
Siangnya seperti rencana Rania, Ia mengajak Neneknya ke sebuah tempat wisata terkenal di Jakarta. Mereka hanya pergi berdua, ada supir yang mengangar, tapi tidak ikut masuk hanya menunggu di mobil. Rania dan Neneknya ingin menghabiskan waktu bersama.
"Bagus ya Ancol itu, Nenek gak nyangka bisa kesini," ucapnya dengan menatap berbinar sekitar. Kebetulan hari itu ada cukup banyak pengunjung di pantai itu.
"Aku juga seneng karena Nenek bisa kesini, apalagi sama aku," sahut Rania sambil tersenyum.
"Kamu pasti sering jalan-jalan ya?"
"Em enggak juga," jawab Rania jujur.
"Apa karena suami kamu itu sibuk?"
"Iya, Mas Candra sibuk banget sampai gak ada waktu untuk jalan berdua." Padahal Rania sebenarnya ingin sekali bisa jalan-jalan dengan suaminya itu.
"Yang sabar ya, punya suami pengusaha katanya memang jarang bisa habisin waktu bersama. "
"Iya Nek." Rania juga selalu berusaha sabar, dengan apapun masalah yang datang kepadanya.
Keduanya lalu berdiri di jembatan itu, menatap indahnya laut yang cerah. Untung saja cahaya matahari tidak terlalu terik, jadi tidak kepanasan. Angin di sana pun cukup sejuk. Bukannya menikmati pemandangan, Rania malah melamun. Banyak sekali yang perempuan itu pikirkan, khususnya tentang masalah rumah tangganya.
"Rania, kok ngelamun?" tanya Neneknya sambil mengusap tangannya, "Kamu baik-baik saja, kan?"
"Hm aku gak papa kok Nek, suka aja ngelamun," jawab Rania sambil berusaha tersenyum.
"Ngelamun memang enak, bisa bikin tenang. Tapi jangan ah, apalagi kamu lagi hamil."
"Iya Nek. Oh iya Nenek tinggal dua hari lagi berarti ya di sini."
"Iya, lusa Nenek kembali ke desa."
Rania lalu menyenderkan kepalanya di bahu Neneknya itu, perbedaan tinggi mereka tidak terlalu jauh, "Aku pengen banget Nenek gak pulang, selamanya aja di sini bareng aku," rengeknya.
"Nenek juga sama, gak mau pisah sama kamu lagi. Tapi Nenek gak bisa juga tinggalin rumah terlalu lama, Nenek lebih nyaman di desa."
"Di desa masih tradisional, beda lagi di kota serba modern." Rania masih berusaha membujuk.
"Ya memang, tapi untuk Nenek yang sudah tua begini lebih suka di desa yang sepi dan masih menyatu dengan alam. Walaupun rumah di desa biasa, tapi Nenek tetap lebih suka di desa."
__ADS_1
"Iya-iya, aku tahu Nenek cinta banget sama rumah pemberian Kakek."
Cukup lama mereka berjalan-jalan, saat Rania mengeluh kakinya pegal, memutuskan untuk pulang. Tetapi sebelum benar-benar pulang, Rania akan mengajak Neneknya itu makan lebih dulu di sebuah restoran.
Sebenarnya Rania cukup gugup masuk ke tempat makan bagus begini, tapi untungnya pernah sekali dengan Candra jadi mengerti bagaimana cara memesan.
"Nenek mau makan sama apa?" tanya Rania.
"Terserah kamu saja, Nenek gak ngerti," jawab Neneknya sambil tersenyum kikuk melihat buku menu. Banyak nama makanan yang aneh dan tidak Ia mengerti.
"Ya sudah biar aku pilihin aja ya." Dan akhirnya mereka memesan menu paketan, agar tidak terlalu pusing memilih juga.
Sambil menunggu keduanya memperhatikan keadaan restoran yang sedang ramai, sepertinya para pekerja kantor sedang makan siang. Setelah pesanan datang, keduanya pun langsung menyantapnya dengan lahap.
"Nenek belum pernah makan di restoran begini, ternyata enak juga ya makanannya," ucap Neneknya yang terlihat senang.
"Memang enak, aku juga suka menu makanan ini, makanya ngajak Nenek kesini."
Nenek Ima menatap cucunya itu lembut, "Melihat kamu yang tidak kesulitan tinggal di Jakarta, Nenek jadi tenang dan gak khawatir," ucapnya.
"Aku juga lagi berusaha biasain Nek," sahut Rania ikut tersenyum. Awalnya memang tidak biasa, tapi setelah beberapa bulan tinggal di sini jadi biasa.
Benarkah? Batin Rania meragukan. Melihat sikapnya yang plin-plan dan sering mempermainkan perasaannya, membuat Rania jadi bimbang sendiri dan merasa tidak mau terlalu mempercayainya lagi.
"Ya semoga saja Nek," gumam Rania di sela makannya.
Sampai sekarang Neneknya tidak tahu permasalahan di rumah tangganya, aktingnya dengan Candra dan dibantu Livia benar-benar bagus. Hanya saja Rania harus tetap hati-hati, karena tidak ada yang tahu masa depan.
Setelah makanan habis, mereka memutuskan langsung pulang. Rasanya sangat melelahkan, tapi juga senang di waktu berdamaan. Rania lalu izin ke kamarnya untuk tidur, sedangkan Nenek Ima sedang di belakang memotongi rumput liar. Wanita paruh baya itu tidak bisa rasanya diam saja bersantai.
"Mbok Nina?"
Nek Ima menoleh mendengar suara seseorang, terlihat seorang wanita dewasa berpenampilan glamor di ambang pintu. Nek Ima pun memutuskan menyimpan gunting rumputnya lalu menghampiri wanita itu.
"Kamu siapa? Apa pembantu baru di sini?" tanya wanita itu sambil menunjuknya.
"Bu-bukan," jawab Nek Ima. Mungkin karena penampilannya terlihat biasa dan kampungan, jadi dianggap begitu.
__ADS_1
"Terus kamu siapa? Dimana juga mbok Nina?"
"Saya Neneknya Rania."
Perlahan tatapan wanita itu yang tadinya biasa saja pun perlahan berubah menjadi tajam, "Jadi kamu Neneknya Rania?" tanyanya memastikan lagi.
"Iya Bu, kalau Ibu sendiri siapa?"
"Saya Mamanya Livia."
"Oh berarti kalau begitu Ibu tirinya nak Candra ya?"
"Hah? Ibu tiri?" tanya Gina bingung sendiri, "Bukanlah!" bantah nya.
"Bukan? Bukannya anda Mamanya nak Livia, nak Livia itu Kakak tirinya nak Candra, kan?"
Gina tersenyum sinis, menduga sesuatu, "Siapa yang cerita begitu? Apa cucu kamu itu?"
"Em iya, tapi--"
"Haduh memang dasar perempuan kampung, berani-beraninya dia buat cerita konyol begitu. Jadi agar dia diakui istri Candra seorang begitu?" tanyanya dengan nada suara tidak ramah.
Nenek Ima mengernyitkan keningnya, "Maaf maksudnya?"
Gina lalu satu langkah mendekati wanita tua itu. Senyumannya sudah menghilang, dengan tatapan mata yang semakin tajam dan merendahkan, "Kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya? Memangnya Candra itu dulu tidak cerita pada kamu sebelum menikahi cucu kamu itu?" tanyanya.
"Cerita apa?"
"Dengar ini baik-baik, saya itu Mama mertuanya Candra," ucap Gina tegas. Dari sana saja, seharusnya wanita tua itu bisa langsung paham.
Untuk beberapa saat Nenek Ima terdiam mencoba mencerna perkataan wanita dewasa yang tidak Ia ketahui namanya itu. Setelah mulai paham, perlahan kedua matanya terbelak. Nek Ima repleks memundurkan langkahnya, dengan tatapan tidak percaya.
"Ti-tidak mungkin," gumamnya pelan.
"Sudah mengerti sekarang?" tanya Gina sambil mendengus kasar.
"Jadi maksudnya Livia itu.. Nak Livia itu-"
__ADS_1
"Iya, dia istrinya Candra. Lebih tepatnya istri pertama Candra. Haduh kamu ini ya, percaya saja sudah di bodoh-bodohi cucu kamu itu." Gina mencebikkan bibirnya, "Enak saja bilang Livia itu Kakak tiri Candra, pasti dia mau jadi satu-satunya Nyonya di sini. Dasar wanita tidak tahu diri!"