Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Season 2-Menemukan Cinta Sejati 1


__ADS_3

Delapan belas tahun kemudian..


Daffin membenarkan tas di bahunya setelah keluar dari mobil. Kedua matanya terlihat berkedip pelan melihat rumah megah di hadapannya. Supir tadi yang mengantarnya lalu memintanya masuk ke rumah.


Entah kenapa Daffin gugup sekali, tapi pemuda itu mencoba menenangkan diri dan tidak terlalu terlihat gugup. Saat masuk ke rumah itu, seseorang langsung menyapanya dengan hangat.


"Akhirnya kamu sampai juga, bagaimana selama perjalanan?" tanya seorang wanita seusia Mamanya, terlihat tetap cantik walau ada sedikit keriput di sekitar matanya.


"Perjalanan berjalan dengan lancar, Mama," jawab Daffin agak memelan di akhir.


Daffin dengan sopan lalu menyalami tangan Livia. Ya wanita itu Mamanya juga kan? Walau bukan Mama kandung, tapi Daffin tetap memanggilnya Mama. Hubungan Daffin dengan keluarga Papa kandungnya cukup baik.


"Dimana Papa?" tanya Daffin sambil memperhatikan sekitar.


"Papa belum pulang dari kantor, paling sebentar lagi. Ayo Mama antar kamu ke kamar," ajak Livia.


Tadinya wanita itu akan membawakan tasnya, tapi langsung Daffin tolak karena Ia pun bisa. Bukan hanya tas gendong yang Daffin bawa, tapi juga koper. Ia mulai hari ini memang akan pindah kesini, ke rumah Papanya di Jakarta.


"Kemarin Mama sudah bersihkan dan siapkan kamar untuk kamu. Gimana? Kamu suka gak?" tanya Livia menunjukan kamar itu dengan bangganya.


Daffin mengangguk pelan, "Aku suka kok, makasih ya Mah sudah di siapin, jadi ngerepotin," ucapnya tidak enak.


"Gak papa lah, Mama kan senang pas dengar kamu mau pindah ke sini. Semoga betah ya Daffin."


"Iya Mah, pasti."


Kenapa juga Daffin tidak betah di sini? Sikap keluarga Papanya sangat baik kepadanya, tidak pernah menyinggung apapun. Walaupun Livia juga hanya Mama tirinya, tapi terasa sekali jika wanita itu menyayanginya.


"Kamu mungkin mau istirahat dulu terus beres-beres ya, nanti pas makan malam Mama panggil kamu ya?" Kata Livia.


"Oh iya Mah, aku emang mau beresin dulu baju," angguk Daffin.


"Mau Mama bantu?" tawarnya.


"Enggak usah, aku bisa kok sendiri," tolak Daffin lembut.


Livia menatap pemuda tampan itu dengan senyuman manisnya. Livia sudah memperlakukan Daffin layaknya anak sendiri, Ia benar-benar menyayangi Daffin.

__ADS_1


Tidak terasa anak yang dulu Ia nanti-nanti kehadirannya dengan Candra sekarang sudah tumbuh besar. Daffin menjadi lelaki yang tampan, tinggi dan memiliki sifat yang baik dan lemah lembut. Sudah bisa dipastikan jika fisik turun dari Candra, sedang sifat dari Rania.


"Ya sudah Mama keluar dulu," pamit Livia lalu keluar kamar.


Setelah ditinggalkan sendirian Daffin pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Dua jam lebih di perjalanan dari Kampung ke Jakarta cukup memakan waktu, tubuhnya sekarang lelah sekali.


"Ah iya aku lupa kabari Mama," gumamnya.


Daffin pun membawa ponselnya di saku celana, mencari nomor Mamanya lalu Ia telepon. Tidak butuh waktu lama panggilan mereka pun tersambung.


"Assalamu'alaikum Mah," ucapnya dengan ceria.


["Waalaikumsalam salam, ada apa anak Mama yang ganteng?"]


Setiap dipuji seperti itu oleh Mamanya selalu membuat Daffin tersipu, rasanya berbeda saja saat mendapat pujian langsung dari Mama kandungnya. Terasa penuh kasing sayangnya.


"Aku sudah sampai di rumah Papa Mah, beberapa menit yang lalu," ucapnya memberitahu.


["Syukurlah kamu sampai dengan selamat, Mama lega dengarnya. Terus di rumah ada siapa aja?"]


"Yang nyambut cuman Mama Livia, Papa katanya belum pulang kerja."


"Iya nanti aku sampain."


Terkadang Daffin ini dibuat bingung sendiri dengan hubungan di antara Mamanya dengan Papa kandungnya. Mereka kan sudah berpisah, tapi hubungan mereka terjalin baik sekali.


Biasanya kan katanya mantan itu tidak berhubungan baik lagi, kadang sampai memusuhi juga. Tetapi Daffin sih senang-senang saja Mamanya itu tidak begitu, karena Ia juga tidak suka dengan yang namanya permusuhan.


["Kamu jangan tidur sekarang, sudah sore pamali. Nanti aja setelah makan malam."]


"Iya Mah, kalau gitu aku mau mandi dulu terus beres-beresin barang. Mama Livia bilang kita bakalan makan malam bareng."


["Iya, sampai nanti."]


Setelah panggilan berakhir dengan berusaha menahan perasaan malasnya, Daffin pun beranjak untuk mandi terlebih dahulu. Nanti baru Ia bereskan baju dan barangnya, untung saja tidak terlalu banyak.


Tok tok!

__ADS_1


Ketukan pintu kamarnya, membuat perhatian Daffin teralih. Ia sudah selesai mandi dan sedang melipat bajunya. Daffin pun memutuskan menghentikan kegiatannya untuk membuka pintu.


"Papa," panggil Daffin sumringah melihat pria itu.


Merasa tidak bisa membendung perasaan senangnya, Daffin kali ini yang lebih dulu memeluk Candra. Terdengar tawa kecil dari Papanya itu, mungkin merasa senang Ia bersikap manis begini.


"Wah kamu kenapa makin tinggi sih? Sekarang sudah lebihin Papa ya." Itulah hal pertama yang Candra katakan.


Daffin meregangkan pelukan mereka, "Hehe iya, terakhir ketemu kita sepantaran ya?"


"Iya, tapi kamu juga selain makin tinggi makin ganteng. Pasti di desa jadi rebutan gadis-gadis kan?" goda Candra.


"Enggak juga," Bantah Daffin malu-malu, padahal kenyataannya Ia di Kampungnya sangat terkenal.


Selain terkenal karena Papanya adalah pengusaha di Pabrik besar itu, juga Mamanya yang cantik. Daffin juga terkenal karena ketampanannya dan sikap ramahnya para semua orang.


"Kapan kamu sampai?" tanya Candra.


"Sekitar jam lima an, pas dateng Papa belum pulang," jawab Daffin.


"Iya, tadinya Papa mau pulang cepat, tapi ada pertemuan penting makanya ngaret. Kamu sudah makan malam belum?"


Daffin menggeleng, "Belum, lagi rapihin baju."


Candra sempat melirik ke arah lemari, terlihat sudah ada beberapa pakaian di dalamnya. Memang putranya yang satu ini sangat rajin. Ternyata perpaduan dirinya dengan Rania sangat sempurna, keduanya bisa menciptakan anak se hebat Daffin.


"Sudah dulu bisa lanjut nanti, ayo kita makan malam dulu. Kamu juga pasti lapar kan?" ajak Candra.


"Hehe iya."


Saat keduanya berjalan bersisian, mereka tidak terlalu terlihat seperti orang tua dan anak. Mungkin karena Candra pun masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang sudah menginjak lima puluh tahun.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo duduk kita makan bersama," ujar Livia melihatnya.


Mereka pun duduk di kursinya masing-masing. Daffin memperhatikan menu makan malam di rumah ini, ya tidak terlalu jauh beda sih dengan di rumahnya di Kampung. Tetapi suasananya lah yang berbeda.


"Gimana kabar Rania dan Yoga di sana? Mereka juga baik-baik aja kan?" tanya Candra di sela kunyahan nya.

__ADS_1


Daffin mengangguk pelan, "Mereka sehat dan baik, oh iya Mama dan Papa juga titip salam katanya."


Candra dan Livia pun langsung menerima titipan itu dengan baik. Ya hubungan mereka benar-benar terjalin dengan baik sampai sekarang, sampai Daffin pun terlihat tidak terlalu penasaran dengan masa lalu kedua orang tuanya itu yang kenapa sampai berpisah.


__ADS_2