Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Merasakan Perbedaannya


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, kini usia kehamilan Rania sudah masuk lima bulan. Perlahan perutnya yang rata pun mulai berisi dan semakin terlihat, tentu saja berat badannya pun ikut naik. Walaupun begitu Rania tetap terlihat cantik, bahkan aura nya semakin keluar.


"Bayinya sehat dan terlihat aktif, sudah mulai terlihat juga ya bentuknya ini," jelas si Dokter kandungan sambil menunjuk layar monitor yang menunjukkan gambar di dalam perut Rania.


"Bu Rania apa ada keluhan saat menginjak kehamilan ke lima ini?" tanya dokter itu pada Rania yang berbaring.


"Em saya jadi mudah lapar dan sering pegal-pegal juga," jawab Rania jujur, "Apalagi di kaki yang kelihatan agak bengkak."


"Memang biasanya hampir semua yang dirasakan Ibu hamil di usia lima bukan itu begitu." Perhatian dokter itu teralih pada Candra, "Pak Candra sebagai suami harus pengertian. Kalau bisa bantu istrinya pijitin, tanya juga keinginan dan apa yang dirasakannya. Pokoknya anda harus selalu siaga."


Candra mengangguk, "Iya dokter, terima kasih masukannya." Bukan maksud percaya diri, tapi Candra merasa Ia sudah menjadi suami yang siaga selama ini.


"Jangan lupa ya vitaminnya di minum, selain itu pola makannya juga harus di atur. Kalau memang misal ngidamnya makanan gak sehat gak papa, tapi jangan banyak-banyak ya."


"Baik dokter, terima kasih."


"Sama-sama, jangan lupa bulan depan cek lagi." Si dokter itu sampai mengantarkan pasien spesialnya itu ke depan ruangan.


Candra dan Rania berjalan sambil berpegangan tangan keluar dari rumah sakit itu. Terlihat senyuman terus terukir di bibir mereka, rasanya lega dan juga senang bisa melihat perkembangan bayi yang semakin besar, yang terpenting pastinya sehat.


"Berat badan aku makin nambah, kayanya bakalan makin gendut deh nanti," keluh Rania dengan helaan nafas beratnya. Pipinya pun mulai tembem, apalagi di bagian kakinya yang bengkak.


"Gak papa, yang pentingkan kamu sehat. Namanya juga Ibu hamil, pasti berat badannya naik lah," sahut Candra.


"Iya sih, tapi aku ngerasa naiknya cepet banget, padahal baru lima bulan. " Tidak terbayang jika kandungannya semakin besar, mungkin berat badannya pun akan bertambah banyak. Rania tidak bisa bayangkan dulu badannya yang langsing menjadi bulat.


"Tapi jujur aja kamu sekarang gemoy banget," celetuk Candra yang sedang menyetir.


"Hah gemoy?" Rania seperti tidak asing dengan kata itu, hanya lupa lagi artinya.

__ADS_1


"Iya lucu."


"Kok lucu sih? Aku kan gendut." Apakah Candra sedang mengejeknya?


"Kamu sih cantik, makanya lucu mau gendut juga. Tapi kamu bukan gendut sih, lebih tepatnya montok."


"Apa?"


"Apalagi bagian dada sama bokong kamu itu makin besar, aku kan jadi suka lihatnya hehe," ucap Candra blak-blakkan.


Perlahan semburat merah terlihat di pipi Rania, "Ih Mas jangan bilang gitu," rengeknya karena malu.


Candra hanya terkekeh kecil berhasil menggoda istrinya itu, tapi yang dikatakannya memang benar kok. Di matanya mau Rania itu langsing atau sekarang sudah berisi, tetap cantik-cantik saja. Hal yang paling membuatnta bahagia adalah karena perutnya semakin besar, itu berarti kelahiran anaknya akan semakin cepat.


"Apa kita bisa belanja perlengkapan bayi sekarang?" tanya Candra sambil menoleh sekilas.


"Ah lama banget, aku udah gak sabar."


Rania hanya menggelengkan kepala sudah bosan rasanya mendengar Candra yang mengeluhkan hal sama, pria itu sangat tidak sabaran menyambut kelahiran putra mereka. Ya jenis kelaminnya sudah diberi tahu, yaitu laki-laki. Tentu saja keduanya senang, bahkan Rania sempat melihat waktu itu Candra sampai meneteskan air mata, mungkin terharu.


"Mas mau ke kantor lagi?" tanya Rania. Mereka turun dari mobil karena sudah sampai di rumah. Hari masih siang, Candra belum pulang karena izin ada urusan di luar bersamanya.


"Iya aku mau ke kantor lagi, tapi mau ke kamar dulu ambil dokumen ketinggalan."


Mereka pun pergi ke kamar masing-masing, ya sampai saat ini pun keduanya masih tidur terpisah. Sebenarnya tidak terpisah juga, karena Candra pun sering tidur bersama Rania. Di seling saja, membagi jadwal dengan Livia. Saat masuk ke kamar, Candra sedikit terkejut menemukan ternyata ada Livia di dalam.


"Kamu gak ke kantor?" tanya Candra.


"Gak."

__ADS_1


"Tumben, apa gak ada jadwal?"


"Hm."


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Candra mendengar Livia yang menjawabnya singkat dan dingin. Candra pun mendekati perempuan itu yang berdiri menatap keluar jendela, lalu memeluknya dari belakang. Livia pun hanya diam membiarkan, tatapan nya tetap lurus ke depan.


"Aku ngerasa kamu semakin jauh Livia," ucap Candra pelan.


"Seharusnya aku yang bilang begitu," balas Livia sambil tersenyum kecut.


"Aku gak pernah jauhin kamu, kamu yang selalu menghindar setiap aku mendekat." Candra berusaha membela diri, karena merasa dirinya selama ini begitu.


"Tapi kamu tahu sendiri aku dari dulu memang begini, dan kamu biasanya yang datang lebih dahulu. Tapi sekarang kayanya aku jangan terlalu berharap, karena kamu gak akan datangin aku lagi. Kamu punya yang lain, dia sekarang yang lebih penting dari aku." Dia di sini sudah pasti Rania.


Mendengar itu membuat Candra semakin mengeratkan pelukannya di perut Livia, "Maaf kalau kamu ngerasa begitu, tapi aku juga sedang berusaha adil Livia."


"Hah lucu sekali, kamu pikir kamu adil selama ini?"


"Mungkin?"


Livia lalu melepaskan pelukan Candra dan berbalik, tatapan nya terlihat dingin seperti biasa, "Sebenarnya aku gak mau bilang ini, karena takut dianggap baperan. Tapi aku rasa kamu gak adil Candra, kamu lebih mentingin Rania dan mulai acuh ke aku." Berat sekali bagi Livia untuk mengatakan ini, tapi di pendam terus pun rasanya sesak.


Candra lalu membawa kedua tangan Livia. Perempuan itu sempat menolak, tapi Ia ambil kembali dan menariknya untuk lebih dekat dengannya, "Sayang kamu tahu sendiri aku memang harus begini, sesuai rencana aku dari awal," ucapnya memberikan pengertian.


"Tapi aku ngerasa kamu gak peduliin aku, kenapa harus Rania terus? Seharusnya kalau sesuai rencana, kamu gak bersikap berlebihan begitu. Aku takut.. Takut kamu terbawa suasana dan mulai buka hati untuk dia."


Melihat Livia yang berkaca-kaca seperti akan menangis, membuat rasa bersalah Candra semakin besar. Pria itu pun membawanya ke pelukan, dan benar saja tidak lama Livia pun menangis. Sudah lama rasanya perempuan itu tidak serapuh ini di depannya, mungkin luka hatinya terlalu dalam sampai membuatnya tidak kuat lagi.


"Kamu tenang saja Livia, aku akan selalu ingetin diri aku untuk jaga perasaan. Maaf kalau aku terlalu fokus pada dia, aku terlalu khawatir pada bayi di kandungan nya," ucap Candra berusaha meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2