Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 20


__ADS_3

"Mau kemana lagi kamu?" tanya Elisa saat melihat Daffin beranjak dari duduknya.


"Kamu gak lapar? Gak mau makan siang?" tanya Daffin balik.


"Cuman kita berdua kan?" Elisa harus memastikan lebih dahulu.


Daffin menggeleng pelan, "Aku mau ke kelas Cynthia dulu, mungkin dia juga mau makan siang," jawabnya pelan.


Lagi-lagi nama itu yang disebut Daffin, membuat Elisa merasa muak. Kenapa selalu perempuan yang satu itu yang terus Daffin khawatirkan dan perhatikan?


"Gak usah, kamu pergi sama dia aja," ucap Elisa ketus.


Daffin memperhatikan Elisa yang beranjak lalu menghampiri bangku Satria. Sepertinya Elisa mengajak pria itu makan bersama, Satria sempat melirik nya tapi karena Elisa terus memaksa akhirnya mau juga.


Elisa pun terlihat sumringah saat Satria mau pergi makan berdua dengannya, bahkan sempat melirik Daffin dengan sengaja. Maksudnya apa? Kedua orang itu pun pergi bersama.


Daffin berusaha tidak terlalu mempedulikan, pria itu tetap melanjutkan tujuan utamanya yaitu pergi ke kelas Cynthia. Daffin hanya khawatir perempuan itu masih di sana, tidak makan siang.


"Cynthia," panggil Daffin agak keras sambil memasuki kelas yang kosong itu.


Cynthia yang tadinya sedang bermain ponsel mengangkat kepalanya, "Loh Daffin, ngapain kesini?" tanyanya.


"Jemput kamu lah, kan tadi pagi aku udah bilang bakal kesini ajak kamu makan siang," jawab Daffin sambil tersenyum.


"Dasar, padahal gue gak papa kok," ucap Cynthia sambil tersenyum kecil. Berusaha menahan ekspresi bahagianya mendapat perhatian seperti itu.


Daffin kembali memperhatikan kelas itu, benar-benar tidak ada siapapun kecuali Cynthia seorang. Apa teman-teman kelasnya tidak ada yang mengajak Cynthia ya?


Daffin jadi ingat perempuan itu yang bilang tidak punya teman. Jika pun benar sampai diabaikan, sungguh tidak punya perasaan sekali. Daffin pun jadi semakin ingin terus menemaninya.


"Yuk ke kantin sekarang," ajak Daffin sambil mendekat.


"Emangnya gak papa nih naik turun tangga? Gue kan berat," tanya Cynthia.


"Bukan masalah, lagian aku masih kuat kok," sahur Daffin percaya diri.

__ADS_1


"Ya udah deh, makasih ya."


Daffin juga masih sedikit terkejut dengan perubahan Cynthia, merasa sikapnya dari awal bertemu dengan sekarang sudah agak berbeda. Daffin senang dengan Cynthia yang sekarang.


Saat awal-awal bertemu kan perempuan itu sangat dingin dan ketus kepadanya, tapi sekarang sudah tidak gengsi mengucapkan terima kasih padanya. Daffin semakin yakin Cynthia tidak seburuk itu.


"Oh iya hampir lupa, terus dimana si cerewet? Biasanya kan dia selalu ngintilin lo ke mana-mana," tanya Cynthia yang berada di pangkuannya.


"Elisa udah ke kantin duluan, dia ngajak Satria," Jawab Daffin fokus menatap jalan.


"Di depan lo? Wah kayanya dia sengaja tuh mau manas-manasin," celetuk Cynthia.


"Maksudnya gimana?"


Cynthia lalu menjelaskan jika mungkin saja Elisa terlalu cemburu karena Daffin akhir-akhir ini lebih banyak waktu bersamanya, jadi Elisa pun merasa tidak mau kalah dan mencari pelampiasan.


"Haha kamu ada-ada saja, tapi kan waktu itu aku udah jelasin kalau Elisa itu emang ada perasaan sama Satria," ucap Daffin sambil terkekeh kecil, merasa lucu saat Cynthia mengatakan Satria hanyalah pelampiasan Elisa.


"Tapi bisa aja kan? Ya emang gak ada yang tahu sih, tapi kayanya dia juga ada maksud itu," kata Cynthia ragu sendiri.


Entahlah Daffin sendiri bingung dengan Elisa itu, tapi Daffin merasa Elisa tidak ada perasaan asmara kepadanya. Sekarang Daffin sudah tidak mau terlalu memikirkan, masih ada banyak hal penting yang bisa Ia kerjakan.


"Eh itu Daffin, Daffin ayo duduk di sini!" teriak Satria dari salah satu meja sambil melambaikan tangan.


Daffin pun memutuskan menghampiri sambil tetap mendorong kursi roda Cynthia. Untunglah ada Satria, karena meja lain sudah penuh. Di sana juga ada Elisa, tapi sahabanya yang satu itu terlihat acuh.


"Kalian sudah pesan makanannya?" tanya Daffin pada dua orang itu.


"Sudah, paling sebentar lagi juga datang. Sudah sana kamu juga pesen dulu, ini sekalian sama dia," ucap Satria sambil melirik Cynthia.


Daffin lalu menatap Cynthia dan menanyakan apa yang ingin dimakannya, tapi ternyata Cynthia tidak mau yang aneh-aneh dan disamakan saja dengan Daffin.


Pria itu lalu beranjak pergi untuk memesan makanan mereka. Meninggalkan Cynthia bersama Satria dan Elisa. Daffin yakin tidak akan ada keributan, karena Elisa tidak akan berani jika di hadapan Satria.


"Jadi kalian itu ada hubungan apa? Pacaran ya?" tanya Satria langsung mengungkapkan.

__ADS_1


Daffin yang sudah kembali dan baru saja duduk di kursinya tentu saja terkejut mendengar itu, "Enggak kok, aku dan Cynthia gak pacaran," bantah nya.


"Eh tapi kalian berdua udah terkenal di Kampus, katanya tadi pagi ada cowok ganteng gendong ceweknya ke lantai atas," celetuk Satria belum berhenti menggoda.


"Masa sih?" tanya Daffin terkejut sendiri, sampai seheboh itu?


"Haha iya lah, makanya sekarang kalian jadi terkenal," kekeh Satria.


Daffin hanta tersenyum kecil lalu melirik Cynthia, untungnya perempuan itu pun tidak tersinggung digosipkan begitu bersamanya. Daffin lalu melirik Elisa, tapi ekspresi wajah sahabatnya itu terlihat berbeda.


"Oh iya Cynthia aku hampir lupa, kenalin dia Satria," ucap Daffin yang baru mengenalkan.


Cynthia dan Satria pun saling bersalaman, keduanya terlihat dengan mudah langsung bisa akrab. Apalagi tadi kan Satria sempat menggodanya dengan Daffin, padahal baru juga kenal.


"Aduh!" pekik Elisa.


Satria yang kebetulan duduk di sebelah perempuan itu langsung membenarkan lagi posisi gelas yang sepertinya tumpah  oleh Elisa. Ia juga ikut membersihkan tumpahan jus di meja.


"Maaf ya Satria, apa ada yang kena kamu?" tanya Elisa.


"Gak ada kok, kamu hati-hati," ucap Satria.


"Iya ini juga sudah, lain kali gak bakal ceroboh begini. Tapi jusnya kayanya tumpah sampai celana aku, gimana nih?" tanya Elisa sambil melirik bagian bawahnya.


Baru saja Daffin membuka suara untuk menolong Elisa, tapi Satria lebih dulu yang mengajak perempuan itu untuk pergi ke toilet membersihkan diri. Daffin pun kembali mengatupkan bibir memilih diam.


"Kita pergi dulu ya Daffin, Cynthia," pamit Satria.


"Oh iya," angguk Cynthia.


Setelah kepergian dua orang itu, Cynthia sempat melirik Daffin yang terlihat murung. Mungkin cemburu dan kalah cepat dari Satria untuk menolong Elisa.


"Sorry ya gara-gara gue, lo jadi gak ada waktu lagi sama dia," ucap Cynthia pelan.


"Hah? Gak papa kok, santai aja," ujar Daffin sambil tersenyum canggung.

__ADS_1


Walaupun begitu, tapi Cynthia yakin Daffin tetap sedih karena tidak ada waktu banyak sekarang dengan perempuan yang ditaksirnya itu. Parahnya Elisa malah akan makin dekat dengan lelaki lain.


Apakah Cynthia ini memang merepotkan ya?


__ADS_2