Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Calon Papanya Daffin


__ADS_3

Yoga menepati janjinya di esok hari sekitar pukul enam pria itu sudah berangkat ke puskesmas untuk menjemput Rania dan Nek Ima. Bidan juga sudah memberikan beberapa arahan kepada Rania, juga harus rutin cek ke sana perbulan.


"Sudah siap semuanya? Kita pulang sekarang," ucap Yoga dengan semangatnya.


Pria itu bertugas membawakan tas Rania, sedangkan Nenek Ima menggendong Daffin. Rania berjalan dengan pelan dan hati-hati keluar, terus dijaga dua orang itu. Katanya yang baru melahirkan jangan dulu banyak berjalan atau sampai beraktivitas lelah.


"Gimana perasaan kamu?" tanya Yoga yang sedang fokus menyetir.


Rania menoleh, "Luar biasa," jawabnya.


"Selamat ya sudah jadi Ibu sekarang, aku jadi pengen secepatnya jadi Papa juga," celetuk Yoga setengah mengkode.


Rania terkekeh kecil, "Bukannya Mas Yoga juga sudah jadi Bapak-Bapak ya?"


"Yah tua dong, maksudnya Papa di sini orang tua. Kamu Mamanya dan aku Papanya, gimana?"


"Mas bisa saja," gumam Rania sambil menggelengkan kepala.


Yoga memang sudah tidak malu-malu lagi menggombal Rania, toh perempuan itu juga terlihat tidak risih dan selalu tertawa. Lagi pula hubungan mereka juga kan sekarang semakin dekat, ya walau memang belum meresmikan.


"Hari ini Nak Yoga tidak bekerja?" tanya Nek Ima di belakang.


"Kayanya agak siangan ke pabriknya Nek, mau jagain Daffin dulu," sahut Yoga dari depan.


"Gak papa, kan ada aku sama Nenek yang jagain Daffin. Mas Yoga jangan sering absen, aku takut ganggu kerjaan Mas," ucap Rania.


Yoga menggeleng, "Kalian gak ganggu kerjaan aku, lagian kan aku di sana bos nya hehe."


Yoga tidak bermaksud sombong, Rania juga pasti mengerti ke arah mana perbincangan. Memang sih Yoga bukan bos utama, tapi tetap saja Ia yang diberi tugas langsung oleh Candra menjadi penggantinya.


"Oh iya, kamu sudah hubungi Bu Livia belum?" tanya Yoga.


"Belum, aku kan ganti nomor ponsel dan sudah lama juga gak tukar kabar sama mereka," jawab Rania.


"Nanti mau teleponan? Mungkin Pak Candra juga mau lihat Daffin," tawar Yoga berbaik hati. Ia tidak mau egois, toh mereka kan orang tuanya.

__ADS_1


Rania terdiam beberapa saat, berkecamuk dengan hatinya. Entah kenapa rasanya belum siap saja mengobrol lagi dengan Candra, walau di ponsel sekali pun. Rania hanya takut reaksi pertama pria itu tidak baik, apalagi dengan sikap dirinya yang nekad waktu itu.


"Nanti saja deh Mas, aku belum siap," tolak Rania pelan.


Yoga memgangguk pelan mengerti. Melihat ekspresi murung Rania, membuat Yoga mengerti jika sepertinya perempuan itu ada perasaan terbebani dan ingin menghindari Candra. Masalah di antara mereka memang rumit, Yoga sendiri bingung bagaimana akhir ceritanya.


"Aku akan terus kabari kamu perkembangan kesehatan Pak Candra," ujar Yoga menawarkan lebih dahulu, Ia tahu Rania tidak akan berani.


Sesampainya di rumah Rania, mereka langsung turun. Ternyata ada beberapa warga yang sudah menunggu kepulangan mereka, jadinya rumah itu lumayan ramai karena banyak yang menengok bayinya.


Melihat respon mereka yang baik dan terus memuji Daffin, membuat Rania senang sendiri. Tidak ada yang membahas tentang masalahnya, Rania jadi merasa sedikit lega. Bahkan para warga juga sampai meng amplop untuk Daffin.


"Terima kasih ya Bapak-Bapak Ibu-Ibu sudah menengok cicit saya," ucap Nek Ima.


"Sama-sama Nek Ima, memang sudah seharusnya sebagai tetangga. Selamat ya untuk kelahiran cicitnya," ujar salah seorang warga mewakilkan.


Yang lain pun menyaut, "Daffin nanti kalau sudah besar pasti bakalan ganteng, tapi yang penting dia selalu sehat ya."


"Iya aamiin, jadi anak yang berbakti pada orang tuanya juga," sahut Nek Ima diangguki yang lain.


"Mau aku bantu?" tawar Yoga.


Rania melirik nya sekilas, "Memangnya kamu bisa?" tanyanya meragukan.


"Kamu mau nyuruh aku apa?"


"Gimana kalau misal mandiin Daffin, bisa?"


Yoga pun langsung menggeleng, "Kalau itu sih aku nyerah duluan, aku takut," tolak nya.


Rania yang mendengarnya terkekeh kecil, "Tadi katanya mau bantuin," ledek nya.


"Iya sih, tapi kalau mandiin ya gak bisa. Daffin masih terlalu kecil, aku takut salah pegang dan buat dia kenapa-napa." Sepertinya itu hal yang paling di khawatirkan banyak suami.


"Aku juga sebenarnya masih agak takut, jadi mungkin untuk tugas mandiin bakal minta bantuan Nenek aja," sahut Rania.

__ADS_1


"Kamu kan Mamanya, kenapa takut?" tanya Yoga bingung.


"Mungkin karena ini pertama kalinya, kalau misal anak kedua akan beda lagi."


Yoga menganggukan kepalanya sambil melipat kedua tangannya di dada, "Oh jadi nanti kalau anak kedua kita kamu gak bakal gugup lagi ya?"


"Haha apaan sih?"


Melihat Daffin yang mulai merengek seperti itu, sudah pasti ingin minum susu. Yoga pun memutuskan keluar kamar memberikan privasi, tidak bagus rasanya dirinya yang bukan muhrim malah melihat itu.


Saat keluar rumah, terlihat ada dua tetangga yang belum pulang. Mereka masih bersantai di depan teras sambil minum kopi dan makan cemilan. Yoga pun memutuskan duduk di sana, ikut bergabung. Yoga juga sudah siap jika ditanyai banyak hal.


"Pak Yoga sering banget kesini," celetuk seorang Ibu-Ibu.


"Emangnya kenapa? Ibu mau saya seringnya ke rumah Ibu ya?" tanya Yoga sedikit bergurau.


Wanita itu pun tertawa kecil, "Waduh kalau Pak Yoga ke rumah saya boleh banget tuh, malahan saya seneng."


Ya siapa juga yang tidak senang bisa dekat dengan lelaki sukses itu, Manajer di pabrik besar yang ada di desa mereka. Sepertinya semua orang kaya di desa itu sangat di hargai, sikap mereka juga jadi selalu sungkan.


"Lagian saya itu calon Papanya Daffin, jadi harus sering-sering kesini lah," ucap Yoga percaya diri.


"Maksudnya--"


"Iya itu lah, intinya sekarang saya dan Rania ada hubungan. Kalian juga sudah tahukan kalau dia berpisah dengan Pak Candra? Jadi boleh-boleh saja dong saya deketin dia." Yoga memutuskan blak-blakkan ingin menegaskan saja, agar tidak ada yang salah paham lagi.


"Hm pantesan aja dulu Pak Yoga sering main kesini, ternyata lagi apel ya?" tanya seorang Bapak-Bapak yang baru membuka suara.


"Iya, lebih tepatnya pdkt," sahut Yoga.


"Tapi kok Pak Yoga mau sama neng Rania?"


Pertanyaan itu membuat Yoga langsung melirik sinis Ibu tadi, "Emangnya kenapa? Harusnya saya sama Ibu gitu?" tanyanya agak sinis.


"Hehe bukan gitu juga, Ibu kan sudah nikah. Maksudnya Pak Yoga kan masih single, ganteng, mapan juga. Pasti masih banyak gadis perawan yang mau sama Bapak," ucap Ibu itu.

__ADS_1


Yoga mengedikkan bahunya, "Kayanya saya lebih tertarik sama janda, lebih banyak pengalaman." Ia memang tidak serius menjawab dari tadi, hanya ingin mempermainkan mereka saja yang suka julid.


__ADS_2