Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 39


__ADS_3

Cynthia gugup sekali karena dibawa Mamanya Daffin, mereka pasti akan mengobrol. Tetapi tidak apalah, mungkin dengan ini mereka bisa semakin dekat. Dari pada Cynthia malah menonton Daffin dengan Elisa berduaan.


"Cynthia, bagaimana kaki kamu sekarang? Daffin bilang katanya kondisi kamu semakin membaik ya?" tanya Rania memulai obrolan.


"Iya Tante, dokter bilang ototnya semakin baik dan kalau semakin rajin terapi aku akan bisa jalan lagi," jawab Cynthia.


"Tante senang mendengar itu, semoga kamu bisa jalan normal seperti dulu lagi ya." Rania lalu menggenggam tangan gadis itu, "Tante minta maaf yang sebesar-besarnya atas nama Daffin ya."


Melihat tatapan tulus itu, mampu membuat dada Cynthia bergetar. Terlihat sekali Rania yang sangat menyayangi putranya itu, Cynthia jadi merasa sedikit iri karena Mamanya tidak pernah seperti itu.


"Aku sudah maafkan Daffin, Tante. Dia juga sudah balas semua kesalahannya dengan menjaga aku," kata Cynthia sambil tersenyum tipis.


"Tapi itu memang sudah jadi kewajiban dia, karena dia yang sudah buat kamu begini," sahut Rania.


Memang, tapi kan biasanya si pelaku selalu lepas tangan. Daffin itu memang ciri lelaki yang bertanggung jawab, itulah kenapa Cynthia pun merasa kagum kepada pria itu. Sayangnya, hanya bisa sebatas itu saja.


Sekarang Cynthia pun tahu dari mana sifat rendah hati Daffin, ya dari Mamanya ini. Mamanya tidak kalah lembut dan baik hati, sepertinya seseorang yang bersamanya akan selalu merasa tenang.


"Kamu cantik sekali Cynthia, apa sudah punya pacar?" tanya Rania mencairkan suasana.


"Belum Tante, kayanya gak ada juga yang mau punya pacar lumpuh kaya aku," jawab Cynthia pahit.


"Ada kok, kalau seseorang itu tulus menerima kekurangan kamu," kata Rania sambil tersenyum.


"Aku harap bisa ketemu orang itu, tapi kemungkinannya kecil," gumam Cynthia berharap penuh.


Rania malah tersenyum tipis, ingin sekali menjawab jika orang tulus itu adalah putranya. Sayangnya Rania tidak bisa mengatakan ini, karena ingin Daffin menyelesaikan sendiri kisah percintaannya.


Namanya juga anak muda, pasti ada drama percintaan di hidupnya. Daffin juga sudah dewasa, dan Rania yakin putranya itu bisa memilih yang tepat. Rania pasti akan mendukung pilihan Daffin.


"Tante, Elisa dan Daffin kan sudah berteman dari kecil ya. Apa Tante juga tahu Daffin menyukai Elisa dari lama?" tanya Cynthia memberanikan diri.


"Daffin tidak pernah cerita sama Tante dia menyukai Elisa, tapi sebagai Mama, Tante bisa tahu lewat gerak-gerik dia. Hanya saja sepertinya sekarang Daffin sedang bimbang," ucap Rania.

__ADS_1


"Bimbang kenapa? Dia pasti senang banget bisa pacaran sama cinta pertamanya." Setelah mengatakan itu, Cynthia jadi sesak sendiri tapi berusaha Ia tahan dan tetap baik-baik saja.


Rania lalu menggenggam lagi tangan Cynthia, "Dia bimbang dengan perasaannya, karena dia bilang ada perempuan lain yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya."


"Benarkah? " tanya Cynthia sambil menelan ludahnya kasar.


Siapakah perempuan itu? Beruntung sekali, pikir Cynthia. Apakah Ia boleh berharap jika itu dirinya? Akhir-akhir ini juga kan mereka selalu bersama, katanya seringnya bersama juga bisa menumbuhkan perasaan di hati masing-masing.


Kepala Cynthia langsung menggeleng mengenyahkan pikiran itu. Ia tidak mau terlalu percaya diri, karena merasa tidak mungkin juga Daffin menyukai perempuan beban dan menyebalkan seperti dirinya. Tipe Daffin itu kan yang santai.


"Cynthia, kamu bantu Daffin yakinkan perasaannya ya?" tanya Rania ambigu.


"Maksud Tante?"


"Kamu tetap di samping dia, menjadi teman dia. Dengan itu saja, Tante yakin Daffin bisa mendapatkan jawaban di hatinya sendiri," jawab Rania lalu tersenyum.


Sebenarnya Cynthia belum terlalu paham dengan perkataan Rania, tapi mereka tidak bisa melanjutkan lagi obrolan karena kedatangan seseorang. Orang yang sedang mereka bicarakan datang, untungnya hanya sendirian.


"Elisa dimana, Daffin?" tanya Rania.


"Oh gitu, terus kenapa kamu di sini?"


"Ya mau ikut gabung aja, Mama sama Cynthia lagi ngobrolin apa?"


Rania malah mencolek hidung mancung Daffin, "Kepo ah anak cowok Mama ini, lagian ini urusan cewek-cewek," katanya.


Daffin hanya mengerucutkan bibirnya mendengar itu, Mamanya ini hobi sekali menggodanya. Ternyata Rania malah pergi, katanya mau ke kamar untuk berkemas karena besok mau kembali ke Kampung.


Setelah kepergian wanita itu, tersisa lah Daffin dan Cynthia. Mereka malah terdiam, membuat suasana menjadi canggung. Untung saja keadaan di sana terlihat indah dengan banyak tanaman dan ada kolam ikan juga.


"Kapan anterin gue pulang?" tanya Cynthia sambil memainkan daun di tangannya.


"Kenapa sih pengen buru-buru pulang? Masih siang loh," tanya Daffin gemas terus ditanyai begitu.

__ADS_1


"Ya kan kalau gue pulang lo bisa bebas berduaan sama Elisa, biar gak ada yang ganggu aja," celetuk Cynthia.


Daffin tiba-tiba menarik kursi roda Cynthia, membuat posisi duduk mereka kini berhadapan dengan tumit yang saling menempel. Cynthia saja sampai terpekik pelan terkejut mendapatkan itu, lalu menatap Daffin bingung.


"Malahan karena ada kamu, aku jadi bisa ngehindar dari dia," kata Daffin sambil menatapnya dalam.


"Ke-kenapa gitu? Bukannya lo pasti seneng bisa sama dia terus?" tanya Cynthia yang sialnya malah gagap.


"Kata siapa? Aku malah gak nyaman berduaan sama Elisa, beda lagi kalau sama kamu," jawab Daffin.


"Maksudnya?"


Daffin terlihat menghela nafas berat, seperti ada beban berat yang sedang di pikirkannya. Sepertinya harus Ia ungkapkan saja, dari pada terus Ia pendam dan membuat Cynthia semakin salah paham.


"Dengarkan aku dan jangan pernah sekali-kali potong perkataan aku, mengerti?" kata Daffin tegas.


"Apa?"


"Aku dan Elisa gak jadian, aku juga kaget pas di meja makan dia ngaku begitu." Daffin merasa lega setelah mengatakan itu.


"Tapi-"


"Syuttt aku bilang jangan potong perkataan aku, kamu harus dengar dulu semua penjelasan aku!" cegah Daffin sambil menempelkan telunjuknya di bibir Cynthia, dan berhasil juga.


"Saat Elisa mengaku kita sudah jadian, jujur saja aku langsung mikirin kamu. Aku ngerasa gak mau aja kamu salah paham. Aku gak tahu gimana perasaan kamu pas dengar itu. Aku pengen kamu jawab jujur, saat itu apa kamu sakit hati?" tanya Daffin dengan perasaan campur aduk nya.


Cynthia malah tertawa kecil, "Lo ngomong apa sih? Kenapa juga gue harus sakit hati?"


"Karena kalau kamu sakit hati, itu berarti kamu juga ada perasaan ke aku. Cynthia, apa kamu juga menyukai aku?"


Cynthia langsung tersentak mendapat pertanyaan seperti itu, apalagi Daffin di depannya terlihat menunggu jawabannya dengan mata yang tidak teralih sedikit pun. Jujur saja, yang Ia dengar sekarang hanya detak jantungnya yang menggila.


"Gue--"

__ADS_1


"Daffin, kamu lagi ngapain di sana?!" teriak Elisa melengking dari kejauhan.


__ADS_2