
Sebenarnya Rania gugup sekali untuk keluar rumah, karena pasti akan bertemu para tetangganya. Mereka pasti akan banyak bertanya kepadanya. Walaupun sikapnya sudah ramah karena tahu suaminya orang terkaya di desa itu, tapi tetap saja pasti ada yang iri.
"Apa rumah bibi kamu itu jauh?" tanya Leon menghentikan lamunan Rania.
"Em iya kalau jalan kaki lumayan jauh sih," jawab Rania.
"Ya sudah kalau gitu, aku anter aja yuk pakai mobil," ajak Leon.
"Beneran? Tapi jangan deh, aku terus ngerepotin kamu."
Leon menepuk bahu Rania, "Ya elah santai aja kali, kita kan temen. Enggak-enggak, maksudnya keluarga. Iyakan?"
"Makasih ya Leon," ucap Rania sambil tersenyum.
Di pukul sepuluh paginya mereka baru berangkat, dan benar saja saat keluar rumah ada beberapa tetangga yang mengobrol di dekat rumahnya. Sepertinya mereka sengaja, mungkin tahu juga Rania pulang.
"Eh itu neng Rania, neng beneran lagi pulang ya?" tanya salah seorang Ibu-Ibu, dan yang lain pun ikut menghampiri.
"I-iya Bu, semalam baru sampai," jawab Rania.
"Neng Rania makin cantik dan putih aja selama tinggal di Jakarta, pasti bahagia ya?"
Seorang Ibu yang memiliki gelang emas banyak di tangannya segera menjawab, "Ya iyalah neng Rania pasti bahagia banget punya suami kaya raya kaya Pak Candra. Katanya rumahnya juga besar, kalian gak akan bisa bayangin pokoknya."
"Emangnya bu Ajeng pernah lihat rumah Pak Candra di Jakarta?"
"Pernah lewat depan rumahnya waktu itu, dari depan aja udah bagus banget."
Rania hanya diam mendengarkan kehebohan para tetangganya, Ia tersenyum tipis tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Kalau membicarakan tentang Candra pasti selalu bagus-bagus.
"Terus Pak Candra nya dimana? Apa dia masih di dalam?" tanya mereka penasaran.
Tetapi yang keluar bukannya orang yang ditunggu, melainkan seorang pria lain, membuat semua Ibu-Ibu pun bingung dan dibuat bertanya-tanya siapa lelaki tampan itu.
__ADS_1
"Itu siapa neng Rania? Kok ada di rumah kamu?"
"Em ini--"
"Kenalin semuanya nama aku Leon, aku ini adik Candra," sela Leon dengan cepat memperkenalkan diri sendiri.
"Oh jadi Pak Candra itu punya adik laki-laki ya? Kita baru tahu," ucap salah seorang dan diangguki yang lain.
"Saya sih emang jarang muncul, ini juga pertama kalinya saya ke desa ini," sahut Leon.
"Wah nak Leon ini ganteng juga ya, gak kalah dari Pak Candra. Memang aura orang kota itu pada beda, mahal-mahal," celetuk salah seorang membuat Leon terkekeh kecil.
"Ah Ibu bisa aja, kayanya saya paling ganteng di desa ini," ucap Leon percaya diri.
"Hahaha iya, nak Leon kalau tinggal di sini udah pasti jadi paling ganteng dan tajir. Pasti banyak para gadis-gadis yang suka juga," sahut mereka.
"Aduh saya jadi malu dipuji terus."
Sikap Leon yang mudah bergaul itu, membuatnya dengan cepat dapat akrab dengan yang lain. Mereka pun percaya-percaya saja jika Leon adalah adik Candra. Sifat Leon juga berbanding terbalik dengan Candra, jadi para Ibu-Ibu bisa lebih mendekatkan diri.
"Oh begitu ya, tapi kenapa neng Rania pulang?"
"Yah namanya juga kangen kampung halaman, dia juga kan sudah lama gak pulang. Emangnya Ibu-Ibu gak kangen sama Rania?" tanya Leon sedikit bergurau.
Rania pun menyenggol tangan Leon, seolah memberitahu pria itu untuk berhenti menggodanya, tapi Leon hanya tersenyum. Percayalah sikapnya ini hanya ingin melindungi Rania, Orang-orang desa tingkat kekepoannya memang sangat tinggi.
"Ya sudah deh Bu, kita permisi dulu ya mau jalan-jalan. Saya baru pertama kali ke desa ini, jadi pengen nikmati pemandangan nya," kata Leon sambil melambaikan tangan.
"Iya nak Leon nikmati waktunya di sini ya, desa ini bagus banget banyak pemandangan yang bagus." Para Ibu-Ibu jadi senang sendiri bisa mengenal lelaki itu.
Rania dan Neneknya pun ikut pamit pergi, mereka lalu naik mobil Leon dan segera pergi dari sana. Setelah Rania pikir-pikir lagi, ternyata Leon itu sangat membantunya. Padahal tadi Rania sempat cemas khawatir ditanyai ini itu, tapi Leon membantunya.
"Ternyata emang bener ya di desa indah banget, pemandangan nya masih menyatu dengan alam," ucap Leon yang sedang menyetir, tapi sesekali memperhatikan sekitar.
__ADS_1
"Iya memang, makanya Nenek lebih betah di desa," sahut Ima.
"Gimana perasaan Nenek pas pertama kali ke Jakarta?" tanya Leon penasaran.
"Nenek lumayan kaget, soalnya banyak gedung tinggi gitu. Jalanan juga macet banget, terus jarang nemu lahan kosong yang banyak tanaman."
Leon terkekeh kecil mendengar fakta itu, Ia pun sama reaksinya seperti Nenek Ima saat pertama ke tempat ini. Sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol, sampai tidak terasa perjalanan pun cepat juga.
Rumah almarhum bibi Rania cukup jauh dari rumah yang lain, halamannya juga sangat luas walau banyak tanaman liar. Ukuran rumahnya lebih besar dari rumah Nenek. Walaupun terlihat agak kotor karena tidak ditempati lama, tapi masih terlihat bagus.
"Kamu yakin bakalan pindah kesini? Sendiri?" tanya Leon memastikan.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Rania balik.
"Aku cuman khawatir aja kamu kenapa-napa, apalagi perempuan sendirian."
"Kamu tenang saja, di sini aman kok. Pasti kamu bakalan gak nyangka, kalau di desa ini jarang banget ada kasus pencurian begitu. Pokoknya beda banget lah sama di Jakarta," kata Rania sambil tersenyum.
Mungkin nanti Rania harus meminta bantuan beberapa orang untuk membantu membersihkan rumah bibinya ini. Kalau Rania dan Neneknya saja pasti akan capek, apalagi Rania kan sedang hamil besar.
Rencananya besok akan mulai bersih-bersih dan berharap di hari pertama pun langsung selesai. Rania ingin cepat-cepat pindah kesini, Ia selalu dilanda perasaan khawatir jika tiba-tiba Candra datang.
"Kayanya sepulang dari sini aku akan langsung pulang ke Jakarta," gumam Leon. Sekarang mereka sedang duduk di halaman belakang, pemandangan nya bisa langsung melihat perbukitan.
Rania menoleh, "Kamu serius? Gak akan lebih lama di sini?"
"Kenapa? Kamu belum mau berjauhan dari aku ya?" goda Leon sambil menaik turunkan alisnya.
"Bu-bukan gitu, tapi pasti kamu capek di perjalanan."
"Gak papa, soalnya kalau sore pulangnya takut keburu malam. Besok aku harus masuk kerja lagi, gak bisa izin terlalu lama."
Rania lalu duduk dengan menghadapkan badannya para pria itu, "Sekali lagi makasih banyak ya Leon untuk semua bantuan kamu, sekarang aku yakin kamu bener-bener tulus. Semoga semua kebaikan kamu Tuhan balas," ucapnya.
__ADS_1
"Sama-sama Rania, aku juga senang bisa bantu kamu." Leon juga jadi lega saat mendengar Rania sudah tidak ragu lagi kepadanya.