Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Bisa Ikut Merasakan


__ADS_3

Sepulangnya dari kantor Candra langsung disambut Omanya di ruang utama. Pria itu terlebih dahulu menyalami tangan wanita paruh baya itu. Tetapi saat akan pergi, Amara malah meminta duduk, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


"Ada apa Oma?"


"Tadi Oma ajak Rania jalan-jalan keluar," cerita Amara.


"Iya lalu?"


"Oma agak sedikit kaget karena banyak tetangga yang tidak mengenal Rania, selain itu juga mereka tidak tahu status Rania yang sebagai istri kamu. Kamu sengaja menyembunyikan ini dari semua orang?"


Candra menelan ludahnya kasar mendengar pertanyaan seperti itu, "Oma aku--"


"Candra, tolong jangan buat Oma kecewa lagi. Kamu sudah terlalu banyak merahasiakan sesuatu, kasihan Rania selalu menjadi korban," sela Amara. Sebagai sesama perempuan, merasa sakit hati saja.


Setelah Amara banyak tahu tentang Rania, Ia yakin jika Candra memang sengaja menyembunyikan Rania agar orang-orang pun tidak tahu statusnya yang sebagai istri kedua itu. Melihat perempuan muda itu, Amara merasa tidak tega saja.


"Aku bukan bermaksud menyembunyikan Rania, kadang aku beri izin dia kalau mau keluar kok," ucap Candra beralasan.


"Iya tapi kamu tidak bilang pada semua orang kalau dia istri kamu juga kan?" tanya Amara.


"Em itu--"


"Kenapa Candra? Kenapa kamu merahasiakan ini? Berarti selama ini Rania di rahasiakan ya?"


Melihat cucunya itu yang malah menunduk seolah membenarkan pertanyaannya, membuat Amara berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak. Ia tidak menyangka cucunya sampai melakukan sejauh ini, banyak sekali yang tidak Ia ketahui.


Amara sebagai satu-satunya orang tua Candra jadi merasa tidak berguna, karena Candra sudah bertindak sejauh itu. Mau bagaimana lagi, tempat tinggal mereka terpisah dan sangat jauh. Amara jadi tidak bisa memperhatikan cucunya itu terus.


"Kamu tidak kasihan pada Rania?" tanya Amara.


"Aku yakin dia juga tidak apa-apa." Saat mengatakannya Candra terlihat tenang.


"Kamu mudah sekali mengatakan itu, hati siapapun tidak ada yang tahu. Tapi Oma yakin, Rania pasti sedih karena seperti tidak dianggap."


Candra menggeleng, "Enggak Oma, aku selalu memperlakukan Rania seperti istri aku sendiri kok," belanya.

__ADS_1


"Memang, tapi orang tidak tahu kalau Rania itu istri kamu," ucap Amara menohok.


Selama ini Rania selalu bersikap seolah baik-baik saja dan menerima semua keputusan Candra, yakin juga jika perempuan itu tidak berani walau hanya sedikit membantah. Rania adalah sosok perempuan lemah lembut dan perasa, tapi sayangnya tidak pernah ada yang mau mengerti dirinya.


"Aku bisa menyelesaikan ini sendiri," ujar Candra.


"Apa maksud kamu?"


"Maaf Oma aku gak bisa cerita lebih ke Oma, tapi Oma tenang saja. Rumah tangga aku pasti akan selalu baik-baik saja." Candra berusaha meyakinkan Omanya itu, jika terlalu banyak bertanya akan membuatnya merasa tertekan dan khawatir membocorkan rahasia itu.


Amara terlihat kembali menghela nafas berat, "Baiklah kalau kamu maunya begitu, Oma hanya titip pesan untuk jangan bersikap gegabah dan egois. Kamu punya dua istri, dan harus adil pada mereka," nasihatnya.


"Iya Oma, aku akan berusaha," gumam Candra tidak yakin.


Padahal pulang dari kantor badan Candra sudah lelah dan letih, tapi saat pulang sudah di ceramahi begitu membuatnya semakin capek. Baru saja akan naik tangga, Candra malah tidak sengaja melihat seseorang yang sedang duduk sendirian di bangku taman.


Itu pasti Rania dan entah kenapa Candra malah memutuskan untuk menyusulnya. Saat langkahnya semakin dekat, Candra malah sempat-sempatnya dibuat terpana akan kecantikan perempuan itu. Saat Candra berdiri di sisi bangku, Rania pun baru menyadari kehadirannya.


"Mas sudah pulang?" tanya Rania memulai obrolan.


"Iya barusan, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Candra balik. Pria itu dengan santainya duduk begitu saja di sebelahnya.


"Sudah sore, Ibu hamil kan jangan di luar rumah."


"Mas takut aku diculik hantu ya?" celetuk Rania bergurau.


Candra tersenyum tipis, "Iya takut, nama hantu yang sering nyulik nya itu siapa sih?"


"Aku juga kurang tahu, tapi hantu yang suka culik anak-anak itu wewe gombel," sahut Rania.


"Berarti nanti kalau sudah punya bayi harus selalu dijagain ya?"


"Iya lah, apalagi pas menjelang maghrib kaya gini. Katanya wangi bayi itu kan kuat banget, jadi bisa narik perhatian para makhluk begitu." Rania sering mendengar cerita begini saat di desa.


Candra dibuat merinding mendengar itu, "Aduh aku jadi khawatir sama bayi kita nanti, semoga aja gak ada kejadian aneh-aneh," ucapnya.

__ADS_1


"Tenang aja, kan aku akan selalu jagain dia," ujar Rania sambil tersenyum lebar.


Candra pun yang mendengarnya ikut tersenyum. Tetapi Ia malah jadi teringat lagi perkataan Omanya tadi, membuat senyumannya pun menghilang. Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Rania, aku mau tanya sesuatu," ucap Candra serius.


"Ya ada apa?"


"Aku pengen kamu jawab jujur, gimana perasaan kamu saat para tetangga banyak yang tidak mengenal kamu? Bahkan status kamu yang sebagai istri aku." Candra sedikit canggung saat menanyakan ini, tapi Ia jangan meninggikan ego.


"Mas mau aku jawab jujur?"


"Iya, katakan saja semuanya."


Rania menundukan kepala sambil memainkan jari tangannya, "Sebenarnya aku sedih, aku ngerasa gak dianggap. Tapi sikap Mas sebagai suami selama ini selalu baik sama aku dan bayi aku, jadi aku bingung apa aku ini dianggap atau tidak?"


"Maaf Rania." Hanya itu saja yang bisa Candra katakan, merasa bingung harus bilang apa.


"Apa Mas Candra malu punya istri kaya aku?" tanya Rania. Mungkin karena dirinya dari kampung dan hanya orang biasa, jadi bisa saja Candra tidak mau membuat citranya turun karena telah mengenalkannya.


"Astaga kenapa kamu berpikir begitu? Tidak kok, aku tidak malu punya istri kaya kamu," bantah Candra cepat.


Tanpa bisa ditahan Rania melengkungkan senyuman tipisnya, "Syukurlah kalau begitu," gumamnya.


Harus apalagi yang Candra katakan? Merasa belum puas memberikan alasan kepada Rania dan meyakinkan perempuan itu, melihat wajah murungnya selalu membuat Candra jadi kepikiran. Tetapi Candra juga tidak bisa menjelaskan lebih, ini rahasianya.


"Aku lupa mau bilang sesuatu, besok aku berangkat keluar kota ada kerjaan. Aku gak akan lama, mungkin lusanya baru pulang," ucap Candra memberitahu.


"Mas pergi sama siapa?" tanya Rania. Mungkin saja Livia ikut.


"Sama temen kerja."


Rania memganggukan kepala, "Hati-hati ya Mas," ucapnya.


"Iya, kamu juga selama aku tidak ada harus jaga diri. Jangan lupa makan dan minum vitamin, mengerti?"

__ADS_1


"Iya."


Melihat langit yang sudah gelap, Candra mengajak istrinya itu untuk masuk. Cukup lama juga mereka mengobrol, walau begitu sekarang tidak terasa canggung. Setelah mengantar Rania ke kamarnya, Candra pun naik ke lantai dua.


__ADS_2