka bertemu saja.
"Nenek kagum banget sama tempat tinggal nak Candra, kaya istana," celetuk Nek Ima yang mengundang tawa Candra.
"Haha Nenek bisa saja ih, biasa aja," kekeh Candra.
"Tapi Nenek gak terlalu kaget sih, soalnya nak Candra ini kan memang orang kaya. Di desa saja punya villa bagus dan kebun teh yang besar, ternyata rumahnya di Jakarta lebih besar dan bagus."
"Nenek suka?"
"Tentu saja Nenek suka, Rania bisa tinggal di rumah yang nyaman begini. Nenek jadi lega sendiri."
__ADS_1
Candra tersenyum tipis. Tetapi walaupun rumahnya bagus dan nyaman, bukankah penghuninya yang lebih penting ya?
"Maaf ya Nek aku tidak sempat ke desa lagi untuk jenguk Nenek," ucap Candra tidak enak, sambil mengusap tengkuknya.
"Gak papa, Nenek ngerti kamu pasti sibuk banget di sini. Untuk ke desa juga sangat jauh, kasihan kalau Rania di perjalanan jauh."
"Nah itu, aku juga gak tega dia lagi hamil begitu dan harus pergi jauh-jauh."
"Apa selama ini Rania merepotkan kamu?" tanya Nek Ima.
Candra sampai tersentak sendiri mendengar itu, "Tidak kok, boro-boro, Rania itu sangat mandiri dan tidak pernah merepotkan aku," jawabnya cepat. Malahan istrinya yang satu itu masih segan, untuk meminta ini itu saja selalu pilih-pilih.
"Sepertinya Rania sudah menemukan jodohnya yang tepat, nak Candra sosok suami yang baik untuk Rania," ucap Nek Ima sambil tersenyum dan menepuk bahu Candra seolah merasa bangga.
Mendapatkan pujian seperti itu, bukannya membuat Candra bahagia, malah merasa terbebani. Nyatanya wanita paruh baya itu tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi. Tidak tahu kalau Nek Ima semisal tahu rahasianya, pasti tidak akan sudi memujinya lagi seperti itu.
"Nek ini aku bawain nasi goreng, Nenek sarapan dulu," ucap Rania yang akhirnya dudah kembali.
Candra menoleh ke belakang, Ia langsung berdiri saat tahu Rania lah yang ternyata membawa makanannya. Candra pun dengan sigap mengambil alih nampan itu, "Kenapa kamu yang bawa? Tadi kan aku bilang biar mbok Nina aja yang ambilin," tegur nya.
"Kamu ini selalu saja gak dengerin, kan kamu jangan kerja yang capek-capek."
Rania tergelak sendiri mendengar itu, "Tapi bawa makanan itu gak berat dan buat aku capek kok," ucapnya beralasan. Memang suaminya itu berlebihan sekali.
Nek Ima yang memperhatikan interaksi di antara suami istri itu dibuat tersenyum. Candra terlihat sangat perhatian sekali pada cucunya, membuatnya terharu dan yakin jika mereka memang saling menyayangi. Selama ini selalu khawatir takut Rania diperlakukan tidak baik, tapi pagi ini semua adalah jawaban keraguannya.
"Gak papa Nenek sarapan sama nasi goreng?" tanya Candra.
"Gak papa, Nenek bisa makan sama apa saja. Terima kasih ya."
"Habiskan ya Nek, terus minum obatnya dan istirahat. Nanti pas bangun aku yakin Nenek bakal baikan," ucap Candra sambil tersenyum.
"Iya."
__ADS_1
Karena Candra akan berangkat ke kantor, jadi pria itu harus bersiap takut terlambat. Rania tadinya disuruh Neneknya menemani Candra sarapan, tapi untungnya Candra yang peka tahu jika Rania ingin banyak menghabiskan waktu dengan Neneknya itu menolak dan memberikan kesempatan. Candra pun akhirnya pergi ke ruang makan sendiri.
Di tengah asiknya sarapan dengan roti, perhatian Candra teralih pada Livia yang baru datang lalu duduk di depannya, "Baru bangun? Aku kira bakal lebih siang bangunnya," ucapnya sekedar basa-basi.
"Ada meeting jam tujuh, aku hampir terlambat sekarang." Hanya itu yang bisa Livia katakan, walau tanpa menatap Candra karena sibuk mengoleskan selai ke rotinya.
"Oh begitu." Candra terlebih dahulu menelan rotinya, "Aku mau bilang sesuatu, kalau Nenek Rania sudah di sini."
Dan akhirnya Livia pun baru menatap Candra, "Serius?"
"Iya, kayanya datang jam limaan. Tadi aku sudah ketemu dan sempat ngobrol di kamar tamu. Kasihan Nek Ima kaya kecapean, katanya gak pernah perjalanan jauh dan sempat mabuk juga."
"Terus aku gimana? Apa aku harus temui dia juga?" tanya Livia yang seolah meminta pendapat.
"Jangan, kalian ketemu pas di waktu gak sengaja aja. Nek Ima pasti bakalan bingung dan tanyain kamu siapa, kamu akan jawab apa?"
Sebelah sudut bibir Livia terangkat, perempuan itu lalu memiringkan kepalanya sedikit, "Kamu maunya aku jawab apa? " tantang nya.
"Aku sih pengennya kamu gak jujur, karena aku takut akan jadi masalah besar yang baru."
Reaksi Nek Ima saat tahu rahasia itu pasti akan marah besar, tapi dengan tetap tenang dan suara lembutnya. Tetapi bagaimana jika misal meminta hal aneh? Semisal meminta Rania menceraikannya? Kan tidak mungkin.
"Ya sudah kalau itu mau kamu, aku tidak akan temui dia lebih dulu. Biar waktu saja yang pertemuin kita bareng, pasti akan ketemu juga di rumah ini," sahut Livia dan kembali fokus sarapan.
Candra menatap Livia dalam, ingin sekali bisa membaca isi otaknya itu apa yang sedang dipikirkannya. Candra hanya khawatir Livia sedang merencanakan sesuatu, istrinya yang satu ini kan memang suka sekali memancing emosinya.
"Kenapa lihatin aku kaya gitu?" tanya Livia tersinggung.
"Gak papa, cuman aku gak akan bosen ingetin kamu untuk jangan bersikap gegabah," ucap Candra dengan ekspresi seriusnya.
"Haha tenang saja, kamu gak usah tegang begitu dong Candra. Aku tidak akan bilang kok, tapi kalaupun Nenek Rania itu tahu rahasia kamu, bukan aku ya yang laporin."
"Livia," panggil Candra dengan menekan seolah merasa geram karena seperti dipermainkan.
__ADS_1
"Aduh sudah ah, aku mau berangkat duluan takut telat." Livia pun beranjak dari duduknya dan melenggang pergi begitu saja. Malas sekali pagi-pagi sudah cekcok begitu, membuat kepalanya pusing.