
Makan malam itu terasa canggung, lebih tepatnya hanya Rania dan Yoga yang merasakan. Kejadian tadi siang saat Yoga yang menyatakan perasaannya, membuat mereka jadi bingung harus bersikap bagaimana, rasanya sama-sama malu.
"Kok malah diam saja? Ayo makan," perintah Aisyah.
"Oh iya Tante."
Rania pun membawa piring mulai membawa makanan, namun ternyata perempuan itu membawa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Yoga. Setelah Rania menyimpan piringnya di depan pria itu, langsung tersenyum tipis.
"Makasih," ucap Yoga pelan. Hanya perlakuan kecil ini saja, membuat Yoga senang.
Selanjutnya Rania pun membawa untuk dirinya sendiri, Ia tidak makan banyak karena tidak terlalu nafsu makan. Baru saja akan menyuapkan nasinya ke mulut, pergerakannta terhenti melihat seorang pria paruh baya berjalan masuk ke ruang makan.
"Eh Ayah sudah pulang," sapa Aisyah, wanita itu menghampiri suaminya dan menyalami tangannya, "Tumben pulangnya telat."
"Iya pekerjaan Ayah agak banyak hari ini, maaf ya gak ngabarin Bunda," ujar Ayahnya.
"Gak papa, ya sudah yuk kita makan dulu," ajak Bunda sambil menggandeng tangannya.
Rania mengangguk pelan sambil tersenyum manis pada pria paruh baya yang sudah pasti Ayah dari Yoga itu. Tante Aisyah pun dengan sigap langsung memperkenalkan Rania sebagai teman putranya.
"Ayah kira kamu bawa calon istri kesini Yoga," celetuknya di sela makan.
Yoga hampir tersedak mendengar itu, "Ah Ayah bisa aja." Memang sih Yoga inginnya mengenalkan begitu, tapi tadi saja di tolak Rania.
"Kalian sudah kenal lama?" tanya Ayahnya penasaran.
"Belum terlalu lama juga, setelah saya pindah lagi ke desa itu menjadi dekat dengan Mas Yoga," jawab Rania.
"Mas?" Ayahnya sempat melirik Yoga dengan seringai, "Saya jadi curiga kalian bukan hanya sebatas teman."
"Iya Bunda juga awalnya duga gitu, tapi kalian kelihatan cocok," ucap Aisyah mengkode.
Rania tersentak mendengar itu, membuatnya malu sampai menundukan kepala. Kenapa Bunda dari Yoga memuji dirinya cocok dengan putranya ya? Apakah itu adalah sebuah dukungan? Rania sempat tidak menduga.
"Kapan kamu akan ke sana lagi?" tanya Ayah mengalihkan obrolan.
"Besok subuh juga pulang lagi, pekerjaan aku banyak di sana. Aku kesini hanya jenguk Pak Candra, Ayah sudah tahu kabar dia?"
__ADS_1
Ayahnya mengangguk, "Tahu, Ayah juga kaget pas dengar Candra kecelakaan. Gimana kondisi dia sekarang? Ayah belum sempat jenguk, mungkin nanti pas libur."
"Dia belum sadar, masih koma," jawab Yoga.
"Semoga Candra cepat sadar dan sembuh, hanya dia satu-satunya harapan keluarganya," gumam Ayahnya, memang Ia sangat dekat dengan lelaki itu.
Rania yang mendengar topik obrolan tentang Candra, membuatnya kembali teringat pria itu dan tiba-tiba menjadi mellow. Padahal tadi pagi sudah bertemu, tapi sekarang entah kenapa rasanya ingin bertemu lagi.
Lamunan Rania terhenti saat melihat Yoga menyimpan potongan ayam kecil di piringnya, membuatnya mengangkat kepala dan membalas senyuman pria itu. Rania pun mulai makan lagi. Tidak tahu saja jika interaksi mereka di perhatikan orang tua Yoga.
"Biar saya bantu Tante," ucap Rania ikut berdiri dan membawa piring bekas makannya.
Aisyah langsung menggeleng, "Gak papa cantik, sama Tante aja. Kamu lagi hamil besar, jangan kerja yang capek-capek," tolak nya.
"Tapi--"
"Iya Rania sudah tidak apa, lagian nanti ada bibi yang bantuin Bunda," ujar Yoga setuju.
Akhirnya Rania pun menurut dan menyimpan lagi piring kotornya itu di meja. Sebenarnya Ia ingin membantu karena tidak enak hanya ikut makan tanpa membantu apapun, tapi keluarga Yoga memang sangat baik dan pengertian.
"Tunggu, kamu hamil Rania?" tanya Ayah terkejut, baru sadar saat perempuan itu berdiri.
"Itu berarti kamu sudah menikah?" Pertanyaan Ayah ini sebenarnya agak konyol, sanking terlalu terkejut.
"Iya sudah, tapi.. Sekarang sudah tidak lagi. Kami akan berpisah."
Melihat Ayahnya yang akan menatapnya, membuat Yoga berpura-pura sibuk sendiri dengan minumannya. Pasti Ayahnya itu ingin meminta penjelasan, tapi Yoga malas menjelaskan lagi, biar nanti dari Bunda nya saja deh.
"Ekhem Rania kamu mau tidur sekarang?" tanya Yoga.
"Sebenarnya aku belum terlalu ngantuk," jawab Rania jujur.
"Mending kita santainya di belakang yuk, kayanya malam ini langitnya lagi cerah," ajak Yoga.
"Boleh," angguk Rania.
Keduanya pun pergi dari sana, meninggalkan pasangan paruh baya itu yang sedang dilanda perasaan campur aduk. Anehnya suasana tadi yang sudah dekat, Tiba-tiba menjadi canggung lagi saat Rania dan Yoga hanya berduaan.
__ADS_1
Sesampainya di halaman belakang yang luas dan indah itu, mereka duduk di sebuah ayunan panjang dari kayu. Ternyata benar langit malam ini sangat cantik, banyak bintang dan bulan pun sangat cerah.
"Rania, aku minta maaf untuk kejadian tadi siang," ucap Yoga memulai obrolan.
"Tidak perlu minta maaf, tidak apa kok," kata Rania sambil tersenyum.
"Tapi aku gak mau hanya karena aku menyatakan perasaan, hubungan kita jadi renggang," gumam Yoga. Membayangkan itu akan membuatnya sedih.
"Kalau Mas Yoga bersikap seperti biasa, aku juga akan santai," sahut Rania sambil mengedikkan bahunya.
"Baiklah."
Setelah itu hening, keduanya terdiam menikmati pemandangan masing-masing. Rania yang sedang mengagumi langit, sedangkan Yoga yang malah mengagumi wajah cantik di sebelahnya.
"Rania, apa kamu masih belum bisa melupakan Pak Candra?" tanya Yoga tiba-tiba.
Rania membalas tatapannya, "Apa?"
"Kalian menjalani pernikahan tidak sebentar, dan aku yakin banyak sekali yang terjadi. Kalau semisal kamu belum bisa melupakan dia, aku akan sabar menunggu."
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rania. Padahal Ia sudah tidak mau membahas tentang perasaan ini lagi, tapi sepertinya Yoga ini belum bisa menerima penjelasannya tadi siang.
"Bukan itu Mas Yoga, aku menolak Mas Yoga bukan karena masih mencintai Mas Candra," jawabnya pelan.
"Lalu apa?"
"Aku merasa tidak pantas, Mas Yoga itu terlalu sempurna untuk orang yang banyak masalah seperti aku."
Yoga tersentak sendiri mendengar itu, "Rania kenapa kamu bilang begitu? Jangan merendahkan diri kamu sendiri," ucapnya.
"Tapi yang aku katakan benar Mas, semua orang pun akan berpikir begitu. Aku.. Aku dan Mas Yoga itu sangat berbeda jauh, aku di bawah dan Mas Yoga berada di atas."
"Enggak Rania, aku gak peduli akan hal itu. Aku tulus suka pada kamu, aku bahkan tidak mempermasalahkan masa lalu kamu itu. Aku akan berusaha juga menerima anak kamu, menjadi Papa pengganti untuk dia."
"Mas Yoga.." panggil Rania lirih merasa terharu.
Yoga lalu mengecup punggung tangan Rania, "Kamu juga di mata aku sempurna Rania, itulah kenapa aku bisa menyukai kamu."
__ADS_1
Mereka pun berpelukan dengan perasaan membuncah di hati masing-masing. Tanpa keduanya sadari, ada pasangan paruh baya yang memperhatikan dari jendela dapur dengan baik dari tadi.