
Saat Rania keluar dari dapur setelah makan malam, di tangga Ia tidak sengaja melihat Candra yang turun dari lantai dua. Tetapi Rania merasa bingung karena pria itu terlihat rapih dan tampan dengan setelan jasnya, mau kemana?
"Mas," panggil Rania.
"Ya?"
"Mas mau kemana sudah rapih begini?"
"Aku ada undangan ke ulang tahu klien kerja," jawab Candra.
"Oh gitu, pantesan. Apa Mas pergi sendiri?"
"Enggak, sama Livia."
Tidak lama yang disebutkan pun turun, Rania sampai menelan ludah susah payah melihat Livia yang berdandan glamor dan cantik. Saat kedua orang itu berdiri bersebelahan terlihat serasi sekali, membuat Rania jadi ciut dan merasa malu karena tidak ada apa-apa nya.
"Kamu sudah makan kan Rania?" tanya Candra memastikan, hanya mengingatkan saja khawatir belum.
"Sudah kok barusan. Tadi aku nungguin Mas Candra sama Kak Livia, tapi gak turun-turun juga." Rania masih berusaha tersenyum, walau suasana di sana canggung sekali untuknya.
"Kami akan makan malam di sana," sahut Livia.
"Oh begitu ya." Rania menganggukan kepalanya mencoba mengerti, walau sebenarnya Ia agak sedih.
Kenapa Candra tidak memberitahunya sebelumnya ya? Rania sampai menunggu di meja makan hampir tiga puluh menit, merasa tidak enak saja kalau makan lebih dahulu.
"Aku tidak tahu kapan akan pulang, tapi kamu jangan tidur terlalu malam. Oh iya hampir lupa, jangan lupa minum susu dulu," ucap Candra memperingati.
"Iya Mas, nanti setengah jam an lagi, aku kan baru selesai makan." Rania tidak lupa itu, tapi Candra masih seperti biasa selalu memberitahunya.
"Ayo kita berangkat sekarang, nanti pestanya keburu dimulai," ajak Livia sambil menarik tangan suaminya.
"Iya." Tetapi sebelum pergi, Candra sempat menatap dalam Rania beberapa saat, setelahnya mereka pun pergi dari sana.
__ADS_1
Rania menatapnya dalam diam, anehnya dadanya sedikit sakit melihat itu. Kenapa? Apakah Ia cemburu? Tetapi seharusnya Rania ikut lega melihat Candra dan Livia masih berhubungan baik, Ia kan selalu tidak mau dianggap sebagai perusak hubungan mereka. Tetapi kenapa perasaan tidak nyaman ini harus hadir?
"Kenapa juga aku berharap diajak? Aku kan cuman orang biasa, pasti di sana malah akan mempernalukan Mas Candra," gumam Rania sambil tersenyum kecut.
Bukan maksud berharap lebih, tapi setidaknya mungkin Candra beritahu saja lebih awal jika pria itu akan pergi ke pesta. Tidak apa jika Candra pergi dengan Livia, toh yang semua orang tahu kan pasti istri Candra hanya Livia saja. Rania mengatur nafasnya mencoba mengurangi rasa sesak di dada, Ia berusaha mengenyahkan perasaan cemburu ini.
"Nona kenapa malam-malam di luar? Dingin loh," tegur mbok Nina menghampiri nya.
Rania menoleh, "Eh mbok, kirain siapa."
"Tadi mbok mau anterin susu untuk Nona, tapi di kamar tidak ada. Ternyata benar Nona di sini."
"Iya, halaman belakang jadi tempat favorit aku di rumah ini," ucap Rania sanbil memperhatikan sekitar yang asri dan tenang.
"Maaf mbok kira Nona ikut pergi bersama Tuan."
"Hm enggak, aku juga malah baru tahu kalau Mas Candra mau pergi ke pesta." Rania tidak berbohong kalau Ia sedikit kecewa, hanya berusaha baik-baik saja karena tahu diri.
Rania menggeleng lesu, "Tidak pernah, mungkin Mas Candra malu," jawabnya pelan.
"Kok Nona bilang begitu?"
"Lagian kan yang semua orang tahu istri Mas Candra itu hanya Kak Livia, gak ada yang tahu keberadaan aku. Aku ini istri yang di sembunyikan." Rania tahu ini, itulah kenapa Candra pun sering melarangnya keluar tanpa sepengetahuannya.
Mbok Nina menatap perempuan itu sendu, sebelah tangannya terulur mengusap bahu Rania, "Yang sabar ya Nona, tapi mbok gakin Tuan tetap sayang sama Nona."
"Benarkah?"
"Iya, Nona juga pasti merasakan kan melihat dari sikap Tuan?"
Kalau diperhatikan sih Candra memang begitu, selama ini selalu perhatian dan protektif apalagi tentang kandungannya. Tetapi setelah Rania perhatikan lagi, yang pria itu khawatirkan selama ini hanya bayinya saja. Terkadang Rania selalu terkena teguran jika berbuat ceroboh, Candra terlalu mengkhawatirkan bayinya kenapa-napa.
"Mbok, aku ingin hubungan Mas Candra dan Kak Livia selalu hermonis seperti saat sebelum aku datang. Tapi tadi saat melihat mereka bersama dan terlihat serasi, kenapa hati aku sedikit sesak ya?" tanya Rania yang seperti sedang curhat.
__ADS_1
"Itulah namanya cinta."
"Apa?" Rania langsung menatap pembantu itu terkejut.
"Nona mencintai Tuan Candra, perasaan cemburu saat melihat dia bersama perempuan lain itu hal wajar. Memang sulit sekali mengikhlaskan, kadang berusaha baik-baik saja pun malah membuat hati semakin sesak."
Yang dikatakan wanita paruh baya itu seperti benar tentang perasaannya, tapi apakah benar Rania memang sudah mencintai Candra lagi? Jujur saja dulu Rania sempat terbuai lagi, tapi perasaannya sempat dihancurkan mengetahui rahasia pria itu. Tetapi dengan bodohnya Rania kembali luluh. Itulah namanya perempuan, sangat mudah memaafkan.
"Perasaan cinta Nona itu tidak salah kok, lagi pula kan Tuan juga suami Nona," ucap mbok Nina kembali memberitahu. Ia tahu Rania selalu menyalahkan dirinya sendiri, padahal perempuan itu tidaklah salah sepenuhnya.
"Jangan katakan pada dia ya mbok," ucap Rania setengah memohon. Malu saja rasanya kalau Candra sampai Livia mengetahui perasaannya.
"Kenapa?"
"Gak papa, tapi aku malu," ucap Rania sambil tersenyum kecil.
"Tapi kayanya tanpa mbok kasih tahu pun, Tuan Candra sepertinya tahu bagaimana perasaan Nona pada dia."
Mendengar itu membuat Rania panik sendiri, "Masa sih mbok? Apa aku terlalu terlihat menyukai dia?" tanyanya.
"Em sepertinya begitu, ya siapa juga perempuan yang tidak luluh hatinya melihat pasangannya sebaik itu, kan?"
"Benar juga." Batin Rania.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rania, merutuki dirinya beberapa saat karena sepertinya selama ini dirinya terlalu menunjukan perasaan saat bersama Candra. Benar kata mbok Nina. Candra itu definisi sempurna, sudah tampan, mapan, baik lagi. Bagaimana bisa Rania tidak luluh? Walau sudah beberapa kali di bohongi.
"Sudah malam Nona, lebih baik bersantai di kamar saja. Tuan Candra dan Nyonya Livia biasanya kalau pergi ke pesta begitu akan pulang larut malam. Apa Nona mau menunggu mereka?"
"Tidak kok, aku juga sekarang sudah ngantuk." Lucu saja rasanya jika Rania menunggu pasangan itu pulang, melihat mereka yang tampak serasi saja tadi membuatnya sesak.
"Ya sudah Nona pindah ke kamar, ini gelasnya mbok ambil lagi ya."
Rania mengangguk lalu memberikan gelas yang susunya sudah Ia habiskan tadi selama mengobrol dengan pembantunya itu. Rania lalu masuk ke rumah, angin malam yang dingin itu tidak membuatnya bergidik, malah merasa sejuk saja.
__ADS_1