Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 60


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


Semua kelas sedang fokus dalam ujian semester, belajar dengan giat agar nilai tetap stabil. Selama ini pun, Daffin jadi tidak banyak waktu dengan sang kekasih, keduanya sama-sama fokus belajar.


Senyuman di bibir Daffin terukir melihat perempuan yang dirindukan nya itu sedang duduk sendirian di bangku taman. Cahaya matahari yang bersinar malah membuat wajah cantiknya semakin berseri-seri.


"Ekhem sendirian aja nih, boleh duduk di sini gak nemenin?" tanyanya setelah di depan perempuan itu.


Perlahan Cynthia mengangkat kepala, ikut tersenyum melihat Daffin. Tanpa perlu menunggu jawaban darinya, Daffin pun duduk begitu saja di sebelah nya. Terlihat ada beberapa buku yang menarik perhatian nya yang Daffin bawa.


"Gimana ujian pertama tadi? Lancarkan?" tanya Daffin memulai obrolan.


"Lumayan lancar, tapi kepala aku pusing banget sekarang," jawab Cynthia mengeluh.


"Semangat, besok kan hari terakhir. Kamu pasti suka bergadang ya?"


"Iya, kok tahu?"


"Mata panda kamu, kamu kelihatan kelelahan," jawab Daffin sambil menunjuk matanya.


"Hm aku lelah banget, tapi aku harus dapat nilai stabil supaya beasiswa aku gak diambil. Aku dapetin itu susah banget," kata Cynthia.


Daffin mengangguk mengerti, beasiswa itu bagi Cynthia pasti sangat dibutuhkan karena biaya kuliahnya jadi diringankan. Daffin juga mendapatkan nya, tapi untuk dirinya yang orang berada pasti tidak masalah juga jika harus bayar.


"Jaga kesehatan ya, jangan terlalu dipaksakan juga nanti yang ada kamu drop lagi. Jangan lupa makan, terus olahraga," nasihat Daffin perhatian.


"Iya aku usahakan bagi-bagi waktunya," angguk Cynthia.


Sudah beberapa bulan berlalu dari waktu saat terjadinya musibah itu, dimana Daffin yang tidak sengaja menabrak Cynthia sampai menyebabkannya lumpuh. Sekarang kondisi Cynthia sudah pulih lagi, bahkan sudah bisa berjalan normal tanpa dibantu alat penyangga.


Daffin tentu sangat senang bisa ikut menemani di moment yang tidak pernah akan terlupakan bagi Cynthia. Mereka sama-sama sudah mengikhlaskan, bahkan tidak menyangka keduanya sekarang adalah pasangan kekasih.


"Nanti makan malam makan di rumah aku ya, ajak Mama kamu juga," ajak Daffin tiba-tiba.

__ADS_1


"Kamu serius? Ada acara apa?" tanya Cynthia sedikit terkejut.


"Cuman makan malam, sekalian ngenalin orang tua kita. Aku pikir mereka juga harus saling kenal, aku juga gak mau mereka salah paham terus," kata Daffin.


Cynthia mengangguk setuju mendengar itu. Walaupun hubungan mereka baik-baik saja, tapi kan orang tua keduanya belum tentu akrab juga. Apalagi Papanya Daffin, pria itu belum percaya sepenuhnya.


"Memangnya siapa yang ngajak?" tanya Cynthia penasaran. Apakah Daffin yang membuat idenya?


"Sebenarnya aku, terus aku tanyain ke Papa dan ternyata dia juga setuju aja. Jadi gimana, kamu mau kan?"


"Boleh kok, aku pasti datang. Kapan?"


"Lusa malam ya, selesai kita ujian juga jadi biar lega gitu," jawab Daffin.


Mereka tidak bisa berlama-lama mengobrol karena suara pengumuman pemberitahuan sesi kedua ujian akan segera di mulai. Daffin dan Cynthia pun kembali harus berpisah ke kelasnya masing-masing.


Nanti mereka akan bertemu lagi saat ujian selesai, untuk berangkat dan pulang sih masih tetap bersama. Hanya saja tidak suka main seperti dulu, karena mereka harus benar-benar belajar di suasana ujian ini.


Lusa pun tiba. Rasanya lega sekali sudah menyelesaikan ujian semester terakhir, mereka bisa bernafas lega sejenak sambil berharap semoga mendapatkan nilai yang bagus dan stabil.


Sekarang Daffin sedang bersiap di kamarnya, pria itu terlihat sedang merapihkan rambutnya yang bahkan sudah rapih. Ia terlihat tampan dan rapih sekali memakai setelan serba hitam, padahal hanya makan malam biasa dan di rumahnya.


Tok tok!


"Ya masuk!" teriaknya mempersilahkan dari dalam.


Saat Daffin menoleh ke ambang pintu, Ia sedikit terkejut karena yang masuk adalah Papanya. Daffin pun memutuskan menghentikan kegiatannya lalu menghampiri pria paruh baya itu.


"Papa, ada apa?" tanyanya.


"Gak papa, cuman mau lihat kamu saja." Candra terlihat tersenyum bangga menatap putranya itu, "Kapan katanya mereka akan sampai?"


"Katanya sekarang lagi di jalan, paling sekitar sepuluh menitan lagi sampai," jawab Daffin.

__ADS_1


"Kamu gugup gak? Jangan gugup, ini bukan pertemuan antar keluarga yang mau membicarakan pernikahan," goda Candra.


"Haha Papa bisa saja, kayanya kalau begitu aku lebih gugup," ucap Daffin sambil mengusap tengkuknya tanda malu.


Candra hanya tersenyum saja melihat reaksi putranya itu, benar-benar seperti melihat dirinya saat muda jika melihat Daffin. Tidak terasa anaknya sudah sebesar ini, dan dirinya pun usia semakin bertambah tua.


"Ayo ke bawah, kita harus sambut mereka," ajak Candra sambil menepuk-nepuk bahu putranya.


"Mereka hanya berdua Papa, Cynthia dan Mamanya saja," ucap Daffin memberitahu.


"Iya Papa juga tahu kok."


Tepat saat keduanya turun dari lantai dua, bel rumah pun berbunyi menandakan ada tamu. Semuanya sudah mengira jika itu adalah Cynthia dengan Mamanya, dan ternyata benar saja dugaan mereka.


Terlebih dahulu saling menyapa ramah satu sama lain, lalu mempersilahkan masuk dan langsung pindah ke ruang makan. Terlihat di atas meja ada banyak menu makanan yang sudah disiapkan, porsinya seperti untuk belasan orang saja.


"Terima kasih Pak Candra dan Bu Livia yang sudah mengundang saya dan anak saya makan malam di sini," ucap Citra memulai obrolan.


"Sama-sama, anggap saja ini sebagai acara silaturahmi," sahut Livia tidak kalah ramah.


Candra langsung mempersilahkan semuanya untuk mulai makan, semuanya pasti sudah lapar karena sudah lebih dari jam makan malam dari biasanya.


Daffin terlihat tersenyum lebar melihat Cynthia yang membawakan nasi dan lauk untuknya terlebih dahulu. Perempuan itu memang perhatian sekali, padahal Daffin juga tidak meminta.


"Pak Candra, saya sangat berterima kasih untuk semuanya. Daffin adalah anak yang baik, dia menjaga amanahnya dengan baik menjaga dan merawat Cynthia sampai sembuh. Pak Candra beruntung sekali memiliki putra seperti Daffin," ucap Citra penuh haru.


"Ya saya juga merasa beruntung Daffin bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti," angguk Candra, sebenarnya Ia belum tahu maksud Citra mengatakan itu.


Citra lalu terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas nya, sebuah amplop coklat dengan isi yang terlihat tebal, "Pak Candra, ini saya kembalikan uang kompensasi waktu itu," ucapnya.


Semua orang di meja terkejut mendengar itu, Candra pun langsung menggeleng, "Tidak usah Bu Citra, lagi pula itu kan untuk tebusan juga. Anda juga menepati janji tidak melaporkan Daffin ke polisi," tolak nya halus.


"Iya, tapi waktu itu saya sempat berniat licik ingin memanfaatkan anda. Melihat Daffin yang menjaga Cynthia dengan baik, membuat saya jadi malu." Citra lalu menundukkan kepala tanda menyesal.

__ADS_1


__ADS_2