Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 19


__ADS_3

Sesampainya di Kampus, Daffin dengan sigap turun terlebih dahulu untuk membantu Cynthia. Elisa dari tadi hanya diam melirik nya, tapi ekspresi wajahnya terlihat cemberut.


Daffin lalu berjalan sambil mendorong kursi roda yang diduduki Cynthia, sambil bertanya dimana kah kelas perempuan itu hari ini. Elisa juga ikut di sebelahnya, perempuan itu tidak mau ditinggalkan.


"Kamu gak mau tanya temen kamu dimana kelas hari ini?" tanya Daffin tertuju pada Cynthia.


"Em gue gak punya temen," jawab Cynthia pelan.


"Hah masa gak punya temen?" Daffin terkejut sendiri mendengar itu.


"Belum ada yang deket sih, soalnya waktu itu juga baru beberapa hari masuk kelas dan langsung izin cuti karena kecelakaan," sahut Cynthia menjelaskan lagi.


"Ya sudah biar aku bantu cari ya," Ucap Daffin berbaik hati.


Kebetulan ada seorang dosen yang lewat, dan Daffin pun langsung menanyakan dimana kelas jurusan Cynthia. Katanya ada di lantai dua bagian pojok, dan sebentar lagi kelas akan dimulai.


"Tapi liftnya lagi rusak dari kemarin, jadi kayanya kamu harus bantu teman kamu ini ke atas," kata si dosen itu.


"Iya Pak, terima kasih," angguk Daffin.


"Sama-sama, Bapak permisi dulu. " Dosen itu pun pergi dari sana.


Daffin lalu mencari tangga menuju lantai dua itu, ternyata tidak sulit juga menemukan. Cukup tinggi dan pasti akan memakan tenaga karena Daffin harus menggendong Cynthia.


"Sorry ya ngerepotin," ucap Cynthia pelan, menurunkan gengsinya.


"Iya emang, kasihan Daffin kerepotan ngurusin kamu dari tadi!" celetuk Elisa yang baru membuka suara. Rasanya dadanya lega sendiri setelah mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Syuut Elisa jangan begitu, aku gak masalah kok," tegur Daffin pada sahabatnya.


"Ck tapi gara-gara dia waktu kamu jadi ke buru-buru begini, kamu juga kan punya urusan lain Daffin. Makanya harus punya temen, biar bisa bantuin ke mana-mana," sahut Elisa belum puas.


Daffin menggelengkan kepala melihat sikap Elisa yang emosional, Ia pun memutuskan mengabaikan dan mulai menggendong Cynthia ala bridal naik ke lantai dua.

__ADS_1


Daffin hanya tidak mau Cynthia ini menjadi tersinggung, padahal ini juga kan sudah menjadi tanggung jawab Daffin untuk menjaganya. Bisa jadi Elisa itu sedang cemburu.


"Daffin, kalau misal gue terus ngerepotin mending--"


"Enggak kok, aku ngelakuin ini karena ngerasa ini tugas aku. Jangan masukan omongan Elisa ke hati, aku juga minta maaf sama sikap dia," sela Daffin sambil menatap Cynthia di gendongannya.


"Kayanya dia cemburu deh, gue jadi gak yakin kalau dia gak ada perasaan sama lo," kata Cynthia.


"Sudah ah jangan bahas itu lagi, sekarang aku anterin kamu ke kelas dulu," ucap Daffin mengalihkan obrolan.


Daffin sadar dirinya dan Cynthia menjadi pusat perhatian menuju lantai dua, banyak mahasiswa yang lewat melirik ke arah mereka. Mungkin mereka terkejut melihat adegan itu.


Kalau saja mereka tahu Daffin bukan sedang cari kesempatan atau mesra-mesraan di area Kampus, tapi Daffin sedang membantu Cynthia yang lumpuh ini ke kelasnya dengan selamat.


"Nanti kalau kelasnya udah selesai jangan dulu ke mana-mana, aku bakal kesini lagi jemput kamu," ucap Daffin setelah berhasil mengantar Cynthia duduk di bangku di kelasnya.


"Makasih ya Daffin, pasti berat ya?" tanya Cynthia sedikit malu.


Mungkin setiap hari inilah tugas yang harus Daffin lakukan. Awalnya memang pasti tidak akan terbiasa, tapi jika dilakukan dengan ikhlas sudah pasti semua akan terasa ringan.


Daffin terlebih dahulu turun lagi untuk membawakan kursi roda milik Cynthia di bawah. Ia tidak tahu Elisa dimana karena sudah tidak ada di tempatnya, tapi Daffin berusaha tidak peduli dulu.


"Aku mau ke kelas sekarang, aku tinggal ya," pamit Daffin pada Cynthia.


"Iya sekali lagi makasih," ucap Cynthia. Sekarang Ia sudah tidak malu lagi, merasa dirinya memang merepotkan orang lain.


"Jangan sungkan, belajar yang tekun ya, dah!" Daffin pergi dari sana sambil melambaikan tangan.


Setelah kepergian pria itu, Cynthia tidak bisa menghentikan senyuman di bibirnya. Sikap Daffin yang menjaganya dengan baik membuat Cynthia merasa senang dan dihargai.


"Wah Cynthia itu tadi siapa? Pacar kamu ya?" tanya seorang perempuan yang kebetulan duduk di sebelahnya.


"Hah? Em bukan kok," jawab Cynthia sambil bersemu merah.

__ADS_1


"Masa ah? Orang dia kelihatan perhatian dan khawatir gitu. Beruntung banget punya pacar baik dan ganteng gitu," kata perempuan lain yang ikut memperhatikan.


Cynthia hanya tersenyum sipu sambil mengusap tengkuknya merasa bingung harus bereaksi bagaimana. Ya yang di lihat orang lain memang seperti itu, tapi nyatanya Ia dan Daffin kan tidak ada hubungan asmara.


Beralih pada Daffin, pria itu baru sampai di kelasnya. Sayangnya dosen sudah masuk lebih dulu, Daffin lalu meminta maaf karena terlambat. Untungnya dosen masih berbaik hati mempersilahkan nya ikut pelajaran.


"Makanya jangan sok perhatian begitu sama orang lain, sampai gak peduliin diri sendiri," kata Elisa di sebelahnya.


Daffin menoleh, "Kamu juga kalau bantuin aku mungkin aku gak akan telat masuk kelas," ucap Daffin.


"Bantuin gimana? Masa aku yang gendong dia?" tanya Elisa sinis.


"Bukan gitu, mungkin kalau kamu bantuin aku bawain kursi rodanya ke atas mungkin bisa lebih cepat," jawab Daffin.


Kedua mata Elisa sempat melotot, lalu bahunya bergedik, "Masa aku cewek bawa barang berat gitu naik ke lantai dua, gak akan kebawa juga kali," sahutnya ogah-ogahan.


"Ya sudah deh terserah kamu," gumam Daffin.


Mungkin memang benar Elisa tidak akan kuat juga membawakan kursi roda ke lantai dua. Entah memang berat atau bisa saja malas membantu karena hubungannya dengan Cynthia kan tidak akur.


Tidak apalah Daffin yang mengerjakan sendiri, toh yang membuat ulah kan dirinya dan harus menebusnya juga sendiri. Tetapi jika Elisa sahabatnya, bukannya seharusnya juga ikut membantunya ya? Walau sedikit.


"Yang duduk di sebelah sana kalau mau mengobrol silahkan di luar," ujar dosen itu sambil menunjuk salah satu bangku di tengah.


Daffin dan Elisa langsung berdehem pelan merasa malu sendiri, bangku mereka lah yang ditunjuk. Padahal sudah mengobrol dengan suara kecil, tapi ternyata tetap terdengar.


"Oke bisa kita mulai sekarang kelasnya?" tanya dosen itu pada semua.


"Bisa Pak," jawab semua serentak.


"Kalau begitu silahkan siap alat tulis kalian, catat pelajaran yang saya sampaikan, yang penting saja ya," katanya.


Daffin pun mengeluarkan beberapa alat tulisnya yang di butuhkan. Ia dan Elisa setelah itu tidak mengobrol lagi, seperti seseorang yang sedang marahan. Kenapa persahabatan mereka jadi seperti ini ya?

__ADS_1


__ADS_2