
"Sudah puas pacarannya?" tanya Candra sinis.
Rania menelan ludahnya kasar, "Hah?"
"Dari mana kamu?"
"Maaf Mas aku--"
"Dari mana kamu sama Leon berduaan? Naik motor lagi. Katanya dari siang kalian pergi, kemana?" tanya Candra menuntut. Ia pulang lebih awal, tapi di rumah tidak menemukan Rania dan itu membuatnya bingung sendiri. Saat Candra tanyakan pada Livia, istrinya itu bilang Rania pergi dengan Leon tapi tidak tahu kemana.
"Sebenarnya aku dan Leon dari Ancol," jawab Rania jujur, kepalanya menunduk tanda takut.
"Apa? Dari Ancol?"
"Iya."
Candra mendengus, "Habis ngapain kalian di sana?" Pertanyaan bodoh, tapi Candra terlalu penasaran.
"Main." Rania menjawabnya tanpa ragu, toh memang benarkan di sana juga Ia main?
"Main berduaan, wah romantis banget ya." Candra sampai bertepuk tangan, pria itu sedang menyindir.
"Aku sama Leon gak pacaran kok," bantah Rania, "Kami di sana cuman main."
"Emangnya yang lagi pacaran apa? Mereka juga kaya gitu, habisin waktu bareng-bareng, sanking terlalu asik sampai lupa waktu," sindir Candra dengan bibir mencebiknya.
"Tapi--"
"Kamu juga gak bilang ke aku mau pergi, apa maksudnya? Kamu mau selingkuh diam-diam dari aku?"
Kernyitan terlihat di kening Rania, kenapa pria itu semakin berlebihan? "Mas kok bilangnya gitu? Aku gak selingkuh kok."
"Terus kenapa kamu gak minta izin dari aku? Pergi diam-diam gitu aja."
"Untuk itu aku minta maaf, aku takut Mas gak izinin."
__ADS_1
"Masa? Bukan karena takut ketahuan kalau kamu lagi jalan sama cowok lain?"
Rania menggeleng lalu mendekati Candra, dengan memberanikan diri memegang tangannya, "Mas selalu gak bolehin aku ini itu, aku bener-bener pengen pergi ke tempat itu karena aku sangat penasaran dari kecil," ucapnya jujur.
Candra hanya diam menatapnya, membiarkan Rania beralasan.
"Sebenarnya tadi aku bingung apa harus bilang sama Mas atau enggak, tapi kalau bilang Mas juga pasti gak akan izinin, kan?" lanjut Rania.
"Kata siapa?" tanya Candra.
Rania pun menunduk merasa malu dan juga sedikit takut saat melihat ekspresi galak Candra, sepertinya baru kali ini Rania membuat suaminya itu marah. Tetapi inilah resikonya, tapi Rania juga tidak tahu kalau Candra itu akan pulang lebih awal, padahal Ia sudah pulang dengan cepat.
"Kamu kan bisa minta perginya sama aku, nanti kita baru pergi hari Minggu," ucap Candra.
"Tapi aku gak sabar, terlalu penasaran gimana Ancol itu. Maaf ya Mas?" Kedua mata Rania sampai berkaca-kaca merasa bersalah pada suaminya itu. Padahal Rania tahu dirinya salah, tapi tetap saja Ia lakukan.
Candra menghela nafasnya, "Aku gak mau ini kejadian lagi, pokoknya kalau kamu mau pergi kemana pun harus bilang sama aku," ucapnya tegas.
"Iya Mas aku janji lain kali akan bilang, maaf ya Mas?"
"Aku tuh cuman khawatir kamu kenapa-napa, apalagi pergi jauh tanpa sepengetahuan aku."
Tetapi Candra juga kan tetap tidak bisa memastikan Rania akan aman dengan adik Iparnya itu, inginnya Ia yang menjaga langsung. Saat mengetahui Rania tidak di rumah saja sudah membuatnya panik, apalagi tahu jika perempuan itu pergi dengan orang lain yang seorang lelaki.
"Mas aku beli ini untuk Mas," ucap Rania sambil memberikan sebuah bando dengan hiasan telinga Mickey.
Candra terkekeh kecil lalu menerimanya, "Serius ini untuk aku? Bukan punya kamu?"
"Iya, aku gak tahu pengen aja lihat kamu pakai itu, makanya aku beli."
"Kamu ngidam aku pakai ini?" tanya Candra terpana.
"Kayanya iya, coba pakai Mas."
Tanpa penolakan karena itu adalah permintaan dari bayinya, Candra pun memakai bando itu. Saat melihat Rania tersenyum lebar dan tidak sedih lagi, membuat Candra pun puas dan senang. Pria itu bahkan dengan konyolnya sampai bertingkah imut, membuat Rania terhibur dan tertawa.
__ADS_1
"Cocok gak?" tanya Candra.
"Haha iya cocok, Mas jadi kelihatan lebih muda juga," celetuk Rania tanpa sadar.
Senyuman Candra pun menghilang, "Jadi aku udah kelihatan tua ya aslinya?"
"Bukan gitu Mas, tapi ah pokoknya lucu aja gitu."
"Rania-Rania, bisa aja kamu ini." Candra merasa Rania itu sangat hati-hati jika bicara dengannya, seperti takut salah bicara dan membuatnya marah. Istrinya yang satu ini berbeda sekali, terlalu khawatiran.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Candra.
"Belum," geleng Rania.
"Ya sudah sana mending mandi dulu, aku tunggu di ruang makan," perintah Candra.
"Iya Mas." Rania pun melenggang pergi dengan perasaan lega, padahal sempat takut akan dimarahi Candra, tapi untungnya emosi pria itu tidak sampai meledak-ledak dan masih bisa memaafkannya. Rania janji tidak akan mengulangi.
Candra sendiri memutuskan ke kamarnya terlebih dahulu untuk membawa ponsel, tapi di tengah tangga tidak sengaja berpapasan dengan Livia yang akan turun. Melihat perempuan itu menatap ke atas kepalanya, membuat Candra paham dan dengan segera Ia pun mencopot bando Mickey itu.
"Kamu mau makan ke bawah?" tanya Candra sambil berdehem pelan.
"Enggak aku males, tolong nanti suruh bibi untuk anter makan malam ke kamar," jawab Livia. Tadi Ia akan turun ke bawah, melihat Candra ya sudah sekalian saja Ia suruh suaminya itu yang memanggil kan.
"Kenapa gak bareng-bareng aja? Kamu selalu makan di kamar." Candra sampai lupa kapan terakhir kali mereka makan bersama.
"Kalau makan sama kalian, aku jadi selalu gak nafsu," celetuk Livia dengan nada sinis nya.
Candra yang mendengar itu hanya menghela nafas, apakah karena Rania? "Ya sudah kalau gitu, nanti aku suruh bibi anterin makanan ke kamar."
Livia mengangguk lalu berbalik untuk kembali naik ke kamatnya, tapi baru saja dua langkah Ia kembali berucap, "Kamu sekarang kelihatan lebih apa adanya ya Candra," ucapnya tanpa berbalik.
Candra mengernyitkan keningnya, "Maksudnya?"
"Maksudnya kalau sama aku, kamu selalu serius dan seperti jaga batasan. Tapi aku ngerasa kalau kamu sama Rania lebih terbuka dan menunjukan perasaan kamu. Katanya kalau orang lain sama pasangan yang dia suka jadi dirinya sendiri, itu berarti dia cinta." Setelah mengatakan itu, Livia pun melanjutkan naik meninggalkan Candra.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Candra terdiam meresapi perkataan Livia, benarkah dirinya seperti itu? Candra tidak sadar jika benar dirinya terlihat lebih terbuka saat bersama Rania. Entah kenapa, Candra jadi merasa khawatir Livia terlalu berprasangka seperti itu karena akan membuatnya merasa tidak enak. Candra pun segera naik untuk menyusul, tapi saat ke kamar tidak menemukan keberadaan Livia.
"Kemana dia itu?" tanyanya seorang diri. Sepertinya Livia sengaja pergi ke tempat lain karena tahu Candra akan ke kamar, padahal Candra ingin meluruskan sesuatu. Mungkin nanti saja setelah makan malam.