
Daffin dengan senang hati akan menjadi tour guide nya Elisa nanti di Kampus. Mereka akan berangkat ber sama-sama, kebetulan juga satu kelas jadi tidak akan terpisahkan. Selesai sarapan keduanya pun langsung berangkat.
"Kok aku deg-deg an ya?" tanya Elisa yang duduk di sebelahnya.
Daffin yang sedang menyetir menoleh sekilas, "Aku juga sama kaya kamu begitu pas awal masuk Kampus, sekarang juga sih masih agak gugup," sahutnya.
"Kamu pasti sudah punya banyak teman ya di sana Daffin?" tanya Elisa lagi. Sifat pria itu kan pasti disukai banyak orang.
"Biasa aja sih, belum kenal banyak dengan orang. Tapi yang sekelas pasti sudah kenal, walaupun belum nemu yang deket banget," jawab Daffin.
Yang paling Daffin ingat itu adalah moment saat dirinya yang baru datang ke Kampus dan menjadi pusat perhatian. Daffin menyadari jika mobilnya lah yang banyak di perhatikan, mungkin mereka merasa kagum.
Tetapi Daffin tidak mau sombong, jadi Ia pun berusaha bersikap ramah kepada siapapun. Ternyata ada beberapa juga yang mulai mendekatinya untuk berkenalan. Apakah harta se mempengaruhi itu ya?
"Ayo sudah sampai, kita turun," ajak Daffin setelah memarkirkan mobilnya dengan baik.
Saat turun ternyata dirinya menjadi perhatian lagi, Daffin pun tersenyum ramah saja lalu menghampiri Elisa yang ikut turun. Saat akan pergi dari sana, ada beberapa lelaki yang menyapanya seperti biasa.
"Wah Daffin ini siapa? Pacar kamu ya?" tanya mereka penasaran.
"Bukan, dia baru masuk Kampus. Namanya Elisa, kebetulan kita temen dari kecil jadi cukup dekat," jawab Daffin.
"Oh kirain pacar kamu, pasti bakalan banyak para cewek yang patah hati kalau bener," celetuk salah seorang membuat yang lain tertawa.
Mendapatkan senggolan pelan di tangannya, membuat Daffin menoleh pada Elisa sambil tersenyum kecil. Mereka pun melanjutkan pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pun Elisa terus menggodanya.
"Cie jadi sekarang kamu yang jadi pangeran Kampus ya? Banyak cewek-cewek yang ngejar ya?" goda Elisa.
"Apa sih? Enggak juga," bantah Daffin.
"Ya aku ngerti sih kenapa mereka bisa suka sama kamu, kamu kan ganteng, terus kaya raya lagi," ucap Elisa sambil menganggukan kepalanya.
Daffin lalu merangkul bahu Elisa, membuat perempuan itu menjadi dekat dengannya, "Sekarang aja baru berani muji aku, dulu aja selalu gak mau. Jadi sudah ngakuin kalau aku ganteng?"
__ADS_1
"Ih enggak jadi ah, tuh kan bener pasti kepedean!" ledek Elisa sambil berusaha melepaskan rangkulan Daffin, tapi pria itu menahannya.
Mereka terlalu asik berduaan sampai tidak menyadari banyak yang menatap. Benar memang kebanyakannya para perempuan, mereka mungkin yang menyukai Daffin dan pasti sakit hati melihatnya.
Sesampainya di kelas keduanya langsung duduk di kursi masing-masing, Daffin dan Elisa pun duduk bersebelahan. Beberapa yang sudah datang lalu mendekat untuk memperkenalkan diri.
"Siapa nih Daffin? Pacar kamu ya?" tanya Satria, yang duduk tepat di depannya.
Daffin langsung menggeleng, "Kenapa banyak banget dari tadi yang nganggap begitu ya?"
"Iyalah orang kalian kelihatan deket banget, kamu kan biasanya selalu acuh gitu sama cewek-cewek. Terus kalian juga kelihatan cocok kok," jawab Satria sambil tersenyum menyeringai.
Mendengar itu tentu saja ada perasaan bahagia yang Daffin rasakan, ternyata banyak yang menggap dirinya dengan Elisa cocok. Entahlah apa yang dirasakan sahabat perempuannya itu, apakah sama sepertinya?
"Elisa kenalin ini Satria," panggil Daffin sambil menepuk bahunya, Elisa sedang mengobrol dengan perempuan lain.
Saat Elisa menoleh pada pria bernama Satria itu, senyumannya langsung lebar. Dan jika di perhatikan lagi, tatapannya terlihat berbinar seperti seseorang yang sedang merasa kagum.
"Daffin sebentar ya aku mau ke toilet dulu," pamit Elisa sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, tapi emangnya kamu tahu dimana?" tanya Daffin balik.
"Katanya dia mau anterin aku," jawab Elisa sambil menunjuk salah satu perempuan.
Daffin pun mengangguk mengiyakan lalu membiarkan temannya itu pergi. Syukurlah Elisa itu bisa dengan cepat berbaur, jadi baru masuk saja sudah punya teman. Daffin ikut lega sendiri.
"Masa sih kalian cuman sahabatan aja? Tapi aku yakin, salah satu dari kalian pasti ada yang suka kan?" tanya Satria sambil memainkan pulpen di jari tangannya. Posisinya masih duduk memutar ke belakang.
"Iya kok bener, dari kecil sampai sekarang cuman Sahabatan," jawab Daffin, "Emangnya kenapa?"
"Katanya sih gak ada yang namanya sahabat antara cewek sama cowok. Aku tebak, pasti Elisa itu yang ada perasaan suka sama kamu," ucap Satria.
"Masa sih?" tanya Daffin mulai senang, walau Ia tidak bisa memastikan perasaan Elisa.
__ADS_1
"Ya kamu kan punya wajah lumayan sama tajir, siapa juga sih yang gak tertarik," celetuk Satria.
Benarkah? Daffin senang jika benar Elisa ada perasaan untuknya. Tetapi Daffin tidak bisa menebak, karena Ia merasa Elisa hanya menganggapnya sebagai sahabat. Sikapnya pun selalu sama seperti dulu.
"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Satria tiba-tiba.
"Belum, kenapa?" Tunggu, apa jangan-jangan temannya itu suka pada Elisa ya? Batin Daffin.
"Gak papa, kalau dia punya pacar ya gak akan mungkin sedekat itu sama kamu. Pacarnya pasti bakalan cemburu, dan mungkin kalau salah satu dari kalian sudah punya pacar gak akan bisa sedekat ini," jawab Daffin panjang lebar.
Daffin menganggukan kepalanya menyetujui, karena dulu Ia pun pernah merasakannya. Bukan Daffin yang punya pacar, tapi Elisa lah. Entah berapa kali Elisa itu punya pacar, dan hubungan mereka memang jadi terasa merenggang. Jika sudah putus Elisa akan kembali padanya lagi.
"Hai aku sudah kembali," sapa Elisa sambil mendudukan tubuhnya.
"Iya sebentar lagi juga dosennya pasti datang, untung aja gak telat kalian," ucap Satria. Pria itu lalu memutar lagi tubuhnya menjadi ke depan.
Daffin lalu menoleh pada Elisa, mengernyitkan keningnya melihat sahabatnya itu tersenyum-senyum. Ada apa? Elisa terus menatap ke depan, lebih tepatnya pada Satria. Entah kenapa, Daffin bisa langsung menduga sesuatu.
"Oh iya nanti sore kamu mau ikut aku gak?" tanya Daffin membuat Elisa akhirnya menatapnya.
"Kemana emangnya? Bukannya kamu mau bantuin aku cari kontrakan ya?" Tanya Elisa balik.
"Ke rumah sakit, jenguk seseorang. Cuman sebentar kok, nanti setelah itu kita baru cari kontrakan untuk kamu," jawab Daffin.
"Emangnya siapa yang sakit?" tanya Elisa, apakah keluarga Daffin?
"Temen," jawabnya sambil tersenyum.
Walaupun sepertinya Cynthia enggan menganggapnya teman, tapi Daffin merasa hubungannya dengan Cynthia juga dekat kok.
***
Mampir yuk ke buku baru aku yang judulnya "Berandalan Sekolah Jatuh Cinta" Gak kalah seru loh 😉
__ADS_1